Bab 1: Pertemuan di Bangku Sekolah
Langit pagi tampak cerah ketika Joe melangkah malas menuju kelasnya. Seragamnya sedikit kusut, rambutnya tak pernah benar-benar rapi, dan senyumnya selalu siap untuk melontarkan candaan.
"Joe, telat lagi?" tegur guru piket.
"Enggak Bu, saya cuma datang setelah jam pelajaran dimulai," jawabnya santai.
Tawa teman-temannya pecah.
Di sudut kelas duduk seorang gadis berjilbab coklat tua. Wajahnya teduh, senyumnya hangat, dan tutur katanya selalu lembut. Namanya Wida.
Wida berbeda dari kebanyakan siswi lainnya. Ia ramah kepada siapa saja tanpa membeda-bedakan. Bahkan kepada Joe yang sering membuat keributan kecil di kelas.
Suatu hari saat Joe lupa membawa buku pelajaran, Wida diam-diam meminjamkan miliknya.
"Pakailah dulu. Nanti kita belajar bareng."
Joe hanya mengangguk.
"Terima kasih."
Sejak saat itu, tanpa disadari, Joe mulai sering memperhatikan Wida.
Bab 2: Sahabat yang Tak Disadari
Hari-hari berlalu.
Joe dan Wida mulai sering berbicara. Bukan karena mereka sekelas saja, tetapi karena mereka sama-sama aktif dalam beberapa kegiatan sekolah.
Wida selalu sabar menghadapi tingkah Joe.
"Kenapa sih kamu selalu bercanda?" tanya Wida.
Joe tertawa.
"Kalau aku serius terus, nanti dunia kehilangan badut terbaiknya."
Wida menggeleng sambil tersenyum.
Joe menyukai senyum itu.
Senyum yang sederhana, tetapi mampu membuat hari-harinya terasa lebih ringan.
Namun Joe adalah tipe orang yang sulit mengungkapkan perasaan.
Baginya, menyembunyikan rasa jauh lebih mudah daripada mengatakan cinta.
Ia memilih menjadi teman.
Menjadi seseorang yang selalu ada.
Meski diam-diam berharap suatu hari Wida melihatnya lebih dari sekadar sahabat.
Bab 3: Perasaan yang Mulai Tumbuh
Tahun terakhir sekolah tiba.
Banyak teman mulai sibuk memikirkan masa depan.
Ada yang ingin kuliah.
Ada yang ingin bekerja.
Ada pula yang mulai berpacaran.
Joe justru semakin sering memikirkan Wida.
Saat melihat Wida berbicara dengan siswa lain, ia merasa cemburu.
Saat Wida sakit dan tidak masuk sekolah, ia merasa hari itu begitu sepi.
Saat Wida tersenyum kepadanya, ia merasa menjadi orang paling beruntung di dunia.
Namun sekali lagi, Joe memilih diam.
Suatu sore setelah kegiatan sekolah selesai, mereka duduk di bangku taman sekolah.
"Mau jadi apa nanti setelah lulus?" tanya Joe.
Wida memandang langit.
"Aku ingin jadi orang yang bermanfaat. Aku ingin membuat orang tuaku bangga."
Joe mengangguk.
"Lalu kamu?"
"Aku?"
Joe tersenyum kecil.
"Aku cuma ingin bahagia."
"Bahagia itu sederhana kok."
"Iya..."
Joe menatap Wida.
"...kadang sesederhana melihat seseorang tersenyum."
Wida tidak menyadari bahwa kalimat itu sebenarnya ditujukan untuknya.
Dan Joe kembali menyimpan perasaannya sendiri.
Sebab tidak semua cinta memiliki keberanian untuk diucapkan.
Bab 4: Hari Kelulusan
Hari yang ditunggu akhirnya tiba.
Seluruh siswa berkumpul di aula sekolah untuk menerima pengumuman kelulusan.
Tangis haru dan tawa bahagia bercampur menjadi satu.
Joe berdiri bersama teman-temannya, sementara Wida berada tidak jauh darinya.
Ketika nama mereka dinyatakan lulus, semua bersorak gembira.
Namun di balik kebahagiaan itu, ada perasaan lain yang mengganggu hati Joe.
Ia sadar...
Hari itu bukan hanya tentang kelulusan.
Tetapi juga tentang perpisahan.
Mungkin setelah ini mereka tidak akan lagi bertemu setiap hari.
Tidak ada lagi candaan di kelas.
Tidak ada lagi belajar bersama.
Tidak ada lagi alasan sederhana untuk bertemu Wida.
Saat acara selesai, Joe melihat Wida berdiri sendirian di halaman sekolah.
Untuk pertama kalinya ia ingin mengungkapkan semuanya.
Namun ketika langkahnya hampir mendekat, teman-teman Wida datang menghampiri.
Kesempatan itu pun hilang.
Sore itu mereka pulang dengan jalan masing-masing.
Dan perasaan Joe tetap menjadi rahasia.
Bab 5: Jarak dan Waktu
Setelah lulus, hidup mulai berubah.
Joe memilih bekerja membantu keluarganya.
Sedangkan Wida melanjutkan pendidikan ke kota lain.
Awalnya mereka masih sering berkirim pesan.
Menanyakan kabar.
Bercerita tentang kesibukan masing-masing.
Kadang Joe mengirimkan lelucon receh yang membuat Wida tertawa.
Kadang Wida memberi semangat ketika Joe merasa lelah bekerja.
Namun perlahan semuanya berubah.
Kesibukan mulai mengambil waktu mereka.
Pesan yang dulu dibalas dalam hitungan menit kini berubah menjadi berhari-hari.
Telepon yang dulu sering dilakukan kini semakin jarang.
Joe mulai merasakan sesuatu yang aneh.
Wida masih ada.
Tetapi terasa semakin jauh.
Seolah berada di tempat yang tak bisa lagi ia jangkau.
Malam-malam Joe sering membuka foto-foto masa sekolah.
Melihat senyum Wida yang masih tersimpan di galeri ponselnya.
Lalu tersenyum sendiri.
Dan diam-diam merindukannya.
Bab 6: Pertemuan yang Mengubah Segalanya
Dua tahun berlalu.
Suatu hari sekolah mereka mengadakan reuni kecil.
Joe datang tanpa banyak harapan.
Namun saat memasuki aula sekolah, matanya langsung menemukan sosok yang begitu dikenalnya.
Wida.
Masih dengan jilbab yang sederhana.
Masih dengan senyum yang sama.
Dan masih mampu membuat jantung Joe berdebar seperti dulu.
"Joe?"
"Wida?"
Mereka tertawa bersama.
Untuk beberapa saat, waktu seolah kembali ke masa sekolah.
Mereka berbincang panjang.
Tentang pekerjaan.
Tentang keluarga.
Tentang mimpi-mimpi yang dulu pernah mereka ceritakan.
Joe merasa bahagia.
Sangat bahagia.
Sampai kemudian Wida berkata pelan.
"Aku ingin mengenalkan seseorang padamu."
Joe mengernyit.
Tak lama kemudian datang seorang pria menghampiri mereka.
Pria itu tersenyum ramah.
"Wida sering cerita tentang teman-teman sekolahnya."
Joe membalas senyum itu.
Namun ada sesuatu yang terasa berat di dadanya.
"Dia siapa?" tanya Joe perlahan.
Wida tersenyum malu.
"Dia... seseorang yang sedang dekat denganku."
Seakan dunia mendadak sunyi.
Joe masih tersenyum.
Masih bercanda.
Masih terlihat biasa saja.
Tetapi di dalam hatinya, sesuatu perlahan runtuh.
Malam itu, saat pulang dari reuni, untuk pertama kalinya Joe menangis.
Bukan karena kehilangan.
Tetapi karena menyadari bahwa kesempatan yang selama ini ia tunggu mungkin sudah terlambat.
Bab 7: Undangan yang Tak Ingin Diterima
Beberapa bulan setelah reuni.
Joe menerima sebuah pesan.
Namanya tertera di layar ponsel.
Wida.
Senyum kecil muncul di wajahnya.
Namun perlahan menghilang saat membaca isi pesannya.
"Joe, kalau tidak ada halangan, datang ya..."
Di bawah pesan itu terdapat foto undangan.
Undangan pernikahan.
Nama Wida tertulis jelas.
Bersanding dengan nama pria yang pernah dikenalkannya saat reuni.
Joe mematung.
Lama.
Sangat lama.
Tangannya bergetar.
Hatinya seakan menolak mempercayai kenyataan.
Akhirnya hari itu benar-benar datang.
Hari yang selama ini paling ia takutkan.
Wanita yang diam-diam dicintainya selama bertahun-tahun akan menjadi milik orang lain.
Bab 8: Hari Pernikahan Wida
Hari itu akhirnya tiba.
Joe berdiri di antara para tamu undangan.
Mengenakan kemeja terbaik yang ia miliki.
Wajahnya tenang.
Senyumnya tetap ada.
Seperti Joe yang selalu dikenal banyak orang.
Namun tak seorang pun tahu betapa berat langkahnya memasuki gedung itu.
Di depan sana, Wida tampak begitu anggun dalam balutan busana pengantin.
Senyumnya bahagia.
Matanya berbinar.
Hari itu adalah hari yang telah lama ia impikan.
Joe menatapnya dalam diam.
Lalu tersenyum kecil.
"Akhirnya kamu menemukan kebahagiaanmu, Wid..."
Ia mengucapkannya dalam hati.
Saat prosesi akad selesai dan para tamu memberi ucapan selamat, Joe ikut mengantre.
Ketika tiba di depan pelaminan, Wida tersenyum hangat.
"Joe... terima kasih sudah datang."
Joe mengangguk.
"Selamat ya."
Hanya itu.
Dua kata yang terasa paling berat sepanjang hidupnya.
Malam itu Joe pulang dengan hati yang kosong.
Namun ia tidak menyesal.
Karena setidaknya ia pernah mencintai seseorang dengan tulus.
Meski tidak pernah memilikinya.
Bab 9: Puisi-Puisi yang Tertinggal
Beberapa minggu setelah pernikahan.
Wida sedang merapikan lemari lama di rumah orang tuanya.
Ia menemukan sebuah kardus berisi buku-buku SMA.
Buku matematika.
Buku bahasa Indonesia.
Dan beberapa catatan yang sudah mulai menguning.
Sambil tersenyum mengenang masa sekolah, ia membuka satu per satu buku tersebut.
Namun tiba-tiba sesuatu terjatuh.
Selembar kertas kecil.
Tulisan tangan yang sangat dikenalnya.
Tulisan Joe.
Wida mengernyit.
Lalu membacanya.
"Aku menyukai seseorang.
Ia tidak secantik artis di televisi.
Namun senyumnya selalu berhasil membuat hariku lebih baik.
Aku tidak tahu apakah ia akan pernah tahu.
Tapi aku berharap Tuhan selalu menjaganya."
Wida terdiam.
Jantungnya berdegup lebih cepat.
Ia membuka buku lain.
Ada lagi.
Lalu buku berikutnya.
Ada lagi.
Dan lagi.
Ternyata di sela-sela beberapa bukunya tersimpan banyak potongan puisi kecil.
Seolah seseorang sengaja menyembunyikannya bertahun-tahun lalu.
Tangannya mulai gemetar.
Satu demi satu ia membaca.
"Jika suatu hari kau menemukan tulisan ini,
mungkin kita sudah berjalan di jalan yang berbeda.
Tapi percayalah,
pernah ada seseorang yang diam-diam mendoakanmu setiap malam."
Air mata mulai mengalir di pipi Wida.
Ia masih terus membaca.
Hingga akhirnya menemukan secarik kertas terakhir.
Tulisan itu jauh lebih panjang.
Dan untuk pertama kalinya tertulis jelas namanya.
"Untuk Wida.
Gadis berjilbab yang selalu ramah kepada semua orang.
Terima kasih karena pernah menjadi alasan aku semangat datang ke sekolah.
Aku tidak tahu apakah suatu hari aku akan cukup berani mengatakannya.
Tapi jika tidak,
biarlah tulisan ini menjadi saksi bahwa aku pernah mencintaimu."
Wida menutup mulutnya.
Tangisnya pecah.
Baru hari itu ia mengerti.
Selama bertahun-tahun.
Joe ternyata menyimpan perasaan yang begitu besar.
Dan ia tidak pernah mengetahuinya.
Bab 10: Pertanyaan yang Tak Akan Terjawab
Malam itu Wida tidak bisa tidur.
Ia terus membaca ulang puisi-puisi tersebut.
Mengingat semua momen semasa sekolah.
Candaan Joe.
Perhatian-perhatian kecil yang dulu dianggap biasa.
Pesan-pesan sederhana yang ternyata menyimpan makna lebih dalam.
Lalu muncul pertanyaan yang terus menghantuinya.
"Bagaimana jika dulu aku tahu?"
"Bagaimana jika dulu Joe mengatakannya?"
"Apakah ceritanya akan berbeda?"
Namun hidup tidak pernah berjalan dengan kata "jika".
Waktu tidak bisa diputar kembali.
Dan kenyataan tetaplah kenyataan.
Kini mereka telah berjalan di jalan masing-masing.
Meski begitu, Wida merasa ada bagian dari masa lalunya yang baru saja ia temukan.
Bagian yang selama ini tersembunyi.
Bagian bernama Joe.
Bab 11: Surat yang Tak Pernah Dikirim
Beberapa hari kemudian.
Wida memberanikan diri menghubungi Joe.
Mereka bertemu di sebuah kedai kopi sederhana.
Awalnya suasana terasa canggung.
Hingga akhirnya Wida mengeluarkan sebuah map.
Joe langsung mengenalinya.
Kumpulan puisi yang pernah ia tulis.
Wajah Joe memucat.
"Kamu menemukannya?"
Wida mengangguk pelan.
"Kenapa tidak pernah bilang?"
Joe tersenyum tipis.
"Aku takut."
"Takut apa?"
"Takut kehilangan pertemanan kita."
Hening.
Beberapa saat tidak ada yang berbicara.
Lalu Joe mengeluarkan selembar kertas dari dompetnya.
Kertas itu sudah kusam.
Bahkan sedikit sobek di bagian ujung.
"Aku juga punya sesuatu."
Wida menerimanya.
Ternyata sebuah surat.
Surat yang ditulis bertahun-tahun lalu.
Namun tidak pernah diberikan.
Di bagian bawah tertulis:
"Jika suatu hari kamu membaca surat ini,
mungkin aku sudah terlambat.
Tapi aku ingin kamu tahu.
Aku mencintaimu sejak kita masih duduk di bangku sekolah."
Air mata Wida kembali jatuh.
Joe tersenyum.
Untuk pertama kalinya ia merasa lega.
Rahasia yang selama bertahun-tahun dipendam akhirnya terungkap.
Meski terlambat.
Bab 12: Jejak yang Tertinggal
Matahari sore mulai tenggelam.
Joe dan Wida berdiri di halaman sekolah lama mereka.
Tempat di mana semuanya pernah dimulai.
Mereka berjalan perlahan melewati koridor kelas.
Bangku taman.
Lapangan.
Dan pohon besar yang dulu sering menjadi tempat mereka bercanda.
"Joe..."
"Iya?"
"Maaf ya."
Joe tersenyum.
"Untuk apa?"
"Karena aku tidak pernah tahu."
Joe menggeleng pelan.
"Bukan salahmu."
Mereka terdiam.
Lalu Joe memandang langit senja.
"Ada cinta yang memang ditakdirkan untuk dimiliki."
"Dan ada cinta yang ditakdirkan untuk dikenang."
Air mata Wida kembali jatuh.
Namun kali ini bukan karena sedih semata.
Melainkan karena ia memahami betapa tulusnya seseorang pernah mencintainya.
Sebelum berpisah, Wida berkata pelan.
"Terima kasih ya, Joe."
"Untuk apa?"
"Untuk semua doa yang tidak pernah kamu ceritakan."
Joe tersenyum.
Senyum yang selama ini selalu ia sembunyikan di balik candaan.
"Bahagialah, Wid."
Wida mengangguk.
Dan mereka berjalan ke arah yang berbeda.
Untuk terakhir kalinya.
Namun sebagian hati mereka akan selalu tertinggal di lorong-lorong sekolah itu.
Di antara tawa masa remaja.
Di antara puisi-puisi yang terselip di buku lama.
Dan di antara cinta yang tidak pernah sempat diucapkan.
Tamat. 💔📖
"Tidak semua kisah cinta berakhir dengan memiliki. Ada yang berakhir menjadi kenangan, namun tetap indah untuk dikenang sepanjang usia."
NB: koreksi saya bila ada kekurangan dlm penulisan
NB: koreksi saya bila ada kekurangan dlm penulisan
Saran kritik yang membangun saya harapkan
Miskin kisah ini hanyalah fiktif atau karangan belaka
Terimakasih








