Bagian 1: Kisah Pertemuan
Dari Sisi Joe
Aku tidak pernah percaya pada pertemuan yang katanya bisa mengubah hari. Bagiku, hari adalah hari—datang, lalu pergi.
Sampai sore itu.
Perpustakaan kecil ini biasa saja. Bau buku lama, suara hujan mengetuk kaca, dan aku—duduk di sudut, pura-pura cuek pada dunia. Di buku catatanku, ada puisi setengah jadi:
> Jika hujan punya nama,
mungkin ia dipanggil rindu.
Lalu langkah itu datang.
Aku mengangkat kepala sekilas. Tidak lama. Aku tahu batas. Tapi cukup untuk membuat baris puisiku berhenti.
Dia berjilbab sederhana. Tidak mencolok. Tidak berisik. Cantik dengan cara yang tenang, seperti senja yang tidak meminta untuk dipuji.
Aku menundukkan pandang lagi. Bukan karena tak ingin melihat, tapi karena ada hal yang ingin kujaga sejak awal.
Pena kugerakkan lagi.
> Ada yang datang tanpa suara,
tapi berhasil membuat gaduh di dada.
Aku tidak tahu namanya. Dan mungkin, sore itu aku belum perlu tahu.
---
Dari Sisi Wida
Aku percaya pada pertemuan yang sederhana. Yang tidak gaduh, tidak berlebihan.
Sore itu hujan turun pelan, seperti sedang belajar jatuh dengan sopan. Aku masuk ke perpustakaan, merapikan jilbabku, lalu melangkah ke rak buku favorit.
Aku merasakan pandangan itu. Sekilas. Lalu hilang.
Aku menoleh cepat, lalu menunduk. Bukan karena malu, tapi karena ibuku pernah bilang: menjaga pandang adalah cara paling awal menjaga hati.
Di meja dekat jendela, aku duduk. Tanganku membuka buku, tapi pikiranku tidak langsung membaca.
Ada rasa aneh. Bukan deg-degan. Lebih seperti tenang yang asing.
Aku tidak tahu namanya. Aku hanya tahu—ia tidak menatap lama. Dan entah kenapa, itu membuatku merasa dihargai.
Aku menarik napas, lalu menulis di pinggir buku catatanku:
> Jika ada pertemuan yang tak perlu disapa,
mungkin ini salah satunya.
Hujan masih turun. Dan aku tahu, kisah ini baru saja dimulai.
---
Bagian 2: Rindu yang Tidak Disuarakan
Dari Sisi Joe
Aku mulai sering datang lebih awal. Bukan karena rajin, tapi karena berharap— meski aku tahu berharap diam-diam itu berisiko.
Dia tidak selalu datang. Dan setiap kursi kosong di perpustakaan entah kenapa terasa seperti ejekan kecil.
Aku menulis lagi. Selalu menulis. Karena hanya itu cara paling aman untuk merindu.
> Aku belajar rindu dengan cara yang pelan,
tanpa pesan, tanpa sapaan.
Cukup duduk di tempat biasa,
dan berharap semesta mengerti maksud dada.
Kadang dia datang. Kadang tidak. Saat dia ada, aku pura-pura sibuk. Saat dia tidak ada, aku benar-benar kehilangan fokus.
Aku ini lucu. Menghindari tatapannya saat dekat, namun mencarinya saat ia jauh.
Galau? Iya. Tapi anehnya, juga manis.
---
Dari Sisi Wida
Aku mulai menyadari kebiasaan kecil itu. Seseorang di sudut ruangan yang selalu datang lebih awal.
Aku tidak berani memastikan apa-apa. Aku hanya tahu: setiap kali aku duduk di meja dekat jendela, hatinya—entah kenapa—ikut tenang.
Kadang aku sengaja datang terlambat. Bukan untuk diuji, tapi untuk memastikan: apakah perasaan ini terlalu jauh melangkah?
Di buku catatanku, aku menulis pelan:
> Jika rindu bisa disimpan,
aku ingin menitipkannya di doa.
Aku tidak tahu apa yang ia rasakan. Dan mungkin aku belum perlu tahu.
Yang kutahu, rindu tidak selalu harus disampaikan. Ada yang cukup dijaga, agar tetap suci dalam diam.
---
Bagian 3: Sapaan yang Pelan
Sore itu hujan tidak turun, tapi udara tetap dingin, dan perpustakaan terasa lebih sunyi dari biasanya, Wida datang dengan langkah yang sama, tenang dan rapi, Joe sudah di sana lebih dulu, seperti biasa, pura-pura sibuk dengan buku dan catatan, padahal hatinya sudah penuh sejak ia melihat siluet itu mendekat
"Hai," suara Wida pelan, nyaris ragu
Joe mengangkat kepala, sedikit kaget, lalu tersenyum kecil, senyum yang tidak terlalu lebar agar tetap aman, "Hai juga," jawabnya singkat, tapi dadanya ramai
Sejak itu, sapa kecil menjadi kebiasaan, tidak setiap hari, tidak selalu lama, hanya cukup untuk memastikan bahwa mereka saling ada, tanpa perlu mendekat terlalu jauh
Wida duduk di dekat jendela, Joe kembali ke sudutnya, tapi jarak di antara mereka tidak lagi terasa sejauh kemarin
Pena Joe bergerak tanpa henti
> Hari ini namamu akhirnya punya suara,
meski hanya lewat satu kata sederhana,
aneh, ya,
aku baik-baik saja sebelumnya,
tapi setelah itu,
aku jadi sering kehilangan tenang.
Joe mulai galau dengan caranya sendiri, galau yang tidak meledak, hanya menumpuk, ia ingin menyapa lebih lama, tapi takut jika niatnya terbaca terlalu jauh, ia ingin bertanya banyak, tapi memilih diam agar tetap aman
Wida sesekali melirik, bukan untuk mencari, hanya memastikan, dan setiap kali pandangan mereka hampir bertemu, salah satunya akan menunduk lebih dulu
Di buku Wida, huruf-huruf kecil memenuhi halaman
> Jika sapaan saja sudah membuat hati berisik,
mungkin aku harus lebih sering diam,
agar perasaan ini tahu diri.
Joe menulis lagi
> Aku belajar mencintai dengan jarak,
menaruh rindu di sela doa,
dan berharap,
jika memang ditakdirkan,
ia akan mendekat dengan caranya sendiri.
Sore makin larut, mereka pulang tanpa janji, tanpa pesan lanjutan, hanya sapaan kecil yang tertinggal di ingatan, dan rindu yang kini tidak bisa lagi dipungkiri
---
Bagian 4: Rindu yang Hampir Terucap
Hari-hari setelah itu berjalan lebih pelan dari biasanya, sapaan kecil berubah menjadi percakapan singkat, tentang buku yang dibaca, tentang hujan yang jarang turun, tentang hal-hal aman yang tidak membuka terlalu banyak pintu, tapi cukup untuk membuat rindu semakin berani menampakkan diri
Joe mulai gelisah dengan puisinya sendiri, setiap bait terasa terlalu jujur, terlalu dekat dengan nama yang belum berani ia sebut, ia takut suatu hari Wida membaca baris-baris itu dan tahu bahwa hatinya sudah melangkah lebih jauh dari yang ia perlihatkan
Pena tetap menari
> Aku ingin menuliskan namamu dengan terang,
tapi tanganku gemetar,
takut jika huruf-huruf itu berubah menjadi tuntutan,
padahal aku hanya ingin menitipkan rasa,
bukan memaksa semesta.
Joe hampir kelepasan, hampir menatap lebih lama, hampir bertanya lebih dalam, tapi setiap kali itu terjadi, ia menarik diri, mengingatkan hatinya bahwa tidak semua rindu harus diumumkan
Di sisi lain, Wida mulai diuji oleh rasa nyaman, percakapan singkat itu cukup membuat hari-harinya terasa ringan, kehadiran Joe yang tenang namun hangat pelan-pelan menjadi kebiasaan yang dirindukan
Namun di setiap rasa nyaman, ada takut yang ikut duduk di sampingnya, takut jika langkah ini terlalu jauh, takut jika hati ini lupa cara menjaga
Di catatannya, Wida menulis dengan hati-hati
> Nyaman memang menenangkan,
tapi aku takut jika ia membuatku lengah,
aku ingin tetap berjalan pelan,
agar rasa ini tidak tersandung oleh tergesa.
Joe menutup bukunya lebih cepat sore itu, rindu di dadanya terlalu penuh untuk diterjemahkan menjadi kata-kata yang aman, sementara Wida pulang dengan doa yang lebih panjang dari biasanya
Mereka berpisah tanpa janji, tapi kini sama-sama tahu, rindu itu sudah tidak sepenuhnya diam, hanya masih memilih untuk tertahan
---
Bagian 5: Saat Hati Mulai Bertanya
Ada hari-hari ketika sapaan terasa biasa, dan ada hari-hari ketika satu kata sederhana mampu membuat dada bekerja lebih keras dari seharusnya, hari ini termasuk yang kedua, Joe menyadarinya sejak pagi, sejak ia membuka buku catatan dan menemukan halaman-halaman yang kini lebih jujur dari dirinya sendiri
Ia membaca ulang puisinya, merasa seperti sedang membuka pintu yang seharusnya masih tertutup
> Jika rindu ini hanya singgah,
aku akan diam,
tapi jika ia menetap,
apa aku boleh jujur pada niat?
Pertanyaan itu terus mengikuti Joe, bahkan saat ia duduk di sudut perpustakaan, bahkan saat Wida datang dan menyapa dengan senyum kecil yang kini terasa terlalu berarti
"Sedang baca apa?" tanya Wida pelan
Joe hampir menjawab panjang, hampir menceritakan isi dadanya, tapi yang keluar hanya judul buku dan senyum yang ditahan
Wida menangkap sesuatu di mata Joe, sesuatu yang lebih berat dari biasanya, dan sejak itu hatinya ikut bertanya, tentang rasa yang selama ini ia jaga, tentang kenyamanan yang kian sering ia tunggu
Di catatan kecilnya, Wida menulis dengan napas yang lebih panjang
> Jika ia hanya teman,
mengapa aku mulai menyebut namanya dalam doa?
Jika ini lebih dari itu,
apakah aku siap menanggung risikonya?
Mereka duduk tidak terlalu jauh, berbincang tidak terlalu lama, tapi masing-masing pulang dengan pikiran yang semakin ramai, Joe dengan niat yang mulai mencari bentuk, Wida dengan hati yang mulai menimbang keberanian
Malam itu, Joe menulis satu puisi lagi, paling pendek, paling jujur
> Aku tidak ingin mendahuluimu,
aku hanya ingin berjalan di arah yang sama,
jika kelak kau izinkan.
Dan untuk pertama kalinya, rindu mereka bukan hanya tentang menahan, tapi tentang bertanya: ke mana rasa ini seharusnya dibawa
---
Bagian 6: Niat yang Mulai Disusun
Hari-hari berikutnya tidak banyak berubah di permukaan, mereka masih bertemu di tempat yang sama, masih menyapa dengan nada yang sama, masih menjaga jarak yang sama, tapi di dalam dada, ada sesuatu yang mulai disusun pelan-pelan, seperti rencana yang tidak ingin gegabah
Joe tidak lagi menulis puisi setiap kali rindu datang, kadang ia hanya menatap halaman kosong, belajar memilah mana rasa yang cukup disimpan, mana niat yang perlu diarahkan, ia tahu, jika ia terus larut, puisinya akan menjadi pengakuan yang belum tentu siap diterima
Namun suatu sore, pena itu kembali bergerak, lebih tenang dari biasanya
> Aku tidak ingin mendekat karena sepi,
aku tidak ingin tinggal karena nyaman semata,
aku ingin datang dengan alasan yang jelas,
agar langkahku tidak menjadi beban bagimu.
Joe mulai belajar menahan diri bukan karena takut, tapi karena ingin tepat, ia mulai membatasi tatapan, memilih kata dengan lebih hati-hati, dan mengakhiri percakapan sebelum rasa itu meluap
Wida merasakan perubahan itu, Joe terasa sedikit lebih jauh, sedikit lebih sunyi, dan di situlah hatinya diuji lagi, antara ingin bertanya atau memilih percaya, antara rindu yang ingin disapa dan prinsip yang harus dijaga
Di kamarnya, Wida duduk lebih lama dari biasanya, menulis dengan tangan yang tenang namun hati yang bergetar
> Jika menjauh adalah caramu menjaga,
aku ingin belajar memahaminya,
meski hatiku sesekali bertanya,
apakah aku masih termasuk dalam niatmu?
Namun setiap kali mereka bertemu kembali, Joe tetap menunduk dengan hormat, tetap menyapa dengan tulus, dan itu cukup membuat Wida memilih sabar
Sore itu mereka berpisah dengan perasaan yang sama-sama berat namun lebih tertata, Joe membawa niat yang mulai jelas, Wida membawa keyakinan bahwa menunggu dengan cara yang benar tidak akan menghilangkan siapa pun
Dan untuk pertama kalinya, rindu mereka tidak lagi hanya tentang rasa, tapi tentang kesiapan
---
Bagian 7: Percakapan yang Paling Jujur
Hari itu sore datang tanpa hujan, langit bersih seperti baru selesai mengambil keputusan, Joe duduk lebih tegak dari biasanya, buku catatannya tertutup, seolah ia tahu hari ini ia tidak boleh bersembunyi di balik puisi
Wida datang dengan langkah yang sama tenangnya, tapi hatinya tidak sepenuhnya diam, ada firasat yang membuat napasnya sedikit lebih pendek, seolah semesta sedang menyiapkan ruang untuk sesuatu yang penting
Mereka menyapa seperti biasa, lalu hening mengambil tempat di antara mereka, bukan hening yang canggung, tapi hening yang menunggu keberanian
Joe menghela napas, suaranya rendah dan terukur, "Aku mau jujur, tapi aku ingin tetap sopan," katanya, "kalau caraku salah, tolong hentikan aku"
Wida menunduk sebentar, lalu mengangguk, memberi izin tanpa kata
"Aku merasa nyaman sejak pertama kita sering bertemu," Joe melanjutkan, tidak menatap lama, "aku menahan diri karena aku tidak ingin perasaan ini berjalan tanpa arah, aku tidak ingin mendekat hanya untuk membuatmu bingung"
Wida mendengarkan dengan hati yang bergetar namun utuh, tidak ada kata yang terasa berlebihan, tidak ada nada yang memaksa
"Aku menghargai kejujuranmu," jawab Wida pelan, "aku juga merasakan hal yang sama, tapi aku ingin semuanya tetap berada di jalur yang benar"
Joe mengangguk, seolah beban di dadanya akhirnya menemukan tempat
"Itu juga yang aku inginkan," katanya hampir tersenyum, "aku tidak meminta apa-apa hari ini, aku hanya ingin niatku sampai tanpa melukai batasmu"
Sore itu mereka berpisah dengan perasaan yang lebih tenang, bukan karena semuanya jelas, tapi karena kejujuran telah diletakkan di tempat yang benar
---
Bagian 8: Puisi yang Dititipkan
Beberapa hari setelah percakapan itu, Joe datang dengan langkah yang lebih mantap, buku catatan cokelat itu kembali berada di tangannya, kali ini bukan sebagai pelindung, melainkan sebagai titipan
"Aku ingin kau membacanya saat sendiri," katanya pelan sambil meletakkan buku itu di meja, "tidak perlu dibalas, tidak perlu dijawab"
Wida menatap buku itu sejenak, lalu mengangguk
Di halaman pertama, Joe menulis:
> Namamu tidak pernah kutulis untuk dimiliki,
hanya untuk kuingat agar aku tetap tahu arah.
Puisi-puisi itu bercerita tentang Wida dengan cara yang tenang—tentang jilbab sederhana, tentang sapaan singkat, tentang rindu yang selalu berhenti sebelum melanggar, tidak ada janji, tidak ada tuntutan, hanya rasa yang diletakkan dengan sopan
Wida membawa pulang buku itu dengan hati-hati, membacanya di sela doa, merasakan hangat tanpa merasa terikat
Dan Joe, untuk pertama kalinya, merasa lega—karena rindunya tidak lagi ia sembunyikan, melainkan ia titipkan dengan cara yang paling ia tahu: lewat kata yang dijaga*
Bagian 9: Keyakinan yang Diuji
Hari-hari setelah itu berjalan dengan ritme yang lebih tenang, Joe tidak lagi sering muncul dengan puisi baru, bukan karena rindunya habis, tapi karena ia sedang belajar percaya, percaya bahwa rasa yang dititipkan akan dijaga, percaya bahwa menunggu dengan cara yang sama adalah bentuk kedewasaan yang paling sunyi
Wida pun menjalani harinya dengan hati yang relatif utuh, kumpulan puisi itu tersimpan rapi, dibaca sesekali, bukan untuk menambah rindu, melainkan untuk mengingat bahwa ada seseorang yang memilih jalan pelan demi tetap benar
Namun ujian jarang datang sendirian
Ada seseorang lain yang mulai sering hadir di sekitar Wida, lebih terbuka, lebih ringan dalam berbicara, dan tanpa sadar, kata-katanya perlahan menggoyahkan, bukan dengan paksaan, melainkan dengan pertanyaan-pertanyaan kecil yang menyelinap
"Kamu yakin mau menunggu selama itu?" katanya suatu hari, setengah bercanda, "dia bahkan belum menjanjikan apa-apa"
Wida tersenyum tipis, tapi kalimat itu tinggal lebih lama dari yang ia harapkan
Sejak saat itu, keyakinan Wida mulai diuji oleh suara-suara yang tidak ia undang, tentang usia, tentang kepastian, tentang takut tertinggal, tentang kemungkinan bahwa kesabaran bisa saja berakhir sia-sia
Di malam yang lebih sepi dari biasanya, Wida membuka kembali buku puisi itu, namun kali ini dadanya tidak sepenuhnya hangat
> Jika menunggu adalah bentuk percaya,
mengapa aku mulai lelah?
Jika keyakinan ini benar,
mengapa suara lain begitu mudah masuk?
Joe merasakan perubahan itu tanpa perlu diberi tahu, balasan Wida lebih singkat, senyumnya tidak lagi selalu sampai ke mata, dan di situlah kepercayaannya ikut diuji, antara ingin bertanya atau memilih bertahan
Malam itu, Joe menulis satu bait saja
> Aku tidak takut kehilangan,
aku hanya takut kau ragu sendirian,
sementara aku memilih diam demi menjaga.
Mereka masih berjalan di arah yang sama, tapi kini ada bayangan di tengah jalan, bukan untuk memisahkan, melainkan untuk menguji seberapa kuat keyakinan yang selama ini dibangun pelan-pelan
---
Bagian 10: Jarak yang Menyakitkan
Hari-hari Wida menjadi lebih sunyi dari biasanya, bukan karena Joe pergi, tapi karena hatinya sedang ditarik ke dua arah yang sama-sama melelahkan, di satu sisi ada keyakinan yang tumbuh pelan bersama Joe, di sisi lain ada suara teman dekatnya yang terus mengingatkan dengan cara yang terasa peduli namun menekan
Wida percaya pada Joe, pada caranya menunggu, pada caranya menjaga, tapi ia juga tidak pandai melawan, terlebih pada seseorang yang hadir lebih dulu dalam hidupnya, ia takut kejujurannya melukai, takut pilihannya disalahpahami, dan dari ketakutan itulah jarak mulai tercipta
Ia mulai membalas pesan lebih singkat, memilih datang lebih jarang, dan ketika bertemu, senyumnya tetap ada, namun tidak lagi hangat sepenuhnya
Joe merasakan jarak itu seperti luka kecil yang tidak berdarah tapi perihnya menetap, ia tidak mengejar, tidak pula menuntut, karena sejak awal ia memilih percaya, meski percaya kadang terasa seperti berdiri sendirian di tengah lapang
Di malam yang berat, Wida menulis dengan tangan gemetar
> Aku tidak ragu padamu,
aku hanya lelah melawan suara lain,
andai memilih tidak harus melukai siapa pun,
aku ingin diam lebih lama.
Joe menulis dengan napas yang ditahan
> Jika jarak ini caramu bernapas,
aku akan menunggu di batas yang sama,
meski rasanya seperti mundur,
aku percaya menunggu tidak selalu berarti kalah.
Mereka kini berjalan dengan jarak yang terasa, bukan karena cinta memudar, tapi karena keadaan memaksa keduanya belajar bertahan dalam sunyi
Dan jarak itu, meski menyakitkan, menjadi cermin paling jujur tentang seberapa kuat kepercayaan yang ingin mereka pertahankan
---
Bagian 11: Buku yang Dititipkan
Ada masa ketika Joe memilih lebih banyak diam daripada bicara, bukan karena kehabisan kata, justru karena kata-kata itu terlalu penuh, setiap sore ia duduk lebih lama dengan buku catatan di hadapannya, menulis tanpa rencana, menulis tanpa jeda, seolah jika ia berhenti sejenak, dadanya akan runtuh oleh rindu yang tak sempat diucapkan
Halaman demi halaman terisi, bukan hanya puisi, tapi juga kisah kecil tentang Wida—tentang caranya menyapa, tentang senyum yang selalu datang dengan jarak, tentang keyakinan yang diuji namun tak pernah ia sesali
> Aku menuliskanmu bukan agar kau kembali,
tapi agar aku tetap ingat alasan bertahan,
bahwa menunggu bukan sekadar diam,
melainkan memilih setia pada niat.
Buku itu semakin tebal, sudutnya mulai terlipat, tintanya kadang pudar oleh hujan yang pernah menemaninya menulis, Joe tahu, jika terus menyimpannya sendiri, ia akan tenggelam terlalu dalam
Ada suatu hal yang memaksanya pergi sejenak, urusan yang tidak bisa ditunda, jarak yang tidak bisa ia lawan, dan sebelum itu terjadi, ia menitipkan buku catatan itu pada seorang teman yang paling ia percaya
"Kalau suatu hari dia bertanya," kata Joe pelan, "berikan buku ini, tapi jangan tambahkan apa-apa"
Temannya mengangguk, memahami bahwa buku itu bukan sekadar kumpulan tulisan, melainkan hati yang disusun rapi agar tidak tercecer
Malam sebelum pergi, Joe menulis satu bait terakhir
> Jika aku harus menjauh tanpa penjelasan,
biarlah kata-kata ini yang tinggal,
bukan untuk memintamu menunggu,
hanya untuk memastikan aku pernah sungguh.
Joe menutup buku itu dengan napas panjang, lalu menyerahkannya, bukan karena menyerah pada keadaan, tapi karena percaya bahwa apa yang dijaga dengan niat baik akan menemukan jalannya sendiri
Dan sejak hari itu, ada satu buku yang tidak lagi berada di tangannya, namun justru menyimpan seluruh kisah yang paling ia jaga
---
Bagian 12: Kata-Kata Menemukan Pemiliknya
Waktu berjalan tanpa memberi aba-aba, hingga suatu sore yang tidak istimewa berubah menjadi titik balik, teman Joe datang menemui Wida dengan raut yang menyimpan rasa bersalah, dari tasnya ia mengeluarkan buku catatan cokelat yang tepinya mulai kusam, "Maaf," katanya lirih, "aku terlalu lama menyimpannya"
Wida menerima buku itu dengan tangan yang sedikit bergetar, seolah sedang memegang sesuatu yang pernah ia tunggu tanpa berani berharap, halaman demi halaman terbuka, dan di sanalah kata-kata Joe akhirnya pulang
Ada puisi tentang pertemuan pertama, tentang jarak yang dipilih demi adab, tentang rindu yang ditahan agar tidak berubah menjadi tuntutan, tentang doa yang lebih panjang dari malam, dan tentang percaya yang tetap berdiri meski goyah
Jika suatu hari kata-kataku sampai terlambat,jangan salahkan waktuku,aku menulisnya agar kau tahu,aku pernah memilihmu dengan cara yang paling tenang.
Air mata Wida jatuh bukan karena sedih semata, melainkan karena akhirnya ia mengerti, bahwa selama jarak itu ada seseorang yang tidak pergi, hanya diam menjaga
Di halaman terakhir, Joe menulis satu kalimat tanpa puisi
Jika kau masih di sini, aku pun masih.
Wida menutup buku itu dengan napas yang panjang, hatinya tidak lagi bimbang seperti sebelumnya, karena kini kata-kata telah menemukan pemiliknya, dan keyakinan menemukan rumahnya
Malam itu Wida berdoa lebih lama, bukan meminta jawaban yang cepat, melainkan keberanian untuk melangkah tanpa takut melukai, karena ia tahu, rasa yang dijaga tidak layak ditinggalkan sendirian
Dan di kejauhan, tanpa saling tahu, dua hati yang pernah diuji oleh jarak akhirnya berdiri di arah yang sama, menunggu waktu mempertemukan langkah mereka kembali
(Bersambung ke Bagian 13: Pulang dengan Cara yang Benar)
Bagian 13: Menjauh dengan Setia
Setelah kata-kata itu sampai, Joe justru memilih langkah yang paling sunyi: menjauh, bukan karena rasa berubah, melainkan karena ia tidak ingin keberadaannya menjadi celah yang merusak apa pun yang sedang Wida jaga, termasuk pertemanan yang lebih dulu hadir dan masih ingin ia hormati
Ia mengurangi hadir, membatasi kabar, memilih tidak muncul di tempat-tempat yang biasa, bukan untuk menghilang sepenuhnya, tapi agar tidak menambah beban di hati Wida yang baru saja menemukan kembali keyakinannya
Kesetiaan Joe tidak lagi berwujud kata atau puisi, melainkan keputusan-keputusan kecil yang tidak terlihat, tetap mendoakan, tetap menjaga niat, tetap percaya meski jarak semakin terasa seperti tembok yang tinggi
Aku menjauh bukan untuk pergi,aku diam bukan karena berhenti,aku hanya memilih mencintaimu tanpa hadir,agar tak ada yang terluka oleh perasaanku.
Wida merasakan perubahan itu dengan cara yang berbeda, ia tahu Joe tidak menghilang, ia hanya mundur selangkah, dan justru di situlah hatinya terasa paling diuji, antara ingin memanggil atau belajar menghargai pengorbanan yang tidak diminta
Mereka tidak lagi berjalan sejajar, tapi masih menatap arah yang sama, dan bagi Joe, itu sudah cukup untuk tetap setia
Bagian 14: Perpisahan Tanpa Kata
Keputusan itu datang tiba-tiba, Wida harus berpindah tempat, meninggalkan kota yang menyimpan terlalu banyak kenangan yang tidak pernah benar-benar dimulai, perpindahan yang tidak disertai pesta perpisahan, tidak pula percakapan penutup
Jarak kembali menjadi perantara, kali ini lebih tegas, lebih jauh, dan diperkuat oleh keadaan serta sahabat yang memilih menjauhkan agar tidak ada lagi kebingungan yang tersisa
Tidak ada pesan terakhir dari Joe, tidak ada salam pamit dari Wida, bukan karena tidak ada rasa, tapi karena keadaan memaksa keduanya belajar melepaskan tanpa penjelasan
Di hari keberangkatan, Wida membawa sedikit barang dan banyak kenangan, sementara Joe memilih tinggal dengan doa yang lebih sering ia ulang
Jika perpisahan datang tanpa kata,biarlah doa yang menjadi jembatan,karena tidak semua yang pergi benar-benar meninggalkan.
Kereta atau bus itu melaju, kota berganti, dan dua nama yang pernah saling dijaga kini berada di garis yang berbeda, bukan karena salah, melainkan karena waktu memilih caranya sendiri
Dan begitulah mereka berpisah—tanpa ucapan, tanpa janji, hanya dengan keyakinan diam bahwa setia tidak selalu harus berdekatan
(Bersambung ke Bagian 15: Jika Takdir Mengizinkan)
Bagian 15: Ikhlas yang Tidak Pernah Mudah
Waktu akhirnya mengambil alih segalanya, tidak memberi ruang untuk kembali, tidak pula menyediakan jembatan untuk menyusul, Joe dan Wida belajar menerima bahwa ada pertemuan yang memang hanya ditakdirkan untuk mengajarkan, bukan memiliki
Joe tetap setia pada caranya sendiri, tidak membuka hati dengan tergesa, tidak pula menunggu dengan harap yang berisik, ia memaksa dirinya ikhlas, meski setiap doa yang ia ucapkan selalu menyelipkan satu nama yang sama, bukan untuk diminta kembali, hanya untuk dijaga agar tetap baik di tempatnya kini
Aku mengikhlaskan bukan karena aku mampu,aku mengikhlaskan karena memaksa bertahan akan melukai lebih banyak,jika mencintaimu berarti tidak bersamamu,maka biarlah aku mencintaimu dengan cara itu.
Di tempat yang berbeda, Wida menjalani hari dengan langkah yang tampak utuh, namun ada bagian hatinya yang selalu tertinggal di halaman-halaman puisi yang pernah ia simpan rapi, ia pun belajar ikhlas, bukan karena rindunya habis, melainkan karena hidup harus terus berjalan meski hati belum sepenuhnya pulang
Ia tidak pernah tahu apakah Joe masih menulis, Joe pun tidak pernah tahu apakah Wida masih membaca, tapi keduanya sepakat pada satu hal yang tak pernah mereka ucapkan: rasa itu pernah ada, dan itu cukup
Tidak ada akhir yang benar-benar selesai, tidak pula bahagia yang lantang, hanya dua manusia yang tumbuh dengan caranya masing-masing setelah belajar bahwa tidak semua yang dijaga akan dimiliki
Dan jika suatu hari semesta mempertemukan mereka kembali, mungkin sebagai dua orang asing yang lebih tenang, atau mungkin tidak sama sekali, kisah ini tetap selesai dengan satu keyakinan
bahwa cinta yang dipaksa ikhlas tetaplah cinta
—tamat—