Rabu, 31 Desember 2025

cerpnt

Mohon maaf cerita novel atau cerpen ini hanya FIKTIF, apabila ada kesamaan nama dan kejadian dalam ilustrasi ini, saya mohon maaf (penulis)





Aku pertama kali melihat Wida pada pagi yang sederhana—pagi yang seharusnya tak menyimpan apa pun selain rutinitas. Ia berdiri dengan tenang, senyumnya tidak berlebihan, tapi cukup untuk membuat waktu melambat sesaat. Ada keteduhan di wajahnya, seolah ia membawa damai dari tempat yang jauh.
Wida bukan tipe perempuan yang datang dengan kegaduhan. Ia hadir seperti doa yang tak diucapkan keras-keras, namun terasa. Setiap kali ia tersenyum, aku merasa sedang melihat seseorang yang sudah berdamai dengan hidupnya, meski mungkin menyimpan banyak cerita di balik diamnya.
Aku, pria biasa dengan masa lalu yang penuh keraguan, tak pernah berniat jatuh cinta lagi. Luka-luka lama membuatku belajar berhati-hati, bahkan pada harapan. Namun Wida—entah bagaimana—tidak memaksa hatiku terbuka. Ia hanya hadir, dan itu sudah cukup untuk membuat celah kecil di dinding yang selama ini kubangun.
Kami sering berbincang tentang hal-hal ringan: hujan yang datang terlalu cepat, senja yang terlalu singkat, dan mimpi-mimpi kecil yang belum berani kami sebutkan dengan lantang. Dari caranya mendengar, aku tahu Wida bukan sekadar menunggu giliran bicara. Ia benar-benar hadir, dan kehadiran itulah yang perlahan mengubahku.
Ada hari ketika aku ingin mengungkapkan segalanya—tentang kagum, tentang rindu yang tumbuh diam-diam. Namun aku memilih diam, sebab aku belajar satu hal dari Wida: tidak semua yang indah harus segera dimiliki. Ada cinta yang tumbuh dengan cara paling sopan—menunggu.
Suatu sore, ketika langit meredup dan angin membawa aroma hujan, Wida berkata pelan,
“Kadang, yang paling tulus itu tidak berisik.”
Aku tersenyum, karena saat itu aku tahu—aku sedang jatuh cinta. Bukan dengan gegap gempita, tapi dengan cara yang tenang. Seperti musim yang berganti tanpa pengumuman, seperti doa yang akhirnya menemukan jalannya sendiri.
Dan jika suatu hari takdir mempertemukan kami lagi di persimpangan waktu yang berbeda, aku ingin mengatakan satu hal pada Wida:
Terima kasih telah mengajarkanku bahwa cinta tidak selalu tentang memiliki,
kadang ia cukup hadir—dan mengubah segalanya.



Bab 2 – Jarak yang Mengajarkan Rindu
Sejak pagi itu, namanya tinggal lebih lama di kepalaku daripada yang kuinginkan.
Wida.
Nama itu sederhana, tapi entah mengapa selalu datang bersama rasa hangat yang sulit dijelaskan. Aku mulai menyadari satu hal yang menakutkan: kehadirannya pelan-pelan menjadi kebiasaan. Dan kebiasaan, sering kali, adalah awal dari rindu.
Kami tidak selalu bertemu. Bahkan lebih sering tidak. Tapi setiap kali kami berpapasan, ada jeda kecil yang tak pernah kami akui—jeda yang membuat dunia seolah menunggu kami menyelesaikan sesuatu yang belum sempat diucapkan.
Wida tetap sama: tenang, rapi dalam sikap, dan selalu membawa senyum yang tidak pernah memaksa siapa pun untuk membalasnya. Namun aku mulai melihat sesuatu yang lain—kesedihan yang ia simpan rapi, seperti rahasia yang terlalu sopan untuk dikeluarkan.
Aku ingin bertanya.
Namun aku takut menjadi terlalu jauh.
Hari-hari berlalu, dan aku mulai belajar mengenalnya dari hal-hal kecil. Dari caranya memilih kata, dari bagaimana ia menunduk sebentar sebelum tersenyum, dari diamnya yang tidak kosong. Wida mengajarkanku bahwa seseorang bisa kuat tanpa harus terlihat keras.
Suatu sore, hujan turun tanpa aba-aba. Kami berteduh di tempat yang sama, diam-diam seperti dua orang asing yang pura-pura biasa saja.
“Mas,” katanya pelan, “kalau sesuatu tidak bisa dimiliki… apa harus dilepaskan?”
Pertanyaan itu menghantamku lebih keras daripada hujan.
Aku menoleh, tapi ia menatap ke depan. Seolah pertanyaan itu bukan untuk dijawab, melainkan untuk dipahami.
“Mungkin,” jawabku akhirnya, “tidak semua harus dimiliki. Ada yang cukup dijaga… meski dari jauh.”
Ia tersenyum kecil. Senyum yang tidak sepenuhnya bahagia, tapi juga tidak sedih. Senyum orang yang sudah sering belajar ikhlas, meski hatinya lelah.
Sejak hari itu, aku mengerti: mencintai Wida bukan tentang keberanian untuk mendekat, tapi keteguhan untuk menghormati batas. Dan batas itu—anehnya—justru membuat rasa ini semakin dalam.
Aku pulang dengan langkah pelan, membawa satu kesadaran yang tak bisa kutolak lagi.
Aku mulai takut kehilangan seseorang yang belum pernah kumiliki.
Dan di situlah aku tahu…
perjalananku bersama Wida baru saja dimulai.

Bab 3 – Rahasia yang Tak Pernah Diucapkan
Ada perasaan yang tumbuh tanpa izin, lalu menetap tanpa pamit.
Begitulah rasa itu padaku—tentang Wida.
Aku mulai memperhatikan hal-hal yang tak seharusnya kuperhatikan. Cara ia berjalan ketika lelah, caranya menahan tawa agar tetap sopan, caranya menunduk saat ada sesuatu yang ingin ia katakan namun diurungkan. Semua itu menjadi bagian dari pikiranku, seperti potongan doa yang tak pernah selesai.
Namun semakin aku mengenalnya, semakin aku sadar: Wida menyimpan jarak bukan karena tidak peduli, melainkan karena terlalu peduli. Ada batas yang ia jaga dengan sangat hati-hati, seolah takut melukai siapa pun—termasuk dirinya sendiri.
Suatu hari, kami duduk bersebelahan dalam diam yang panjang. Tidak canggung, tapi juga tidak ringan. Angin sore berembus pelan, membawa aroma tanah basah.
“Aku tidak pandai bercerita,” katanya tiba-tiba.
“Tapi aku pandai menyimpan.”
Aku menoleh.
“Kadang menyimpan terlalu lama bisa membuat hati lelah,” jawabku pelan.
Ia tersenyum, kali ini lebih rapuh dari biasanya.
“Tidak semua orang siap mendengar cerita yang belum selesai.”
Kalimat itu membuatku diam. Karena aku tahu, Wida sedang berbicara tentang dirinya—tentang masa lalu yang belum benar-benar pulang, tentang harapan yang ia lipat rapi agar tak terlihat.
Saat itu, aku ingin mengatakan banyak hal. Bahwa aku ingin menjadi tempat pulangnya. Bahwa aku ingin menemaninya, bukan menyelamatkannya. Tapi kata-kata itu tertahan di dadaku. Aku takut jika keberanianku justru menjadi beban baginya.
Malam itu, aku pulang dengan satu pertanyaan yang tak henti berputar di kepala:
Apakah mencintai selalu harus diungkapkan?
Atau cukup disimpan, seperti doa yang hanya Tuhan yang tahu?
Sejak hari itu, aku memilih cara paling sunyi untuk mencintai Wida—dengan hadir tanpa menuntut, dengan peduli tanpa mengikat, dengan mendoakan tanpa berharap diketahui.
Namun aku lupa satu hal:
bahwa hati manusia tidak diciptakan untuk selamanya kuat dalam diam.
Dan suatu hari nanti, rahasia yang tak pernah diucapkan…
akan menuntut keberanian untuk memilih.


Bab 4 – Pilihan yang Tak Bisa Ditunda
Ada waktu ketika diam bukan lagi bentuk kesabaran,
melainkan ketakutan yang menyamar sebagai kebijaksanaan.
Aku sampai pada waktu itu.
Hari-hari bersama Wida tak berubah secara kasat mata. Ia tetap tenang, tetap ramah, tetap menjaga jarak yang sopan. Namun di balik itu, aku merasakan sesuatu yang bergeser—seperti tanah yang perlahan retak, menunggu hujan terakhir untuk runtuh.
Aku mulai lelah berdialog dengan diriku sendiri.
Antara bertahan dalam diam, atau jujur lalu mungkin kehilangan.
Suatu senja, langit berwarna abu-abu pucat. Kami berjalan beriringan tanpa tujuan yang jelas. Langkah kami pelan, seolah sama-sama menunggu sesuatu terjadi.
“Mas,” Wida memecah keheningan,
“kalau suatu hari seseorang memilih pergi… apakah itu berarti dia menyerah?”
Aku berhenti berjalan.
“Tidak selalu,” jawabku setelah menarik napas panjang.
“Kadang pergi adalah satu-satunya cara agar hati tidak hancur.”
Ia mengangguk pelan. Matanya tidak menatapku, tapi aku tahu ada gemetar yang sedang ia tahan.
Saat itulah aku sadar—jika aku terus diam, aku bukan sedang melindungi perasaan siapa pun. Aku hanya sedang menyelamatkan diriku sendiri dari risiko terluka.
Dan itu egois.
“Wida,” kataku akhirnya, suara ini nyaris bergetar,
“aku tidak tahu bagaimana masa depanmu. Aku juga tidak tahu apakah aku pantas ada di dalamnya.”
Ia menoleh. Untuk pertama kalinya, tidak ada senyum.
“Tapi aku tahu satu hal,” lanjutku,
“aku menyimpan perasaan yang terlalu jujur untuk terus disembunyikan.”
Angin berhenti. Dunia seolah memberi kami ruang.
“Aku tidak ingin memaksamu,” kataku pelan,
“aku hanya ingin kau tahu… ada seseorang yang memilihmu, bahkan ketika ia tahu pilihannya mungkin tidak akan dibalas.”
Wida menunduk lama. Aku melihat pundaknya naik turun, menahan sesuatu yang hampir jatuh.
“Aku takut,” katanya lirih.
“Aku takut berharap, lalu kehilangan lagi.”
Kalimat itu menghantamku lebih keras daripada penolakan.
Aku mengangguk.
“Aku juga takut. Tapi mungkin… rasa takut itu tanda bahwa hati kita masih hidup.”
Ia mengangkat wajahnya. Matanya basah, tapi jujur.
“Aku tidak bisa menjanjikan apa pun,” katanya.
“Namun aku berterima kasih… karena akhirnya kau memilih jujur.”
Senja itu tidak melahirkan jawaban.
Tidak ada kepastian.
Tidak ada janji.
Namun ada satu hal yang berubah selamanya:
kami tidak lagi berjalan dalam kebohongan yang bernama diam.
Dan aku tahu, apa pun akhirnya nanti—
aku telah memilih untuk berani.


Bab 5 – Doa yang Menentukan Takdir
Setelah senja itu, kami tidak lagi sering berbincang.
Bukan karena menjauh, tapi karena masing-masing sedang belajar berdamai dengan isi hati sendiri.
Aku membawa nama Wida ke dalam sujud-sujud yang lebih panjang dari biasanya. Untuk pertama kalinya, aku tidak meminta untuk memiliki—aku hanya meminta kejelasan. Jika ia baik untuk imanku, dekatkan. Jika tidak, kuatkan hatiku untuk mengikhlaskan.
Ternyata berdoa untuk seseorang yang kita cintai tanpa menyebut kata memiliki adalah bentuk cinta yang paling sunyi… dan paling tulus.
Wida pun berubah. Senyumnya masih ada, tapi kini disertai ketenangan baru. Seolah ia telah menyerahkan kegelisahannya kepada Yang Maha Mengetahui, lalu memilih berjalan tanpa beban berlebih.
Suatu pagi, ia mengirim pesan singkat.
“Mas, boleh kita bicara?”
Kami bertemu di tempat yang sederhana. Tidak ada hujan, tidak ada senja. Hanya siang yang jujur, seperti niat yang tak ingin lagi disamarkan.
“Aku banyak berdoa,” kata Wida pelan.
“Bukan tentang rasa… tapi tentang arah.”
Aku mengangguk. Aku tahu, percakapan ini bukan tentang cepat atau lambat, melainkan tentang kesiapan.
“Aku belajar,” lanjutnya,
“bahwa cinta yang benar tidak membuat kita lupa pada Tuhan. Justru mendekatkan.”
Dadaku terasa hangat.
“Aku tidak ingin hubungan yang hanya kuat di awal,” katanya lagi.
“Aku ingin yang tenang, yang tumbuh perlahan, yang tidak menjauhkan kita dari nilai-nilai yang kita jaga.”
Aku menatapnya dengan mata yang tak lagi ingin menyimpan apa pun.
“Kalau begitu,” kataku,
“izinkan aku mengenalmu dengan cara yang lebih benar. Tanpa tergesa. Tanpa sembunyi. Dengan niat yang jelas.”
Wida tersenyum. Senyum yang berbeda dari sebelumnya. Tidak lagi ragu, tidak lagi rapuh.
“Kita serahkan sisanya pada Tuhan,” ucapnya.
Dan saat itu aku tahu—
takdir tidak selalu datang dengan kepastian instan,
kadang ia datang lewat doa-doa yang saling menguatkan.
Kami tidak berjanji tentang selamanya.
Kami hanya sepakat tentang satu hal:
berjalan dengan niat baik, dan membiarkan Tuhan menentukan akhir terbaik.
Karena cinta yang dewasa bukan tentang saling menggenggam terlalu erat,
melainkan saling menjaga… agar tidak tersesat.

Bab 6 – Pulang pada Tenang
Waktu tidak pernah tergesa, tapi selalu tepat.
Hari-hari setelah pertemuan itu berjalan perlahan, tanpa tuntutan, tanpa kata-kata besar. Kami belajar mengenal bukan hanya kebiasaan, tapi juga nilai. Bukan hanya tawa, tapi juga cara masing-masing menghadapi lelah dan kecewa.
Wida tidak pernah meminta lebih.
Aku tidak pernah menjanjikan yang berlebihan.
Namun justru di situlah rasa aman tumbuh.
Kami berjalan berdampingan—kadang dekat, kadang memberi ruang. Tidak ada kepemilikan yang membelenggu, tidak ada rasa takut kehilangan yang berlebihan. Yang ada hanya kesadaran: jika Tuhan menakdirkan, tak satu pun bisa menghalangi.
Suatu sore, di antara langit yang cerah dan angin yang ramah, Wida berkata dengan suara yang paling jujur yang pernah kudengar darinya,
“Tenang itu bukan tanpa masalah…
tapi tahu kepada siapa kita menyerahkan segalanya.”
Aku menatapnya lama. Bukan karena ragu, tapi karena yakin.
“Aku tidak ingin mencintaimu dengan cara yang ramai,” kataku.
“Aku ingin mencintaimu dengan cara yang benar.”
Ia tersenyum—senyum yang tidak lagi bertanya, tidak lagi takut.
Kami tidak berjanji tentang dunia yang sempurna.
Kami hanya sepakat untuk pulang pada nilai yang sama,
menjaga rasa dengan doa,
dan berjalan tanpa saling melukai.
Dan aku akhirnya mengerti:
Wida bukan hadir untuk membuat hidupku berwarna,
melainkan untuk membuatnya lebih bermakna.
Jika suatu hari kisah ini berlanjut ke tahap yang lebih serius,
aku ingin memulainya bukan dengan kata cinta,
melainkan dengan niat yang lurus.
Karena cinta yang sampai tujuan
bukan yang paling keras diperjuangkan,
melainkan yang paling sabar dipantaskan.
Tamat.


cerpn

Bangku belakang dakat Jendela
Tahun 2002.
Massa berseragam putih abu-abu,
menyimpan mimpi di saku kiri dan gugup di saku kanan.
Setiap pagi, aku duduk di bangku ketiga dari jendela.
Bukan karena strategis,
melainkan karena dari sana aku bisa melihatnya
tanpa harus menatap terlalu lama.
Ia duduk di barisan depan,
selalu rapi, selalu tenang.
Tangannya menopang pipi,
seolah dunia sekolah tak pernah terburu-buru baginya.
Senyumnya sederhana,
namun cukup untuk membuat jam pelajaran
terasa lebih pendek.
Aku tak pernah berani menyapanya.
Bukan karena tak mau,
tapi karena aku tahu:
tak semua rasa harus berubah menjadi kata.
Ada kekaguman yang cukup disimpan
di antara halaman buku dan doa pulang sekolah.
Setiap kali guru menulis di papan,
aku justru sibuk mencatat hal lain—
cara ia tersenyum,
cara ia menunduk saat membaca,
cara ia diam-diam memperbaiki kerudungnya.
Aku hanya anak SMA biasa,
belum tahu apa-apa tentang masa depan.
Namun satu hal yang aku yakini saat itu:
jika kelak aku tumbuh menjadi seseorang,
kekaguman ini akan menjadi alasan
mengapa aku belajar lebih sungguh-sungguh.
Bel sekolah berbunyi.
Kami pulang dengan arah yang berbeda.
Ia pergi tanpa menoleh,
dan aku tetap di sana—
mengemas rasa,
menyimpannya rapi,
agar tak mengganggu takdir.
Aku tak tahu ke mana hidup membawanya.
Namun di ingatanku,
ia akan selalu duduk di bangku kelas itu,
dengan senyum yang tak pernah menuntut apa pun dariku.


Aku mengagumimu
seperti murid mengagumi pagi—
diam-diam berharap,
tanpa pernah menuntut.
Di kelas sederhana itu
kau duduk tenang,
sementara hatiku
belajar ramai sendiri.
Aku tak punya keberanian,
hanya doa yang malu-malu.
Tak punya janji,
hanya harap yang kusembunyikan
di balik buku tulis.
Jika suatu hari kau bahagia,
aku ingin percaya
bahwa pernah ada seorang anak SMA
tahun dua ribu dua,
yang mengagumimu dengan cara paling sederhana:
menjaganya dalam diam.


Waktu terus berjalan sesuai kehendak Tuhan 

Pekan pertama 
Tahun ajaran baru dimulai.
Aku pertama kali melihatmu di kelas itu.
Duduk tenang, wajahmu seperti pagi yang belum disentuh bising.
Sejak hari itu, aku belajar datang lebih awal.
Bulan berikutnya 
Musim hujan sering membuat kelas lembap.
Kau tetap tersenyum kecil,
dan aku belajar bahwa keteduhan
tak selalu datang dari cuaca.
Waktu trus melaju 
Ulangan harian datang silih berganti.
Aku mulai rajin belajar,
bukan demi nilai,
tapi demi pantas duduk di kelas yang sama denganmu.
Hari silih berganti
Aku hafal caramu menunduk saat membaca.
Aku hafal jeda napasmu sebelum tersenyum.
Dan aku mulai sadar—
kekaguman bisa tumbuh tanpa harus berbicara.

Peluh dan panas membuat hari terasa panjang.
Namun melihatmu tetap rapi dan tenang
membuatku belajar:
sabar itu indah.

Empat bulan berlalu
Pembagian rapor.
Aku senang nilainya naik.
Dalam hati aku berkata:
“Terima kasih, kau tak tahu apa-apa,
tapi kau membuatku berusaha.”

Libur panjang.
Aku merindukan bangku kelas,
bukan pelajaran—
melainkan kehadiranmu yang sederhana.

Senin Hari pertama masuk
Upacara bendera.
Kau berdiri tegap,
dan aku mengagumimu dari barisan belakang.
Merah putih berkibar,
dan hatiku ikut berjanji untuk dewasa.

Hari-hari mulai terasa biasa.
Namun kekaguman tak pernah benar-benar hilang.
Ia hanya berubah menjadi doa yang lebih tenang.

Aku sempat ingin menyapamu.
Namun aku urungkan.
Aku takut merusak keindahan
yang selama ini tumbuh tanpa luka.
November
Ujian akhir semakin dekat.
Aku mulai memahami:
tidak semua yang indah
harus dimiliki,
sebagian cukup dikenang.

Tahun hampir usai.
Aku menutup buku, menutup kelas,
namun tak menutup ingatan.
Kau akan tetap tinggal
di satu sudut tahun 2002
yang tak pernah berdebu.

ft


Di Balik Senyum yang Tenang

Di balik senyum yang tak pernah riuh,
ada pagi yang memilih menetap.
Wajahmu seperti doa
yang diam-diam menguatkan lelah.
Balutan putih di kepalamu
menjaga cahaya tetap suci,
seolah angin pun belajar sopan
saat melintas di dekatmu.
Tatapanmu bukan janji,
namun cukup untuk membuat harap
belajar menunggu dengan sabar.
Ada keteduhan yang tak memaksa,
namun ingin selalu didekati.
Kau duduk sederhana,
namun dunia terasa lebih rapi.
Seperti cinta yang tak berisik—
hadir,
dan membuat segalanya berarti.



Doa yang Menjelma Senyum

Wajahmu tenang seperti dzikir pagi,
tak banyak kata, namun menenteramkan hati.
Hijabmu bukan sekadar kain penutup,
ia adalah penjaga cahaya dan niat yang lurus.
Senyummu sederhana,
namun di dalamnya tersimpan syukur
atas takdir yang kau terima
dengan sabar dan iman.
Aku melihatmu seperti doa
yang berjalan perlahan,
mengajarkan bahwa cinta
tak selalu tentang memiliki,
tetapi tentang menjaga dalam ridha Ilahi.
Jika kelak namamu disebut dalam doaku,
bukan untuk memaksa takdir berpihak,
melainkan agar Allah
menjagamu dalam kebaikan,
di jalan yang paling Dia cintai.
Karena cinta yang paling indah
adalah yang tumbuh dalam taat,
diam-diam berharap,
dan sepenuhnya berserah.

Jumat, 12 Desember 2025

cinta tak berujung

Cinta Tak Berujung

Aku mencintaimu
dengan cara yang tak pernah kutemukan namanya—
bukan sekadar rindu yang datang lalu pergi,
bukan sekadar mimpi yang singgah di malam hari.
Ini lebih sunyi, lebih dalam,
lebih diam dari kata “selamanya”.

Aku mencintaimu
dengan napas yang tetap mencari namamu
meski jarak sering kali menjadi dinding
dan waktu seperti menguji segalanya.
Namun hatiku tak gentar,
karena di setiap detaknya,
ada kamu… dan cerita yang tak pernah selesai.

Cinta ini tak berujung,
seperti garis panjang yang tak bisa kutemukan akhirnya.
Aku berjalan di sepanjang rindunya,
dengan langkah yang kadang goyah
namun tak pernah berhenti berharap.

Aku mencintaimu
dengan seluruh ketidakpastian dunia—
dengan luka yang pernah kubawa,
dengan harapan yang kupelihara,
dengan doa yang terus kusematkan
pada langit yang sama di atas kita.

Jika suatu hari takdir mempertemukan kita
pada jalan yang lebih lapang,
aku ingin kau tahu
betapa lama aku memeluk rasa ini
tanpa pernah meminta apa pun darimu,
kecuali kesempatan untuk terus mengenangmu.

Dan bila dunia memisahkan kita
di arah yang tak pernah kubayangkan,
cinta ini tetap tinggal,
tetap bernyala,
tetap menjadi rumah
yang tak pernah bisa roboh oleh waktu.

Karena cinta yang kurasakan padamu…
tak pernah kutujukan untuk berakhir.
Ia lahir untuk berjalan,
panjang, dalam,
dan tak berujung.

Cinta tak berujung 
Aku mencintaimu
dengan cara paling sederhana,
namun rasa ini tumbuh
seperti bunga yang tak pernah lelah mekar.
Setiap detik yang berlalu,
ada namamu,
lembut… tapi tak pernah hilang.

Aku jatuh cinta kepadamu
bukan hanya karena siapa dirimu,
tapi karena bagaimana hatiku bergetar
setiap kali mengingatmu.
Ada tenang yang tak dapat dijelaskan,
ada bahagia yang diam-diam menetap
tanpa kuundang,
tanpa kupaksa.

Cinta ini tak berujung,
karena setiap kali kusangka aku sudah jatuh terlalu dalam,
aku jatuh lagi… lebih jauh… lebih dalam…
di tempat yang hanya berisi senyummu.

Aku mencintaimu
dengan keyakinan bahwa hatimu
adalah rumah yang tak pernah kutemukan sebelumnya.
Rumah yang hangat,
yang tak pernah memintaku menjadi sempurna,
tapi membuatku ingin menjadi lebih baik.

Jika suatu hari kita berjalan berdampingan,
aku ingin kau tahu
bahwa sejak lama aku menjagamu dalam doa,
menggenggam namamu dalam harap,
dan mencintaimu dalam diam
yang tak pernah kehilangan arah.

Dan bila kau bertanya
kenapa cintaku terasa begitu dalam,
mungkin jawabannya sederhana:
Karena dari semua yang pernah singgah,
hatiku hanya memilih bertahan padamu.

Kau adalah cinta
yang tak ingin kutamatkan,
kisah yang ingin kutulis panjang,
dan rasa yang ingin tetap kurawat
hingga akhir yang tak pernah kutemukan.

Cintaku padamu…
bukan untuk berhenti,
tapi untuk terus hidup
di setiap hari yang datang.





Aku mencintaimu
seperti senja mencintai langit—
tenang, dalam, dan tak pernah usai.

Namamu adalah bisik yang menetap,
rindu yang tumbuh tanpa diminta,
dan alasan hatiku pulang
setiap kali ia lelah pada dunia.

Cintaku padamu…
singkat dalam kata,
tapi tak berujung dalam rasa.