Di Balik Diam Wida
Bab 1: Pagi di Gerbang Sekolah
Pagi selalu datang dengan cara yang sama di SMA Nusantara. Denting bel pertama, suara sepatu beradu dengan lantai koridor, dan tawa siswa yang pecah sebelum pelajaran dimulai. Namun bagi Joe, pagi selalu memiliki satu alasan untuk dinanti: Wida.
Wida adalah gadis berhijab putih gading, langkahnya tenang, wajahnya teduh seperti halaman buku yang jarang tersentuh debu. Ia tidak banyak bicara, tapi keheningannya justru membuat orang ingin mendekat. Joe mengenalnya sejak kelas sepuluh, sejak hari ketika Wida duduk di bangku dekat jendela dan cahaya pagi memilih singgah di wajahnya.
Joe berdiri di gerbang sekolah bersama dua temannya, ahcmad dan wanto.
“Joe, kamu itu kenapa sih tiap pagi bengong ke arah parkiran?” tanya Ahcmad sambil menyenggol bahu Joe.
Joe tersenyum tipis. “Nggak apa-apa. Cuma menikmati pagi.”
Wanto terkekeh. “Menikmati Wida, maksudnya.”
Joe tak membantah. Kagumnya terlalu dalam untuk dibela atau disangkal.
---
Bab 2: Bangku Belakang dan Rasa yang Disimpan
Joe selalu memilih bangku belakang. Dari sana, ia bisa melihat Wida tanpa harus mencuri perhatian. Wida duduk rapi, mencatat dengan teliti, seolah dunia tak pernah berisik baginya.
Di sela pelajaran, Joe menulis puisi.
> Wida,
kau adalah hening yang kupelajari setiap hari
tanpa pernah berani bertanya
apakah aku boleh tinggal di sana.
“Lo sadar nggak sih, Jo,” bisik Ahcmad, “kalau rasa yang disimpen kelamaan bisa jadi penyesalan?”
Joe menghela napas. “Aku takut kalau bicara, semuanya berubah.”
---
Bab 3: Kehadiran Baru Bernama Ridwan
Semester baru membawa satu nama baru: Ridwan. Pindahan dari sekolah favorit di kota. Tinggi, ramah, dan mudah akrab dengan siapa pun—termasuk Wida.
Joe melihatnya pertama kali saat Ridwan membantu Wida membawa buku.
“Terima kasih, Ridwan,” kata Wida lembut.
Senyum Ridwan lebar. “Sama-sama.”
Sejak hari itu, jarak yang selama ini aman bagi Joe berubah menjadi jurang.
---
Bab 4: Cinta Segitiga yang Tak Terucap
Ridwan sering duduk di dekat Wida. Mengajaknya berdiskusi. Menemani ke perpustakaan.
“Dia serius sama Wida,” kata wawan suatu hari.
Joe hanya menunduk.
Malamnya, Joe menulis dengan tangan gemetar.
> Aku kalah bahkan sebelum bertarung,
karena aku memilih diam
sementara orang lain memilih hadir.
---
Bab 5: Perpustakaan dan Luka Kecil
Joe kembali ke perpustakaan. Ia melihat Wida dan Ridwan tertawa pelan.
Hatinya mencelos.
Saat Wida menyadari kehadiran Joe, senyumnya memudar. “Joe… kamu mau duduk?”
Joe menggeleng. “Nggak. Aku cuma lewat.”
Itu adalah kebohongan yang pahit.
---
Bab 6: Puisi yang Hampir Dibuang
Joe hampir membakar semua puisinya.
> Jika mencintaimu adalah kesalahan,
biarlah aku salah sendirian,
asal kau tak pernah tahu betapa dalamnya aku tenggelam.
Ahcmad menghentikannya. “Jangan buang perasaan lo sendiri, Jo.”
---
Bab 7: Pengakuan Ridwan
Ridwan akhirnya menyatakan perasaannya pada Wida.
“Aku suka kamu, Wida. Sejak pertama kita ngobrol.”
Wida terdiam. “Aku butuh waktu.”
Joe mendengarnya dari balik pintu kelas.
---
Bab 8: Kejujuran yang Tertunda
Hari-hari berlalu dengan canggung. Wida menjauh. Ridwan menunggu. Joe menghilang.
Hingga suatu sore, Wida mendatangi Joe di tangga belakang sekolah.
“Joe,” katanya pelan. “Kamu kenapa menjauh?”
Joe menatap lantai. “Aku cuma nggak mau mengganggu.”
“Sejak kapan kehadiranmu mengganggu?”
Kalimat itu menghancurkan pertahanannya.
---
Bab 9: Hujan dan Pengakuan
Hujan turun deras hari itu.
“Aku suka kamu, Wida,” ucap Joe akhirnya. “Sejak lama. Tapi aku pengecut.”
Air mata bercampur hujan.
Wida menatapnya lama. “Kenapa kamu baru bilang sekarang?”
“Karena aku takut kehilanganmu.”
Wida tersenyum sedih. “Joe… aku juga menyukaimu. Tapi aku menunggu kamu bicara.”
---
Bab 10: Perpisahan yang Tak Terelakkan
Namun tak semua kejujuran berujung bahagia.
Wida tetap harus pindah mengikuti orang tuanya.
Ridwan memilih mundur dengan dewasa.
“Aku kalah oleh kejujuran,” katanya pada Joe.
---
Epilog: Cinta yang Pernah Sampai
Di hari terakhir, Joe memberikan satu puisi terakhir pada Wida.
> Kini kau tahu,
dan itu cukup.
Cinta ini tak lagi sendirian,
meski tak berjalan bersama.
Wida memeluk buku puisinya.
“Aku akan membawamu dalam doa, Joe.”
Dan untuk pertama kalinya, cinta mereka saling sampai—
meski tidak selamanya tinggal.
TAMAT