Selasa, 13 Januari 2026

terucap

Judul: Senyap yang Menyebut Namamu


Bab 1 – Setelah Waktu yang Panjang
Hujan turun pelan di sebuah kedai kopi kecil dekat stasiun tua. Wida duduk di sudut ruangan, jemarinya melingkar pada cangkir teh hangat. Hijab krem yang ia kenakan membingkai wajahnya yang tenang, matanya teduh—seolah menyimpan banyak cerita yang tak pernah diucapkan.
Sudah tujuh tahun sejak ia lulus SMA. Tujuh tahun pula sejak ia belajar bahwa tidak semua rasa harus memiliki suara.
Pintu kedai terbuka.
Joe masuk dengan jaket hitam lusuh dan ransel di punggungnya. Rambutnya sedikit berantakan, wajahnya sama—dingin bagi dunia, tapi menyimpan senyum yang hanya muncul pada orang-orang tertentu.
Pandangan mereka bertemu.
Tidak ada pelukan. Tidak ada sapaan berlebihan. Hanya jeda. Dan di jeda itu, seluruh masa lalu seolah bangkit kembali.
“Wida,” ucap Joe pelan.
“Joe,” jawabnya singkat, tersenyum kecil.
Nama itu masih terasa sama di lidah mereka.

Bab 2 – Masa Lalu yang Tak Pernah Pergi
Dulu, di bangku SMA, mereka bukan siapa-siapa.
Joe selalu duduk di pojok kelas, lebih banyak diam, terlihat cuek, tapi diam-diam memperhatikan. Wida duduk beberapa bangku di depan—kalem, sopan, dan selalu menenangkan ruangan dengan kehadirannya.
Mereka jarang bicara.
Namun Joe tahu, Wida selalu membawa buku catatan kecil berwarna biru.
Dan Wida tahu, Joe selalu pulang paling akhir.
Cinta mereka tumbuh tanpa pengakuan.
Tanpa janji.
Tanpa keberanian.
Joe merasa belum pantas.
Wida merasa tak perlu memaksa.
Dan waktu, seperti biasa, memilih berjalan tanpa menunggu.


Bab 3 – Versi Dewasa dari Kita
Mereka duduk berhadapan.
Joe mulai bercerita—tentang pekerjaannya, tentang hidup yang ia jalani dengan caranya sendiri. Humornya muncul sesekali, kering tapi tepat sasaran. Wida tertawa kecil, tulus, seperti dulu.
“Kamu masih pendiam,” kata Wida.
“Kamu masih bikin orang nyaman tanpa sadar,” balas Joe.
Tidak ada pertanyaan tentang status. Tidak ada pembahasan tentang masa lalu yang terlalu dalam. Keduanya paham—beberapa hal tak perlu dibongkar, cukup dirasakan.
Joe memperhatikan Wida. Hijabnya bukan sekadar penutup kepala, tapi bagian dari jati dirinya. Ada keteguhan di sana. Kharisma yang tumbuh dari ketenangan.
Dan Joe menyadari—rasa itu belum pergi.
Hanya bersembunyi.


Bab 4 – Cinta yang Tidak Berisik
Saat mereka berdiri hendak berpisah, hujan kembali turun.
Joe menatap Wida, ragu sejenak. Lalu berkata,
“Aku dulu suka kamu.”
Wida terdiam. Senyumnya tak hilang.
“Aku tahu,” jawabnya pelan.
Joe terkejut.
“Kenapa nggak bilang?” tanyanya.
Wida menunduk sejenak.
“Karena nggak semua cinta harus diperjuangkan dengan kata-kata. Ada yang cukup disimpan… sampai waktunya tepat.”
Joe mengangguk. Untuk pertama kalinya, ia merasa dimengerti tanpa perlu menjelaskan.

Bab 5 – Jika Tak Bersama, Setidaknya Pernah Ada
Mereka berpisah di depan stasiun.
Tidak ada janji bertemu lagi.
Tidak ada ikrar cinta.
Namun ada kelegaan.
Karena cinta mereka tidak mati—
ia hanya memilih diam, tumbuh dewasa, dan berakhir dengan tenang.
Wida berjalan pergi dengan langkah mantap.
Joe berdiri, tersenyum kecil.
Dalam hatinya, ia berkata:
Ada cinta yang tak pernah menjadi cerita bersama,
tapi selamanya menjadi bagian dari siapa kita.
Dan itu sudah cukup.

Bab 6 – Pertemuan yang Tak Direncanakan
Pertemuan kedua itu terjadi tanpa rencana.
Sebuah acara kecil reuni angkatan di aula sekolah lama. Wida awalnya ragu datang, tapi akhirnya melangkah juga. Ia berdiri di antara wajah-wajah yang pernah menjadi bagian dari hidupnya, dengan ketenangan yang kini jauh lebih matang.
Joe datang belakangan.
Ia tidak berubah. Masih memilih duduk di sisi ruangan, mengamati tanpa banyak bicara. Namun matanya langsung menemukan Wida—seolah dunia hanya menyediakan satu titik fokus.
Banyak mata tertuju pada Wida.
Beberapa pria mendekat, tersenyum, membuka obrolan. Ada yang sudah mapan, ada yang datang dengan kepercayaan diri berlebih. Wida tetap sama—santun, lembut, tidak memberi harapan berlebihan, namun cukup hangat hingga membuat orang mudah jatuh hati.
Joe melihat semuanya.
Dadanya sesak, tapi wajahnya datar.


Bab 7 – Yang Memilih Diam
Joe tahu.
Sejak lama ia tahu bahwa Wida bukan perempuan yang akan sepi peminat. Ia cantik dengan cara yang tenang, bukan mencolok. Kharismanya bukan dari suara keras, tapi dari sikap yang konsisten.
“Joe, kamu nggak nyamperin Wida?” tanya seorang teman.
Joe menggeleng pelan.
“Nanti aja.”
Padahal ia tahu, nanti sering kali berarti tidak pernah.
Ia melihat seorang pria memberikan nomor ponsel pada Wida. Wida menerimanya dengan sopan, tanpa janji. Namun tetap saja—itu cukup membuat Joe merasa kalah sebelum bertanding.
Bukan karena Wida memilih orang lain.
Tapi karena Joe tak pernah memilih untuk maju.

Bab 8 – Percakapan yang Menggantung
Mereka akhirnya berbicara.
Di halaman belakang sekolah, tempat bangku-bangku tua masih berdiri. Senja menggantung, warnanya pucat.
“Kamu kelihatan sibuk,” kata Joe pelan.
Wida tersenyum kecil.
“Biasa. Hidup jalan terus.”
Joe mengangguk. Ia ingin bertanya banyak hal. Tentang siapa saja yang mendekatinya. Tentang apakah hatinya masih kosong. Tentang apakah ia masih punya tempat.
Namun tak satu pun keluar.
“Kamu sendiri?” tanya Wida.
“Masih,” jawab Joe singkat.
Padahal kata masih itu berat.
Isinya tahun-tahun sunyi.
Isinya doa-doa yang tak pernah ia ucapkan keras-keras.


Bab 9 – Banyak yang Datang, Satu yang Bertahan
Wida pulang malam itu dengan pikiran penuh.
Ia tahu Joe melihat.
Ia tahu Joe diam.
Dan justru itu yang membuat hatinya bergetar.
Dalam hidupnya, memang banyak yang datang. Ada yang menawarkan masa depan, ada yang membawa harapan. Tapi Joe—ia tidak menawarkan apa-apa, dan justru itu yang membuatnya berbeda.
Namun Wida juga tahu batas.
Joe tak pernah meminta.
Tak pernah melangkah.
Tak pernah berkata, aku ingin kamu.
Dan Wida tak ingin memaksa seseorang mencintainya dengan suara.


Bab 10 – Tahun-Tahun yang Dilewati Sendiri
Waktu berjalan.
Satu demi satu, kabar datang ke Joe—Wida dekat dengan seseorang. Lalu menjauh. Lalu dekat lagi dengan yang lain.
Joe tetap sendiri.
Ia tidak membuka hati. Tidak mencoba mengenal siapa pun. Setiap kali ada yang bertanya kenapa, ia hanya tersenyum tipis.
“Ada yang belum selesai,” katanya.
Padahal yang belum selesai itu bahkan tidak pernah dimulai.
Joe memilih setia pada kenangan, bukan karena bodoh—
tapi karena baginya, cinta bukan soal memiliki.
Ia hanya ingin Wida bahagia.
Walau bukan dengannya.


Bab 11 – Pertemuan Ketiga: Di Antara Doa dan Kenangan
Gedung pernikahan itu dipenuhi cahaya dan tawa. Bunga-bunga putih menghiasi setiap sudut ruangan. Hari bahagia milik orang lain—namun bagi Wida dan Joe, hari itu justru terasa berat.
Mereka bertemu kembali.
Bukan sebagai tokoh utama.
Hanya tamu.
Namun rasa yang tertinggal di antara mereka selalu terlalu besar untuk disebut biasa.
Joe berdiri di dekat meja minuman, mengenakan kemeja sederhana. Wida datang bersama beberapa teman perempuan. Hijabnya berwarna lembut, senyumnya tetap sama—menenangkan, tapi kini menyimpan sesuatu yang berbeda.
Tatapan mereka bertemu.
Lama.
Seolah bertahun-tahun percakapan yang tak pernah terjadi ingin keluar bersamaan.
“Akhirnya kita ketemu lagi,” ucap Wida lebih dulu.
Joe mengangguk kecil.
“Di tempat yang ramai… tapi rasanya sepi.”
Mereka tertawa pelan. Tertawa yang bukan karena lucu, tapi karena gugup.
Mereka duduk di sudut ruangan. Musik pernikahan mengalun, lembut namun menyayat.
“Kamu masih inget SMA?” tanya Wida.
Joe tersenyum tipis.
“Inget kamu duduk di depan. Selalu rapi. Selalu tenang.”
Wida menunduk.
“Aku inget kamu yang paling sering pura-pura cuek.”
Joe terdiam sejenak, lalu berkata pelan,
“Aku bukan cuek. Aku takut.”
Kalimat itu menggantung lama di antara mereka.

Bab 12 – Kejujuran yang Datang Terlambat
Wida menarik napas dalam. Tangannya gemetar, sesuatu yang jarang terjadi padanya.
“Joe… aku mau jujur.”
Joe menoleh. Matanya penuh kehati-hatian. Seolah ia tahu, kejujuran ini bisa melukainya.
“Aku sebentar lagi tunangan.”
Joe mengangguk pelan. Tidak kaget. Ia sudah menduga.
“Tapi…” suara Wida melemah,
“aku juga pernah punya rasa ke kamu.”
Dunia Joe seolah berhenti.
“Dari SMA,” lanjut Wida, matanya berkaca-kaca,
“aku nunggu. Aku pikir suatu hari kamu akan bicara. Tapi kamu terlalu diam… dan aku terlalu sabar.”
Joe tersenyum getir.
“Aku kira diamku cukup.”
“Tidak,” jawab Wida lirih.
“Cintaku ke kamu nyata. Tapi waktu tidak pernah menunggu orang yang sama-sama takut.”
Air mata jatuh di pipi Wida.
“Aku minta maaf karena jujurnya sekarang. Saat semuanya sudah terlambat.”
Joe menunduk lama. Dadanya sesak, tapi ia tidak marah.
“Terima kasih,” katanya akhirnya.
“Lebih baik terlambat daripada aku mati dengan tanda tanya.”


Bab 13 – Hari yang Mengakhiri Diam
Hari tunangan Wida tiba.
Joe tidak datang.
Bukan karena membenci.
Tapi karena ia tahu batas cintanya.
Ia berdiri sendiri di kamar, menatap jendela. Mengingat semua versi Wida yang pernah ia simpan dalam hatinya—siswi SMA yang pendiam, perempuan dewasa yang penuh kharisma, dan kini… calon istri orang lain.
Ia berbisik pada dirinya sendiri,
“Aku mencintaimu dengan cara yang salah… tapi perasaanku tidak pernah salah.”
Hari itu, Joe akhirnya melakukan hal yang selama ini ia tunda:
Ia melepaskan.
Bukan dengan benci.
Bukan dengan air mata berisik.
Tapi dengan doa.
“Aku ikhlas, Wida.”
Dan untuk pertama kalinya, dadanya terasa ringan.


Bab 14 – Cinta yang Tidak Pernah Menyesal
Beberapa bulan kemudian, Joe mulai hidup lagi.
Ia tersenyum lebih sering. Membuka obrolan. Membiarkan orang lain masuk, tanpa membandingkan.
Wida pun melangkah ke hidup barunya—membawa kenangan, bukan penyesalan.
Mereka tidak lagi saling mencari.
Tidak juga saling melupakan.
Karena cinta mereka tidak gagal.
Ia hanya selesai.
Ada cinta yang tidak pernah menjadi milik,
namun membentuk siapa kita hari ini.
Dan cinta seperti itu—
tidak pernah pantas disesali.
Di suatu titik dalam hidup, Joe dan Wida belajar hal yang sama:
Bahwa diam bisa menjadi cinta,
namun keberanian tetap dibutuhkan untuk waktu yang tepat.
Dan meski mereka bukan akhir satu sama lain,
mereka pernah menjadi awal yang paling tulus.

Bab 15 – Jarak yang Bernama Ikhlas
Sejak hari pertunangan itu, Joe benar-benar menjaga jarak.
Bukan menghilang, bukan membenci—hanya menempatkan diri di tempat yang seharusnya. Ia berhenti mencari kabar Wida, berhenti menanyakan lewat teman-teman. Bukan karena tak peduli, tapi karena peduli dengan cara yang lebih dewasa.
Di malam-malam sepi, rasa itu masih datang. Tapi Joe belajar tidak menahannya terlalu lama.
“Aku pernah mencintai seseorang,” gumamnya suatu malam,
“dan itu sudah cukup.”
Ia mulai menata hidupnya kembali, perlahan, tanpa tergesa.


Bab 16 – Wida dan Keputusan yang Berat
Di sisi lain, Wida menjalani hari-hari persiapan pernikahan.
Semua berjalan baik. Calon suaminya adalah lelaki yang baik, bertanggung jawab, dan mencintainya dengan cara yang jelas. Tidak ada drama, tidak ada keraguan di permukaan.
Namun di balik ketenangannya, Wida sering terdiam sendiri.
Ia tidak menyesal memilih jalan ini. Tapi ia belajar menerima satu kenyataan: ada cinta yang benar, namun tidak ditakdirkan.
Setiap kali nama Joe terlintas, ia hanya berdoa.
“Semoga kamu bahagia… dengan atau tanpa aku.”


Bab 17 – Seseorang yang Hampir Datang
Joe sempat mencoba membuka hati.
Ada seorang perempuan yang lembut, perhatian, dan tulus. Mereka berbincang, tertawa, bahkan berjalan bersama beberapa kali. Tapi Joe jujur sejak awal—ia tidak ingin memulai dengan hati yang belum sepenuhnya kosong.
Ia tidak ingin ada orang yang menjadi pelarian.
Dan perempuan itu pun mengerti.
Joe kembali sendiri. Bukan karena menutup diri, tapi karena menghargai cinta—baik yang lalu maupun yang akan datang.


Bab 18 – Undangan Putih
Undangan itu akhirnya sampai.
Nama Wida tercetak rapi, anggun. Tanggalnya dekat.
Joe memandangi undangan itu lama. Jantungnya berdegup lebih cepat, tapi tidak lagi sakit seperti yang ia bayangkan. Ada sedih, tentu. Tapi lebih banyak rasa damai.
Ia tersenyum kecil.
“Aku akan datang,” katanya pada dirinya sendiri.
“Bukan sebagai siapa-siapa… hanya sebagai seseorang yang pernah mencintai dengan tulus.”

Bab 19 – Sehari Sebelum Janji
Malam sebelum pernikahan, Wida duduk di kamarnya.
Ia menatap langit-langit, mengingat seluruh perjalanan hidupnya. Termasuk satu nama yang akan selalu punya ruang tersendiri—tanpa harus diucapkan lagi.
Ia tidak berharap Joe datang.
Ia tidak juga berharap ia tidak datang.
Jika ia datang, Wida ingin mengingatnya sebagai kenangan yang indah.
Jika tidak, ia akan tetap mendoakannya.
“Terima kasih,” bisiknya lirih, entah kepada siapa.


Bab 20 – Selamat, dengan Sepenuh Hati
Rumah pernikahan itu dipenuhi cahaya dan doa.
Wida berdiri anggun di pelaminan, wajahnya tenang, senyumnya tulus. Ia terlihat bahagia—dan memang bahagia.
Joe datang.
Ia duduk di barisan tamu, rapi, sederhana. Tidak menunduk, tidak menyembunyikan diri. Ia melihat Wida dengan mata yang penuh penerimaan.
Saat acara usai, Joe menghampiri.
Tidak lama. Tidak berlebihan.
“Selamat ya, Wida,” katanya pelan, tersenyum tulus.
Wida menatapnya. Matanya berkaca-kaca, tapi senyumnya tidak goyah.
“Terima kasih, Joe. Terima kasih… sudah pernah ada.”
Mereka berjabat tangan.
Singkat.
Hangat.
Cukup.
Joe melangkah pergi dengan langkah ringan. Tidak ada yang tertinggal di dadanya selain rasa syukur.
Cinta tidak selalu berakhir dengan memiliki.
Kadang, ia hanya ingin dikenang dengan baik.
Dan hari itu,
Joe membuktikan bahwa cinta dalam diam
bisa menjadi cinta yang paling dewasa.