Rabu, 27 Agustus 2025

q u o t e s



Dalam diam aku mencintaimu, dalam doa aku menjagamu.”


 “Cinta sejati adalah ketika kebahagiaan orang yang kau cintai lebih penting daripada kebahagiaanmu sendiri.”


 “Aku tidak mencari yang sempurna, cukup dia yang tulus dan mau berjalan bersama.”


“Rindu adalah bahasa cinta yang tak pernah butuh kata.”


 “Cinta itu sederhana, hadirnya membuatmu tenang, hilangnya membuatmu kehilangan arah.”


"Aku jatuh cinta bukan pada wajahmu,
tapi pada caramu membuatku merasa berarti,
meski aku hanya singgah di hatimu sebagai rahasia."


---

💌 
"Cinta itu bukan soal memiliki,
tapi soal tetap mendoakan dalam sunyi."


Quotes  Wanita Berjilbab & Pengagum Rahasia

 “Di balik jilbabmu, kutemukan ketenangan yang tak mampu kutulis dengan kata.”


“Aku mencintaimu dalam diam, karena suaramu saja sudah cukup membuat hatiku bergetar.”

 “Hijabmu bukan sekadar kain penutup, tapi dinding lembut yang membuatku menjaga tatapan.”

 “Aku pengagum rahasiamu, yang selalu berdoa agar langkahmu dijaga oleh langit.”

 “Bahkan saat dunia tak tahu, aku tetap mencintaimu dengan cara yang kau tak perlu tahu.”


“Indahmu bukan pada rupa, tapi pada tutur dan rendah hatimu yang kusembunyikan dalam doa.”


“Andai boleh, ingin kusebut namamu dalam puisi; tapi biarlah hanya Tuhan yang tahu.”

 “Jilbabmu sederhana, tapi membuatku segan, membuat cintaku lebih ingin kusembunyikan.”


 “Aku tak berani mendekat, hanya berani menitipkan rindu pada doa yang tak bersuara.”


“Mencintaimu dalam diam, karena aku tahu, diam pun bisa setia.”




🌸 Pengagum Rahasia 🌸

Aku melihatmu,
dari balik jendela kelas yang berdebu,
kau duduk tenang, jilbabmu sederhana,
tapi mampu meruntuhkan egoku tanpa kata.

Ada cahaya yang jatuh di wajahmu,
bukan dari matahari,
melainkan dari hatimu yang tulus,
yang tak pernah sengaja kau tunjukkan,
namun tetap mampu kurasakan.

Aku hanyalah bayangan,
pengagum yang tak bernama,
tak berani menyapa,
tak sanggup meminta apa-apa.

Sebab bagiku,
menyebut namamu dalam doa saja sudah cukup,
Melihat sekejab senyummu sudah cukup
Dan sesekali menyapamu lebih dari cukup
meski kau tak pernah tahu,
meski aku hanya rahasia yang singgah sebentar di langit malam.

Jilbabmu sederhana,
tapi di sanalah aku belajar arti menjaga jarak,
bahwa mencintai tak selalu harus menggenggam,
kadang cukup dengan menjaga agar kau tetap suci dalam langkah.

Dan bila suatu hari takdir mempertemukan,
aku tak meminta kau menoleh,
cukup kau tahu,
ada seseorang yang pernah mencintaimu,
dengan caranya yang paling sunyi,
dan paling setia.

Jumat, 22 Agustus 2025

cerpen kemah




Malam yang Tak Pernah Usai
Suatu kisah di bumi perkemahan
Suara gitar mengalun pelan di tengah lingkaran api unggun. Beberapa anggota DKA bergantian menyanyikan lagu pramuka, diselingi pantun dan candaan yang membuat tawa pecah ke segala arah. Malam itu penuh riuh, tapi tidak ada yang benar-benar mendengar detak jantung Joe yang semakin cepat.

Di seberang lingkaran, Wida duduk bersisian dengan widji. Wajahnya disinari cahaya api yang berpendar, membuat jilbab sederhana yang ia kenakan terlihat lebih lembut dari biasanya. Sesekali ia tertawa kecil, menutup mulutnya dengan tangan, dan setiap kali itu terjadi, dada Joe seperti terbakar.

"Giliranmu, Joe!" teriak Sulis, menyodorkan secarik kertas puisi yang sudah disiapkan.

Joe mengangguk. Ia berdiri, mencoba terlihat santai meski lututnya sedikit gemetar. Dengan suara yang tak begitu lantang, ia membaca bait demi bait puisi yang ia tulis siang tadi. Kata-kata itu melayang ke udara malam, dan entah bagaimana, ia merasa hanya Wida yang benar-benar mendengarnya.

Ketika semua kembali larut dalam lagu dan tawa, Joe pelan-pelan bangkit. Ia berjalan ke sisi lapangan, pura-pura ingin mengambil air minum. Saat menoleh, matanya bertemu dengan Wida. Ada jeda singkat, lalu gadis itu ikut bangkit, menyusul dengan alasan yang sama.

Mereka bertemu di pinggir bumi perkemahan, di dekat pohon pinus yang menjulang diam. Cahaya api unggun hanya terlihat samar dari sana, cukup jauh agar tidak ada yang memperhatikan.

“Hm… puisinya bagus,” ucap Wida, suaranya lirih, seolah takut merusak kesunyian.

Joe menelan ludah. “Kamu dengar?”

“Tentu saja. Aku suka… sederhana, tapi dalam.”

Hening sebentar. Angin malam membawa dingin yang menusuk, tapi entah mengapa Joe merasa hangat. Ia ingin berkata banyak hal—tentang betapa setiap kata puisi itu lahir karena dirinya selalu menatap Wida dari jauh. Tapi lidahnya kelu.

Yang akhirnya keluar hanyalah, “Terima kasih… sudah mendengarkan.”

Wida tersenyum. Senyum itu membuat malam berhenti sejenak.

Tak ada janji yang terucap, tak ada keberanian Joe untuk mengaku lebih. Tapi bagi keduanya, percakapan singkat itu sudah cukup. Itu rahasia kecil yang hanya mereka tahu, tersimpan rapi di bawah langit penuh bintang.

Ketika mereka kembali ke lingkaran api unggun, tak seorang pun sadar bahwa malam itu telah mencatat sebuah kisah—kisah kecil yang diam-diam akan menjadi luka manis di masa depan.


: Renungan Malam

Api unggun padam, hanya menyisakan bara merah yang sesekali berdesis diterpa angin. Semua anggota ambalan duduk melingkar, hening. Malam itu adalah saat renungan, momen paling sakral di setiap kegiatan perkemahan.

Di depan, Kak Pembina bercerita pelan tentang arti perjuangan, persaudaraan, dan pengorbanan. Suaranya berat, tenang, membuat sebagian adik-adik ambalan mulai tertunduk, bahkan ada yang menangis diam-diam.

Joe duduk di barisan pengurus DKA. Sisi kanannya ada Ahmad, sisi kirinya… Wida. Betapa malam itu terasa berat baginya, karena jarak yang hanya beberapa jengkal justru terasa sejauh berpuluh langkah. Ia bisa mendengar helaan napas Wida, bisa mencuri pandang dari ekor mata, tapi tidak bisa menoleh. Tidak boleh.

Karena di momen renungan ini, semua orang seharusnya larut dalam hening.

Namun bagi Joe, hening justru jadi ujian. Setiap kata pembina seakan menohok hatinya: tentang keberanian, tentang kejujuran, tentang rasa yang kadang harus dipendam demi tanggung jawab.

Sementara itu, Wida duduk diam menunduk. Jemarinya meremas ujung syalnya. Ada sesuatu dalam suaranya tadi ketika menyapa Joe di pinggir bumi perkemahan—sesuatu yang tidak bisa ia hilangkan dari pikirannya. Tapi sebagai bagian DKA, ia tahu ia harus menahan diri. Ia tidak boleh larut terlalu jauh.

Seusai renungan, semua peserta diarahkan untuk kembali ke tenda masing-masing. Beberapa masih terlihat menyeka air mata. DKA bertugas memastikan adik-adik masuk tenda dengan tertib.

Joe berjalan beriringan dengan Ahmad, sesekali menepuk bahu adik kelas yang tampak lesu. Dari jauh, ia melihat Wida sedang menenangkan dua siswi yang terisak, menepuk punggung mereka dengan lembut. Pemandangan itu kembali menusuk dada Joe—betapa wajar, betapa sederhana, tapi juga betapa mustahil baginya untuk mengaku.

Saat semua mulai reda, DKA berkumpul sebentar di bawah pohon pinus. Obrolan ringan mewarnai malam, sebelum akhirnya mereka pun bubar menuju tenda khusus pengurus.

Joe sempat melirik Wida, dan—tanpa direncanakan—mata mereka bertemu. Tak ada kata yang terucap, tapi ada semacam isyarat di sana: bahwa malam renungan itu telah menyimpan rahasia lain, yang hanya mereka berdua mengerti.

Bara yang Menyimpan Rahasia

Malam semakin larut. Bara api unggun yang tersisa berpendar merah, seakan enggan benar-benar mati. Suara jangkrik mengisi kesunyian, sementara kabut tipis turun dari perbukitan, membalut bumi perkemahan dengan dingin yang menggigit.

Di lingkaran yang kini sepi, hanya tersisa beberapa orang—Joe, Ratno,Ahmad, Zulis, dan Phur. Mereka adalah tim keamanan malam itu, bagian dari DKA yang harus berjaga hingga dini hari.

“Dingin juga ya…” gumam Ahmad sambil merapatkan jaket pramukanya. Ia duduk bersila, menatap bara api yang sesekali berdesis.

“Kalau dingin, push up aja, Mad. Biar hangat,” celetuk Zulis, membuat yang lain tertawa pelan, menahan suara agar tidak membangunkan adik-adik yang sudah tertidur di tenda.

Namun tawa itu cepat reda. Malam memang punya cara sendiri untuk menundukkan semua suara. Akhirnya mereka hanya saling bercerita pelan, dari hal remeh sampai candaan yang tak sempat diucapkan saat ramai.

Joe duduk sedikit melamun, menatap api yang meredup. Dari sudut matanya, ia bisa melihat Wida sedang berbincang dengan Wati. Sesekali cahaya bara menyentuh wajahnya, menampilkan siluet lembut yang membuat Joe harus menunduk cepat-cepat. Ia takut ketahuan terlalu lama menatap.

“Eh, Joe, giliran kamu nanti keliling pos jam dua, ya,” ujar ratno, memecah lamunannya.

Joe tersenyum dan mengangguk. “ok Siap.”

Sementara itu, waktu berjalan pelan. Sesekali suara angin menggoyangkan daun pinus, menambah dingin yang semakin menusuk. wida, Wulan,widji berjalan ikut nimbrung sebentar di bara api unggun. Hanya ada bara api di antara mereka. Hening yang terjaga membuat setiap detik terasa panjang.

Saat Joe berjalan mengumpulkan dedaunan kering sampai di dekat Wida.
“Masih kepikiran renungan tadi?” suara Wida tiba-tiba terdengar, lirih, seakan hanya ditujukan untuk Joe.

Joe terdiam sesaat, lalu menjawab pelan, “ya bisa jadi, kayaknya malam ini banyak yang bakal diingat orang, termasuk aku.”

Wida mengangguk samar. “Aku juga.”

Tak ada kata cinta, tak ada janji manis. Hanya percakapan pendek yang hampir tenggelam oleh suara jangkrik. Tapi bagi Joe, kalimat sederhana itu lebih berharga daripada seribu nyanyian api unggun.

Bara api kian padam, hanya menyisakan cahaya samar yang nyaris hilang. Namun justru di sana, diam-diam tersimpan percikan lain—yang tak pernah benar-benar padam di hati mereka.

Patroli Tengah Malam

Jarum jam di tangannya menunjukkan pukul dua lewat sedikit. Suara jangkrik makin nyaring, dan hawa dingin kian menusuk tulang. Joe menarik napas panjang, merapikan jaket parasutnya, lalu berdiri dari lingkaran bara api yang hampir padam.

“Giliranmu, Jo,” bisik Ahmad setengah mengantuk, masih berselimut sarung di dekat api.

Joe berdiri “ Oke.., aku keliling sebentar.”

Dengan senter kecil di tangannya, ia berjalan menyusuri jalur tenda. Cahaya lampu petromaks yang tergantung di beberapa titik sudah meredup, menyisakan bayangan tenda-tenda yang tampak seperti gundukan sunyi. Sesekali ia mendengar suara helaan napas teratur dari dalam—para adik ambalan yang lelap, tak tahu ada sepasang mata remaja yang penuh resah tengah berjaga di luar.

Di dekat pohon pinus, langkahnya terhenti. Ada seseorang berdiri, memeluk kedua lengannya sendiri. Joe sempat terkejut, lalu cahaya senter membias ke wajah itu.

“Wida?” suaranya tercekat.

Gadis itu menoleh, tersenyum samar. “Iya. Aku nggak bisa tidur… jadi sekalian nemenin piket.”

Joe berusaha menahan debar dadanya. Ia menunduk, lalu tersenyum kecil. “Harusnya istirahat. Besok kan padat.”

“Justru itu,” jawab Wida pelan, “aku pengen lihat malamnya dulu… siapa tahu nggak bisa aku rasain lagi.”

Hening. Hanya ada desir angin yang menggoyang dedaunan. Joe berdiri canggung, sementara Wida menatap langit yang penuh bintang.

“Bagus ya,” katanya lirih, “malamnya tenang… kayak semua rahasia bisa dititipin di langit.”

Joe ikut menatap ke atas. “Iya… kadang langit jadi saksi hal-hal yang nggak bisa kita omongin ke siapa-siapa.”

Wida menoleh, seakan ingin memastikan arti kata-katanya. Tapi Joe buru-buru memalingkan wajah, pura-pura sibuk menyorot tanah dengan senter. Ia takut sorot matanya membocorkan sesuatu yang selama ini disimpan rapat.

Mereka berjalan berdua, menyusuri jalur di antara tenda. Tak banyak bicara, hanya langkah yang beriringan pelan. Sesekali Wida tersenyum kecil, dan Joe tahu, senyum itu sudah cukup untuk membuat malam terasa hangat, meski udara begitu dingin.

Di dekat ujung lapangan, mereka berhenti. Joe mematikan senter sebentar, membiarkan mata mereka menyesuaikan diri dengan cahaya bintang. Sunyi sekali, hingga suara jantungnya sendiri terdengar lebih keras dari biasanya.

“Joe…” suara Wida nyaris berbisik. “Makasih ya… udah berani nulis puisi malam itu. Aku ngerti, meskipun kamu nggak bilang siapa yang sebenarnya kamu maksud.”

Joe tercekat. Ia ingin menjawab, ingin mengaku, ingin menyebut namanya saat itu juga. Tapi kata-kata terhenti di tenggorokan. Yang akhirnya keluar hanya, “Aku cuma… pengen ada yang dengar.”

Wida tersenyum lagi, senyum yang samar tapi menenangkan. “Dan aku dengar.”

Sejenak, waktu berhenti. Hanya ada mereka berdua, malam, dan rahasia yang menggantung di udara.

Lalu Wida menoleh ke arah tenda. “Ayo balik, udah dingin banget. Nanti dikira kita malah keluyuran.”

Joe mengangguk pelan. Mereka berjalan kembali, meninggalkan pohon pinus, meninggalkan percakapan yang terasa singkat tapi takkan pernah benar-benar hilang dari ingatan.

Pagi yang Menggoda Rahasia

Matahari muncul perlahan, menyingkap kabut tipis yang semalam membungkus bumi perkemahan. Suara adzan subuh sudah lama lewat, kini yang terdengar hanya hiruk-pikuk adik-adik ambalan yang mulai menggulung matras, merapikan tenda, dan sibuk mencari barang-barang yang tercecer.

Joe berdiri di dekat tiang bendera, mengecek catatan kegiatan terakhir. Sesekali ia menegur adik kelas yang malas-malasan. Wajahnya tampak serius, tapi di dalam hatinya, masih ada sisa malam tadi—percakapan singkat bersama Wida di bawah pinus.

Wida lewat sambil membawa termos besar untuk membagi teh hangat. Jilbabnya agak kusut karena begadang, tapi justru membuat wajahnya terlihat lebih alami. Joe tanpa sadar menatap beberapa detik terlalu lama.

“Woy, Jo!” suara tiba-tiba mengejutkan dari belakang. Phur sudah berdiri sambil menyeringai lebar. “Kalau liat teh sampai segitunya, mending sekalian bilang haus.”

Ahmad yang duduk di akar pohon tertawa keras. “Haus apa rindu, Mad?” katanya menimpali, disambut tawa yang ditahan-tahan oleh Zulis.

Joe langsung gelagapan. “Heh, kalian ini ngawur… aku cuma lihat jalannya aja, takut jatuh bawa termos segede gitu.”

“Alasannya mulus banget, kayak jalan aspal,” celetuk Zulis sambil menepuk bahu Joe.

Sementara itu, Wida yang mendengar celetukan itu hanya tersenyum samar. Ia pura-pura sibuk menuang teh ke gelas-gelas plastik, tapi pipinya sedikit merona.

Sulis ikut menimpali dengan suara sengau, menirukan gaya pembina, “Ingat ya, adik-adik… DKA harus sigap, tapi juga harus kompak pasangan tim-nya.”

Tawa pecah lagi. Joe menunduk, menahan senyum, mencoba tampak tak terganggu. Tapi di dadanya, perasaan itu justru makin bergejolak.

Di tengah hiruk-pikuk penutupan, di antara celetukan yang menggoda, Joe tahu satu hal: rahasia kecil semalam ternyata tak serapat yang ia kira. Ada mata-mata usil yang memperhatikan, ada senyum yang tahu, tapi tidak benar-benar mengungkap.

Dan entah mengapa, justru itu membuatnya semakin yakin bahwa malam di bawah pinus—meski singkat—telah meninggalkan jejak yang tak bisa dihapus.

BUPER...




Kesempatan di Bawah Bintang

Di antara tenda-tenda yang berdiri gugup,
dan lampu petromaks yang bergetar diterpa angin,
seorang remaja pria menyembunyikan degup,
dalam dada yang resah oleh malam dan bising.

Api unggun menyala, riuh sorak pecah,
tawa teman-teman jadi tirai pelindung.
Namun matanya hanya mencari satu arah,
wajah itu—yang disinari cahaya redup api, begitu agung.

Maka dicurinya kesempatan kecil,
saat langkah-langkah lain menjauh ke kegelapan.
Sebuah sapa lirih, nyaris tak terdengar angin,
tapi cukup untuk membuat hatinya hangat seketika.

Tak ada janji, tak ada kata cinta terang-terangan,
hanya sekilas senyum yang terbalut malu.
Namun bagi remaja itu,
itulah keberanian terbesar—
mencuri sepotong keabadian dari malam perkemahan.


....................

.....

Malam yang Tak Pernah Usai

Di bumi perkemahan itu,
di mana embun turun perlahan
menyelimuti rerumputan basah,
aku hanyalah remaja biasa
yang diam-diam menantikan keajaiban kecil.

Api unggun menyala,
nyala oranye menari di wajah teman-teman
yang sibuk bernyanyi, berpantun,
menertawakan malam agar tak terasa dingin.
Namun mataku tak pernah bisa berpaling,
hanya pada satu cahaya—
Diantara adik adik kelas dan teman panitia
cahaya matamu yang lebih hangat dari api itu.

Aku tahu, aku tak punya banyak waktu.
Kebersamaan ini singkat,
malam hanya satu,
dan esok kita akan kembali jadi murid yang asing di lorong sekolah.
Maka dengan gugup,
ku curi kesempatan yang rapuh itu:
menyapamu, lirih,
di sela langkah-langkah yang berjejak di tanah lembab.

Kau menoleh, sedikit terkejut,
lalu tersenyum dengan malu yang menundukkan wajahmu.
Ah, senyum itu—
lebih indah dari gugusan bintang
yang seolah rela merapat ke bumi malam ini.

Tak ada janji, tak ada kata cinta,
hanya percakapan pendek yang terselip di antara
dingin kabut dan detak jantungku.
Tapi aku tahu,
di sanalah aku menyimpan keberanian terbesar:
mengakui dalam diam
bahwa aku jatuh—tanpa pernah harus terucap.

Malam itu selesai,
tenda kembali sunyi,
dan doa renungan membungkus tidur kita.
Namun jauh di dalam hatiku,
peristiwa kecil itu tak pernah benar-benar berakhir.
Ia terus hidup,
seperti bara api unggun yang padam perlahan,
tapi menyisakan hangat
yang selalu kurindukan.

Senin, 11 Agustus 2025

gadis berjilbab


 
Di balik kain yang anggun terbentang,
Tersembunyi binar mata yang tenang.
Senyum manis laksana rembulan,
Menyirami hati yang kekeringan.
 
Jilbabmu bukan sekadar penutup kepala,
Namun mahkota yang memancarkan cahaya.
Simbol kesucian, kehormatan, dan harga diri,
Membuatmu semakin berseri-seri.
 
Langkahmu ringan, penuh percaya diri,
Menghadapi dunia dengan hati yang murni.
Tutur katamu lembut, penuh kasih sayang,
Menyejukkan jiwa yang sedang bimbang.
 
Pesona gadis berjilbab sungguh memikat,
Bukan hanya paras, namun juga akhlak.
Semoga dirimu selalu dalam lindungan-Nya,
Menjadi inspirasi bagi sesama.

Di balik gemulai kain yang menaungi,
Tersembunyi mutiara kalbu bersemi.
Netra teduh, pancarkan kedamaian,
Senyum merekah, laksana mentari pagi.
 
Jilbabmu bukan sekadar tirai dunia,
Namun kemilau mahkota bertahta mulia.
Lambang kesucian, terpatri di jiwa,
Memancarkan aura, memesona sukma.
 
Jejak langkahmu bagai titah sang waktu,
Menyusuri hari dengan anggun dan syahdu.
Untaian kata bagai kidung merdu,
Menyentuh relung, menenangkan kalbu.
 
Pesona dalam balutan kain surga,
Bukan sekadar rupa, namun budi pekerti utama.
Semoga naungan-Nya selalu menyertai,
Menjadi teladan, sepanjang hayat ini.

Di balik gemulai kain yang menaungi,
Tersembunyi telaga kalbu yang bening.
Netra teduh, pancarkan rembulan malam,
Senyum merekah, laksana fajar yang terbit perlahan.
 
Jilbabmu bukan sekadar pembatas dunia,
Namun perisai jiwa, dari panah nestapa.
Lambang kesucian, terukir dalam sukma,
Memancarkan pesona, seindah pelangi senja.
 
Jejak langkahmu bagai melodi kehidupan,
Menyusuri hari dengan keanggunan.
Untaian kata bagai embun pagi yang sejuk,
Menyirami hati, menghilangkan dahaga.
 
Pesona dalam balutan kain purnama,
Adalah cermin budi pekerti utama.
Kau adalah lentera, di tengah gulita,
Menuntun langkah, menuju ridha-Nya.

permata

Permata yang Indah

Kau adalah cahaya yang jatuh dari langit senja,
menggantung di antara harapan dan jarak yang tak terjangkau.
Indahmu bukan sekadar rupa,
tapi getar yang merambat halus ke dalam jiwa.

Aku melihatmu seperti melihat permata di balik kaca,
berkilau, sempurna,
namun terpisah oleh dinding tak kasat mata
yang tak berani kuterobos.

Aku hanya pengembara di tepi cahaya,
memandang tanpa menyentuh,
mengagumi tanpa berharap balas,
sebab aku tahu—beberapa keindahan diciptakan
untuk dinikmati dari jauh.

Dan bila waktu kelak mencatat kisah ini,
biarlah ia menulis namamu
sebagai permata terindah
yang pernah singgah di hatiku,
meski tak pernah menjadi milikku.



Kunjungi juga blooger saya

https://coretantakbermakna82.blogspot.com/2025/08/permata-berbalut-bunga.html

Terimakasih

Minggu, 10 Agustus 2025

Aku Hanya Manusia Hina

Aku…
Hanya sebutir debu kotor
Yang berani menantang angin kasih-Mu
Lalu jatuh, remuk, tanpa daya

Aku…
Hanya segumpal daging penuh dosa
Yang berulang kali Kau beri kesempatan
Namun selalu memilih jalan yang menusuk-Mu

Lidahku pernah berjanji untuk setia
Tapi kakiku berlari menjauh dari-Mu
Tanganku pernah terangkat dalam doa
Tapi hatiku berpaling pada dunia

Ya Allah…
Aku malu menyebut nama-Mu
Karena tiap sujudku
Masih menyisakan aroma maksiat yang busuk

Namun…
Jika Engkau mau menghapus namaku dari daftar-Mu
Maka tak ada lagi tempat untukku pulang
Selain api yang membakar tanpa henti

Tapi jika…
Engkau masih mau mengingatku
Meski sekadar dari balik tirai murka-Mu
Maka biarkan aku menangis di pintu-Mu
Hingga Kau izinkan aku masuk
Meski hanya sebagai hamba yang hina

Sabtu, 09 Agustus 2025

Bunga yang Terlalu Indah

Di lorong sempit sekolah kita
Langkahmu tenang, jilbabmu berkibar pelan
Matamu menunduk, namun cahaya
Menyusup ke dadaku yang rapuh

Aku hanya duduk di sudut kelas
Menatapmu lewat jendela
Berpura-pura sibuk menulis,
Padahal aku sedang menghafal setiap gerakmu

Bunga yang terlalu indah tak pernah kupetik
Bukan karena tak ingin,
Tapi karena takut kelopaknya layu
Jika kugenggam dengan tangan yang gemetar

Di antara tumpukan buku dan suara bel,
Aku titipkan namamu pada angin
Membiarkannya terbang
Ke langit yang kau pandang saat senja

SMA berlalu seperti mimpi
Dan aku tetaplah si pengecut yang
Hanya berani mencintaimu
Dalam diam yang panjang


Bunga yang Terlalu Indah

Di bangku kayu kelas dua B
Aku mengenalmu—gadis berjilbab sederhana
Yang senyumnya lebih manis dari lagu-lagu
Yang sering ku-request di radio malam minggu

Waktu itu,
Tak ada pesan singkat, tak ada status
Hanya suara DJ di ujung siaran
Membacakan salam yang tak pernah menyebut namamu terang-terangan

“Untuk seseorang di kelas sebelah…
Semoga hari ini kamu tersenyum,”
Begitu kataku lewat udara
Sambil berharap kau mengerti isyaratnya

Setiap pagi, kulihat langkahmu masuk gerbang
Membawa cahaya yang mengalahkan matahari
Dan aku—si lelaki yang suka bercanda—
Mendadak kehilangan kata-kata jika berhadapan denganmu

Bunga yang terlalu indah tak kupetik
Karena takut durinya menyadarkan
Bahwa aku hanyalah pengagum dari kejauhan
Bukan seseorang yang kau nantikan

Sampai akhirnya
Hari-hari SMA hanyut seperti lagu lama
Dan aku masih mengingatmu
Sebagai doa yang tak pernah kuselesaikan

Bunga yang Terlalu Indah

Bel istirahat baru saja berbunyi, dan suasana kelas dua B seperti pasar kecil. Suara tawa, bunyi gesekan kursi, dan dentingan sendok mengenai tutup kotak bekal bercampur jadi satu. Aku duduk di kursi dekat jendela, pura-pura sibuk mencatat pelajaran yang tadi pun belum selesai kutulis.

Dari pojok mataku, aku melihatnya. Wida.
Jilbab putihnya tergerai rapi, menutupi sebahagian bahu. Dia berjalan pelan menuju meja Arin, sahabat sebangkunya, sambil membawa bekal kecil. Tidak ada yang istimewa, kecuali bagiku—setiap gerakannya seperti melambatkan waktu.

Aku menunduk, pura-pura fokus. Tapi jantungku seperti radio tua yang bunyinya serak-serak basah: degupnya tidak karuan.

Waktu itu belum ada ponsel pintar. Cara paling berani yang bisa kulakukan hanyalah menitip salam lewat radio lokal setiap malam Minggu.
Biasanya begini:

"Halo Kak DJ, salam buat seseorang di kelas sebelah. Semoga besok paginya cerah seperti senyumnya."

Aku tahu, itu terlalu samar.
Aku takut menyebut namanya.
Takut teman-temannya akan menggodanya. Takut dia tahu dan kemudian menjauh.

Kadang, saat DJ membaca salam itu, aku membayangkan dia di rumahnya.
Mungkin sedang mengerjakan PR, mungkin menulis di buku diary-nya, lalu terhenti sejenak, bertanya-tanya—apakah salam itu untuknya?

Hari-hari SMA terus berjalan seperti kaset pita yang diputar berulang-ulang. Aku selalu di sini, di kursi yang sama, menjadi penonton diam untuk sebuah panggung kecil bernama Wida.

Aku tak pernah berani bilang.
Karena bunga yang terlalu indah, rasanya tak pantas kucoba genggam dengan tangan penuh ragu.

Dan akhirnya, kelulusan datang.
Kami berpisah tanpa kata.
Dia melangkah dengan senyum yang sama, dan aku hanya menatap punggungnya, menyadari… mungkin beberapa lagu di radio tak akan pernah terdengar sama lagi.