Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh
Mohon maaf untuk siapapun yang membaca blooger atau Novel saya, semua karakter, pemeran dan alur ceritanya hanya FIKTIF
Jadi mohon maaf bila ada kesamaan nama dan cerita dalam realita,
🙏🙏🙏
Judul
Hati yang Belajar PercayaBab 1 – Aku yang Memilih Diam
Namaku Joe.
Aku bukan tipe remaja yang suka keramaian. Di kelas, aku lebih sering duduk di bangku belakang, menatap papan tulis sambil berpura-pura sibuk dengan catatan. Aku tidak tertarik pacaran. Bukan karena aku suci dari rasa, tapi karena aku terlalu akrab dengan luka.
Keluargaku pecah sebelum aku cukup dewasa untuk mengerti apa itu cinta. Ayah dan ibu berpisah, meninggalkan sunyi yang panjang di rumah. Sejak itu aku percaya satu hal: mencintai terlalu dalam hanya akan berakhir dengan kehilangan.
Aku bersekolah di kelas 2 SMA Muhammadiyah. Sekolah yang mengajarkanku banyak hal tentang adab dan iman, tapi tidak pernah benar-benar mengajarkanku cara mengelola perasaan.
Aku pikir hidupku akan berjalan begitu saja. Sampai suatu hari… aku melihatnya.
Bab 2 – Pertama Kali Melihat Wida
Hari itu biasa saja. Tidak ada hujan, tidak ada peristiwa besar. Tapi hidup sering mengubah arah lewat hal-hal yang tampak sederhana.
Aku melihat Wida di lorong sekolah.
Ia tidak mencolok. Tidak berisik. Tidak berusaha menjadi pusat perhatian. Tapi ada sesuatu pada caranya berjalan, pada senyumnya yang tenang, pada matanya yang seolah menyimpan banyak cerita namun tidak memaksa siapa pun untuk membacanya.
Saat itu aku tahu—
ini bukan sekadar kagum.
Ada rasa asing yang pelan-pelan mengetuk dinding hatiku yang sudah lama terkunci.
Bab 3 – Hati yang Mulai Goyah
Aku mulai memperhatikannya dari jauh.
Bukan seperti pengagum yang berani mendekat, tapi seperti penonton yang takut ceritanya berubah terlalu cepat.
Wida ramah pada semua orang. Kesederhanaannya bukan dibuat-buat. Ia tahu kapan harus bicara, dan kapan diam. Aku sering bertanya dalam hati: bagaimana mungkin seseorang bisa setenang itu di usia kami?
Aku mulai takut.
Takut pada perasaan yang tumbuh.
Takut pada harapan yang perlahan hidup.
Aku sering mengingat rumahku yang sunyi. Aku takut mengulang cerita yang sama. Maka aku memilih diam.
Bab 4 – Percakapan yang Mengubah Segalanya
Suatu sore, kami terjebak dalam satu kelompok tugas. Untuk pertama kalinya, aku duduk cukup dekat dengannya.
“Joe,” katanya lembut,
“kamu memang pendiam, atau sedang menyimpan banyak hal?”
Aku terdiam lama. Lalu tersenyum tipis.
“Mungkin dua-duanya.”
Ia tidak memaksaku bicara. Dan justru karena itu, aku ingin bercerita.
Sejak hari itu, kami sering berbincang. Tentang sekolah. Tentang mimpi. Tentang hidup. Aku tidak pernah menceritakan keluargaku secara lengkap, tapi Wida seperti mengerti bahwa ada bagian diriku yang rapuh.
Bab 5 – Puisi yang Tak Pernah Kubacakan
Malam-malamku berubah. Aku mulai menulis. Tentang rasa yang tak berani kusebut. Tentang Wida yang hadir tanpa janji.
Dan suatu malam, lahirlah puisi ini:
Puisi untuk Wida
Aku belajar mencintaimu
dengan cara paling sunyi
menyebut namamu dalam doa
tanpa meminta untuk memiliki
Jika hatiku rumah yang retak
kau datang bukan untuk memperbaiki
tapi duduk di berandanya
dan membuatku percaya
bahwa pulang masih mungkin
Aku tidak tahu bagaimana akhir cerita
tapi jika suatu hari aku kehilanganmu
aku ingin kau tahu
pernah ada seseorang
yang belajar berani
hanya karena mengenalmu
Puisi itu tak pernah kuberikan. Tapi puisi itu menyelamatkanku.
Bab 6 – Kejujuran yang Menyembuhkan
Menjelang kelulusan, aku merasa waktu mulai kejam. Aku tahu, jika aku terus diam, aku akan menyesal.
Suatu sore di halaman sekolah, aku berkata jujur. Tentang perasaanku. Tentang ketakutanku. Tentang keluargaku yang tak utuh.
Wida mendengarkan. Tidak memotong. Tidak menghakimi.
“Aku tidak butuh kamu yang sempurna, Joe,” katanya.
“Aku hanya ingin kamu jujur pada dirimu sendiri.”
Aku tidak menangis. Tapi dadaku terasa lapang.
Bab 7 – Bukan Tentang Memiliki
Kami tidak langsung menjadi sepasang kekasih. Kami sepakat berjalan perlahan. Menjaga batas. Menjaga niat.
Aku belajar bahwa cinta bukan tentang berani mendekat saja, tapi berani sembuh dari masa lalu. Wida tidak pernah memintaku berubah cepat. Ia hanya hadir, dan itu cukup.
Bab 8 – Tamat yang Tenang
Kini, ketika aku menulis kisah ini, aku tersenyum.
Bukan karena segalanya sempurna.
Tapi karena aku pernah berani membuka hati.
Wida mungkin bukan akhir dari segalanya.
Tapi ia adalah awal—
awal dari Joe yang tidak lagi takut mencintai.
Dan aku tahu satu hal dengan pasti:
luka masa lalu tidak menentukan masa depan,
selama kita berani belajar percaya kembali.
Tamat.