Rabu, 31 Desember 2025

cerpn

Bangku belakang dakat Jendela
Tahun 2002.
Massa berseragam putih abu-abu,
menyimpan mimpi di saku kiri dan gugup di saku kanan.
Setiap pagi, aku duduk di bangku ketiga dari jendela.
Bukan karena strategis,
melainkan karena dari sana aku bisa melihatnya
tanpa harus menatap terlalu lama.
Ia duduk di barisan depan,
selalu rapi, selalu tenang.
Tangannya menopang pipi,
seolah dunia sekolah tak pernah terburu-buru baginya.
Senyumnya sederhana,
namun cukup untuk membuat jam pelajaran
terasa lebih pendek.
Aku tak pernah berani menyapanya.
Bukan karena tak mau,
tapi karena aku tahu:
tak semua rasa harus berubah menjadi kata.
Ada kekaguman yang cukup disimpan
di antara halaman buku dan doa pulang sekolah.
Setiap kali guru menulis di papan,
aku justru sibuk mencatat hal lain—
cara ia tersenyum,
cara ia menunduk saat membaca,
cara ia diam-diam memperbaiki kerudungnya.
Aku hanya anak SMA biasa,
belum tahu apa-apa tentang masa depan.
Namun satu hal yang aku yakini saat itu:
jika kelak aku tumbuh menjadi seseorang,
kekaguman ini akan menjadi alasan
mengapa aku belajar lebih sungguh-sungguh.
Bel sekolah berbunyi.
Kami pulang dengan arah yang berbeda.
Ia pergi tanpa menoleh,
dan aku tetap di sana—
mengemas rasa,
menyimpannya rapi,
agar tak mengganggu takdir.
Aku tak tahu ke mana hidup membawanya.
Namun di ingatanku,
ia akan selalu duduk di bangku kelas itu,
dengan senyum yang tak pernah menuntut apa pun dariku.


Aku mengagumimu
seperti murid mengagumi pagi—
diam-diam berharap,
tanpa pernah menuntut.
Di kelas sederhana itu
kau duduk tenang,
sementara hatiku
belajar ramai sendiri.
Aku tak punya keberanian,
hanya doa yang malu-malu.
Tak punya janji,
hanya harap yang kusembunyikan
di balik buku tulis.
Jika suatu hari kau bahagia,
aku ingin percaya
bahwa pernah ada seorang anak SMA
tahun dua ribu dua,
yang mengagumimu dengan cara paling sederhana:
menjaganya dalam diam.


Waktu terus berjalan sesuai kehendak Tuhan 

Pekan pertama 
Tahun ajaran baru dimulai.
Aku pertama kali melihatmu di kelas itu.
Duduk tenang, wajahmu seperti pagi yang belum disentuh bising.
Sejak hari itu, aku belajar datang lebih awal.
Bulan berikutnya 
Musim hujan sering membuat kelas lembap.
Kau tetap tersenyum kecil,
dan aku belajar bahwa keteduhan
tak selalu datang dari cuaca.
Waktu trus melaju 
Ulangan harian datang silih berganti.
Aku mulai rajin belajar,
bukan demi nilai,
tapi demi pantas duduk di kelas yang sama denganmu.
Hari silih berganti
Aku hafal caramu menunduk saat membaca.
Aku hafal jeda napasmu sebelum tersenyum.
Dan aku mulai sadar—
kekaguman bisa tumbuh tanpa harus berbicara.

Peluh dan panas membuat hari terasa panjang.
Namun melihatmu tetap rapi dan tenang
membuatku belajar:
sabar itu indah.

Empat bulan berlalu
Pembagian rapor.
Aku senang nilainya naik.
Dalam hati aku berkata:
“Terima kasih, kau tak tahu apa-apa,
tapi kau membuatku berusaha.”

Libur panjang.
Aku merindukan bangku kelas,
bukan pelajaran—
melainkan kehadiranmu yang sederhana.

Senin Hari pertama masuk
Upacara bendera.
Kau berdiri tegap,
dan aku mengagumimu dari barisan belakang.
Merah putih berkibar,
dan hatiku ikut berjanji untuk dewasa.

Hari-hari mulai terasa biasa.
Namun kekaguman tak pernah benar-benar hilang.
Ia hanya berubah menjadi doa yang lebih tenang.

Aku sempat ingin menyapamu.
Namun aku urungkan.
Aku takut merusak keindahan
yang selama ini tumbuh tanpa luka.
November
Ujian akhir semakin dekat.
Aku mulai memahami:
tidak semua yang indah
harus dimiliki,
sebagian cukup dikenang.

Tahun hampir usai.
Aku menutup buku, menutup kelas,
namun tak menutup ingatan.
Kau akan tetap tinggal
di satu sudut tahun 2002
yang tak pernah berdebu.