Selasa, 13 Januari 2026

kerta

Kertas kertas yang tidak pernah ia tau

Joe tidak pernah jatuh cinta dengan cara yang berisik.
Ia mencintai seperti orang menyimpan napas: diam, lama, dan nyaris lupa caranya bernapas lagi.
Wida tidak pernah tahu itu.
Di kelas tiga SMA, Joe duduk di bangku yang sama sejak kelas satu. Bangku dekat jendela, catnya terkelupas, dan meja yang selalu ia bersihkan sebelum pelajaran dimulai. Dari sana, ia bisa melihat punggung Wida. Hanya punggung—tapi itu sudah cukup untuk membuat hari-harinya berjalan.
Wida punya kebiasaan kecil: menggigit ujung pulpen saat berpikir, menyelipkan rambut ke balik telinga saat gugup, dan menunduk sebentar sebelum tertawa. Joe menghafalnya semua, tanpa pernah berniat mengaku.
Karena ada cinta yang memang tidak ingin diketahui.
Joe menulis puisi di malam hari, ketika rumah sudah sunyi dan suara jam dinding terdengar terlalu keras. Ia menulis bukan untuk dibaca, tapi untuk bertahan.
Aku mencintaimu dalam diam
seperti hujan yang jatuh ke tanah
tanpa pernah bertanya
apakah ia akan dirindukan.
Kertas-kertas itu selalu ia lipat rapi. Bukan karena rencana, tapi karena takut. Takut jika suatu hari perasaannya tercecer, terbaca, lalu ditertawakan. Maka ia lipat, simpan, dan lupakan.
Atau berpura-pura lupa.
Di sekolah, Joe hanya Joe. Teman sekelas. Tidak istimewa. Tidak berani.
Sedangkan di kertas, ia lelaki paling jujur yang pernah ia kenal.
Hari kelulusan datang tanpa peringatan yang cukup. Semua orang sibuk berfoto, tertawa, saling menulis pesan di seragam. Joe berdiri agak jauh, memandang Wida yang dikerubungi teman-temannya.
Ia ingin mendekat.
Ingin berkata sesuatu.
Ingin, sekali saja, tidak menjadi pengecut.
Tapi kakinya diam.
Dan cinta yang terlalu lama dipendam tidak tahu cara berjalan keluar.
Malam itu, Joe menulis puisi terakhirnya tentang Wida.
Jika kelak kau tahu aku pernah mencintaimu,
maafkan aku karena tidak berani hadir
aku memilih menjadi kenangan
daripada risiko menjadi penyesalanmu.
Ia melipat kertas itu dengan sangat rapi. Lalu menyelipkannya ke buku yang tak pernah dibuka lagi.
Bertahun-tahun kemudian, hidup Joe berjalan seperti hidup orang dewasa pada umumnya. Bangun pagi, bekerja, pulang dengan lelah yang sama setiap hari. Wida sesekali hadir dalam ingatan, tapi tidak pernah cukup lama untuk melukai.
Sampai suatu sore, saat ia membersihkan barang-barang lama.
Kertas-kertas itu jatuh ke lantai.
Puisi-puisi yang ia kira telah hilang, ternyata hanya menunggu. Menunggu ia cukup dewasa untuk mengingat betapa tulusnya ia pernah mencintai seseorang.
Joe membaca sambil duduk di lantai.
Ia tidak menangis.
Ia hanya merasa kehilangan sesuatu yang bahkan tak pernah ia miliki.
Di tempat lain, Wida menemukan puisi-puisi itu dengan cara yang sama sekali tidak ia rencanakan. Terselip di buku lama. Terlipat rapi. Seakan seseorang sengaja menyembunyikan perasaannya dengan sopan.
Ia membaca satu.
Lalu dua.
Lalu berhenti.
Tangannya gemetar saat menyadari semua puisi itu tentang dirinya.
Tentang caranya tertawa.
Tentang hari hujan yang bahkan ia sendiri lupa.
Tentang rasa cinta yang tidak pernah menuntut balasan.
Nama Joe muncul pelan di kepalanya.
Dan untuk pertama kalinya, Wida menangis bukan karena ditinggalkan—
melainkan karena tidak pernah diberi kesempatan untuk tahu.
Cinta mereka tidak gagal.
Ia hanya tidak pernah dimulai.
Dan kertas-kertas puisi itu tetap menjadi saksi bisu,
bahwa pernah ada seseorang yang mencintai
dengan begitu rapi, begitu diam,
hingga dunia nyaris tidak menyadarinya.


Ketika Diam Akhirnya Bertemu
Mereka bertemu di tempat yang sama-sama tidak pernah mereka rencanakan.
Sebuah kedai kopi kecil, sore hari, hujan turun tipis seperti ragu-ragu. Joe datang lebih dulu. Ia duduk di sudut, mengaduk kopinya yang sudah dingin, menatap pintu seolah menunggu masa lalu masuk bersama bunyi bel kecil.
Saat Wida masuk, Joe langsung tahu.
Bukan karena wajahnya berubah—
tapi karena dadanya masih bereaksi dengan cara yang sama seperti dulu.
Wida berhenti melangkah sesaat. Matanya mencari tempat duduk, lalu menemukan Joe. Tatapan mereka bertemu, canggung, pelan, dan terlalu lama untuk disebut kebetulan.
Joe berdiri lebih dulu.
“Wida,” katanya. Suaranya tidak lagi gugup, hanya sedikit berat.
“Joe,” jawab Wida. Namanya terasa asing di lidahnya, padahal dulu begitu sering hadir dalam pikirannya.
Mereka duduk berhadapan. Ada jarak meja kecil di antara mereka, tapi rasanya seperti tahun-tahun yang belum selesai dibicarakan.
Tidak ada yang langsung menyinggung puisi.
Mereka bicara hal-hal biasa. Tentang pekerjaan. Tentang kota. Tentang hidup yang ternyata tidak pernah benar-benar sesuai rencana.
Namun di sela-sela kalimat, ada keheningan yang terus menyela.
Akhirnya Wida menarik napas.
“Aku menemukan sesuatu,” katanya pelan.
Joe berhenti mengaduk kopi.
“Kertas-kertas itu,” lanjut Wida. “Puisimu.”
Joe menunduk sebentar. Bukan karena malu, tapi karena akhirnya—sesuatu yang ia sembunyikan begitu lama—telah menemukan tujuannya.
“Aku nggak pernah berniat kamu baca,” katanya jujur.
“Aku tahu,” jawab Wida cepat. “Dan itu yang bikin aku… sedih.”
Joe menatapnya.
“Kenapa?” tanyanya.
“Karena kamu mencintaiku,” kata Wida, suaranya bergetar, “dengan cara yang terlalu rapi sampai aku tidak pernah diberi kesempatan untuk memilih.”
Kata-kata itu tidak menyalahkan. Hanya jujur.
Joe mengangguk pelan.
“Aku takut,” katanya. “Takut kehilangan bahkan sebelum memiliki.”
Wida tersenyum tipis, senyum yang lelah.
“Kita sama,” katanya. “Aku juga takut. Tapi aku bahkan tidak tahu harus takut dari apa.”
Hujan di luar makin deras. Kedai kopi semakin sepi.
“Aku nggak datang untuk menuntut apa pun,” kata Joe akhirnya. “Aku cuma… ingin kamu tahu. Bahwa perasaan itu nyata.”
Wida menatap tangan Joe yang terlipat di atas meja. Tangan yang dulu menulis puisi-puisi tentangnya.
“Aku tahu sekarang,” katanya. “Dan itu cukup.”
Mereka terdiam.
Tidak ada pengakuan cinta. Tidak ada janji. Tidak ada kata seandainya.
Karena cinta yang datang terlambat tidak selalu minta diperbaiki. Kadang ia hanya ingin diakui.
Saat mereka berdiri untuk pulang, Wida berkata pelan,
“Joe… terima kasih sudah mencintaiku. Bahkan ketika aku tidak tahu.”
Joe tersenyum. Senyum yang ringan.
“Terima kasih sudah membaca,” balasnya.
Mereka berpisah di depan pintu kedai. Hujan masih turun. Tapi tidak lagi terasa dingin.
Cinta mereka tidak berubah menjadi kisah bersama.
Namun akhirnya, ia tidak lagi menjadi rahasia.
Dan mungkin, itu sudah cukup untuk membuat masa lalu beristirahat dengan tenang.

Yang Datang Terlambat
Hujan berhenti lebih dulu dari percakapan mereka.
Joe sudah tahu ada sesuatu yang ingin Wida katakan sejak tadi. Cara matanya sesekali menghindar. Cara jemarinya memegang cangkir terlalu erat. Seperti orang yang sedang menimbang kalimat yang tidak akan pernah terasa ringan.
“Aku harus jujur,” kata Wida akhirnya.
Joe mengangguk. Ia sudah menyiapkan dirinya untuk apa pun. Atau setidaknya, ia berpikir begitu.
“Aku sudah menikah,” kata Wida pelan. “Dua tahun.”
Kata-kata itu tidak menghantam. Ia tidak berisik. Ia hanya jatuh—perlahan—lalu menetap di dada Joe, seperti beban yang tidak bisa diangkat.
“Oh,” jawab Joe. Hanya itu.
“Aku bahagia,” lanjut Wida, cepat, seolah ingin meyakinkan. “Bukan bahagia yang sempurna, tapi cukup.”
Joe tersenyum. Senyum yang ia pelajari dari bertahun-tahun menahan perasaan.
“Aku senang dengarnya,” katanya. Dan kali ini, ia tidak berbohong.
Mereka duduk lebih lama dari yang seharusnya. Tidak lagi membicarakan masa depan, hanya masa lalu yang kini sudah tidak punya tempat untuk kembali.
“Aku sering bertanya-tanya,” kata Wida lirih, “kalau aku tahu dulu… mungkin ceritanya beda.”
Joe menggeleng pelan.
“Mungkin juga nggak,” katanya. “Kadang waktu memang bukan soal cepat atau lambat. Kadang cuma soal tidak sejajar.”
Wida menunduk. Air matanya jatuh satu, cepat ia hapus.
“Aku minta maaf,” katanya.
Joe menggeleng lagi.
“Kamu nggak salah,” jawabnya. “Aku cuma datang terlambat.”
Mereka berdiri di depan kedai kopi. Langit mulai gelap, dan jalanan basah memantulkan lampu-lampu kota.
Wida mengulurkan tangan, ragu, lalu menariknya kembali.
“Jaga diri, Joe,” katanya.
“Kamu juga,” balas Joe.
Ia menunggu Wida pergi lebih dulu. Selalu begitu. Selalu ia yang menunggu.
Malam itu, Joe pulang dan membuka kembali kertas-kertas puisinya. Ia tidak membacanya satu per satu. Ia sudah hafal.
Ia melipat semuanya kembali dengan rapi.
Bukan untuk disimpan.
Tapi untuk dilepaskan.
Kalimat Penutup
Ia mencintai terlalu lama dalam diam,
hingga ketika semesta akhirnya memberi jawaban,
yang tersisa hanyalah keberanian—
tanpa lagi kesempatan.