Aku pertama kali melihat Wida pada pagi yang sederhana—pagi yang seharusnya tak menyimpan apa pun selain rutinitas. Ia berdiri dengan tenang, senyumnya tidak berlebihan, tapi cukup untuk membuat waktu melambat sesaat. Ada keteduhan di wajahnya, seolah ia membawa damai dari tempat yang jauh.
Wida bukan tipe perempuan yang datang dengan kegaduhan. Ia hadir seperti doa yang tak diucapkan keras-keras, namun terasa. Setiap kali ia tersenyum, aku merasa sedang melihat seseorang yang sudah berdamai dengan hidupnya, meski mungkin menyimpan banyak cerita di balik diamnya.
Aku, pria biasa dengan masa lalu yang penuh keraguan, tak pernah berniat jatuh cinta lagi. Luka-luka lama membuatku belajar berhati-hati, bahkan pada harapan. Namun Wida—entah bagaimana—tidak memaksa hatiku terbuka. Ia hanya hadir, dan itu sudah cukup untuk membuat celah kecil di dinding yang selama ini kubangun.
Kami sering berbincang tentang hal-hal ringan: hujan yang datang terlalu cepat, senja yang terlalu singkat, dan mimpi-mimpi kecil yang belum berani kami sebutkan dengan lantang. Dari caranya mendengar, aku tahu Wida bukan sekadar menunggu giliran bicara. Ia benar-benar hadir, dan kehadiran itulah yang perlahan mengubahku.
Ada hari ketika aku ingin mengungkapkan segalanya—tentang kagum, tentang rindu yang tumbuh diam-diam. Namun aku memilih diam, sebab aku belajar satu hal dari Wida: tidak semua yang indah harus segera dimiliki. Ada cinta yang tumbuh dengan cara paling sopan—menunggu.
Suatu sore, ketika langit meredup dan angin membawa aroma hujan, Wida berkata pelan,
“Kadang, yang paling tulus itu tidak berisik.”
Aku tersenyum, karena saat itu aku tahu—aku sedang jatuh cinta. Bukan dengan gegap gempita, tapi dengan cara yang tenang. Seperti musim yang berganti tanpa pengumuman, seperti doa yang akhirnya menemukan jalannya sendiri.
Dan jika suatu hari takdir mempertemukan kami lagi di persimpangan waktu yang berbeda, aku ingin mengatakan satu hal pada Wida:
Terima kasih telah mengajarkanku bahwa cinta tidak selalu tentang memiliki,
kadang ia cukup hadir—dan mengubah segalanya.
Bab 2 – Jarak yang Mengajarkan Rindu
Sejak pagi itu, namanya tinggal lebih lama di kepalaku daripada yang kuinginkan.
Wida.
Nama itu sederhana, tapi entah mengapa selalu datang bersama rasa hangat yang sulit dijelaskan. Aku mulai menyadari satu hal yang menakutkan: kehadirannya pelan-pelan menjadi kebiasaan. Dan kebiasaan, sering kali, adalah awal dari rindu.
Kami tidak selalu bertemu. Bahkan lebih sering tidak. Tapi setiap kali kami berpapasan, ada jeda kecil yang tak pernah kami akui—jeda yang membuat dunia seolah menunggu kami menyelesaikan sesuatu yang belum sempat diucapkan.
Wida tetap sama: tenang, rapi dalam sikap, dan selalu membawa senyum yang tidak pernah memaksa siapa pun untuk membalasnya. Namun aku mulai melihat sesuatu yang lain—kesedihan yang ia simpan rapi, seperti rahasia yang terlalu sopan untuk dikeluarkan.
Aku ingin bertanya.
Namun aku takut menjadi terlalu jauh.
Hari-hari berlalu, dan aku mulai belajar mengenalnya dari hal-hal kecil. Dari caranya memilih kata, dari bagaimana ia menunduk sebentar sebelum tersenyum, dari diamnya yang tidak kosong. Wida mengajarkanku bahwa seseorang bisa kuat tanpa harus terlihat keras.
Suatu sore, hujan turun tanpa aba-aba. Kami berteduh di tempat yang sama, diam-diam seperti dua orang asing yang pura-pura biasa saja.
“Mas,” katanya pelan, “kalau sesuatu tidak bisa dimiliki… apa harus dilepaskan?”
Pertanyaan itu menghantamku lebih keras daripada hujan.
Aku menoleh, tapi ia menatap ke depan. Seolah pertanyaan itu bukan untuk dijawab, melainkan untuk dipahami.
“Mungkin,” jawabku akhirnya, “tidak semua harus dimiliki. Ada yang cukup dijaga… meski dari jauh.”
Ia tersenyum kecil. Senyum yang tidak sepenuhnya bahagia, tapi juga tidak sedih. Senyum orang yang sudah sering belajar ikhlas, meski hatinya lelah.
Sejak hari itu, aku mengerti: mencintai Wida bukan tentang keberanian untuk mendekat, tapi keteguhan untuk menghormati batas. Dan batas itu—anehnya—justru membuat rasa ini semakin dalam.
Aku pulang dengan langkah pelan, membawa satu kesadaran yang tak bisa kutolak lagi.
Aku mulai takut kehilangan seseorang yang belum pernah kumiliki.
Dan di situlah aku tahu…
perjalananku bersama Wida baru saja dimulai.
Bab 3 – Rahasia yang Tak Pernah Diucapkan
Ada perasaan yang tumbuh tanpa izin, lalu menetap tanpa pamit.
Begitulah rasa itu padaku—tentang Wida.
Aku mulai memperhatikan hal-hal yang tak seharusnya kuperhatikan. Cara ia berjalan ketika lelah, caranya menahan tawa agar tetap sopan, caranya menunduk saat ada sesuatu yang ingin ia katakan namun diurungkan. Semua itu menjadi bagian dari pikiranku, seperti potongan doa yang tak pernah selesai.
Namun semakin aku mengenalnya, semakin aku sadar: Wida menyimpan jarak bukan karena tidak peduli, melainkan karena terlalu peduli. Ada batas yang ia jaga dengan sangat hati-hati, seolah takut melukai siapa pun—termasuk dirinya sendiri.
Suatu hari, kami duduk bersebelahan dalam diam yang panjang. Tidak canggung, tapi juga tidak ringan. Angin sore berembus pelan, membawa aroma tanah basah.
“Aku tidak pandai bercerita,” katanya tiba-tiba.
“Tapi aku pandai menyimpan.”
Aku menoleh.
“Kadang menyimpan terlalu lama bisa membuat hati lelah,” jawabku pelan.
Ia tersenyum, kali ini lebih rapuh dari biasanya.
“Tidak semua orang siap mendengar cerita yang belum selesai.”
Kalimat itu membuatku diam. Karena aku tahu, Wida sedang berbicara tentang dirinya—tentang masa lalu yang belum benar-benar pulang, tentang harapan yang ia lipat rapi agar tak terlihat.
Saat itu, aku ingin mengatakan banyak hal. Bahwa aku ingin menjadi tempat pulangnya. Bahwa aku ingin menemaninya, bukan menyelamatkannya. Tapi kata-kata itu tertahan di dadaku. Aku takut jika keberanianku justru menjadi beban baginya.
Malam itu, aku pulang dengan satu pertanyaan yang tak henti berputar di kepala:
Apakah mencintai selalu harus diungkapkan?
Atau cukup disimpan, seperti doa yang hanya Tuhan yang tahu?
Sejak hari itu, aku memilih cara paling sunyi untuk mencintai Wida—dengan hadir tanpa menuntut, dengan peduli tanpa mengikat, dengan mendoakan tanpa berharap diketahui.
Namun aku lupa satu hal:
bahwa hati manusia tidak diciptakan untuk selamanya kuat dalam diam.
Dan suatu hari nanti, rahasia yang tak pernah diucapkan…
akan menuntut keberanian untuk memilih.
Bab 4 – Pilihan yang Tak Bisa Ditunda
Ada waktu ketika diam bukan lagi bentuk kesabaran,
melainkan ketakutan yang menyamar sebagai kebijaksanaan.
Aku sampai pada waktu itu.
Hari-hari bersama Wida tak berubah secara kasat mata. Ia tetap tenang, tetap ramah, tetap menjaga jarak yang sopan. Namun di balik itu, aku merasakan sesuatu yang bergeser—seperti tanah yang perlahan retak, menunggu hujan terakhir untuk runtuh.
Aku mulai lelah berdialog dengan diriku sendiri.
Antara bertahan dalam diam, atau jujur lalu mungkin kehilangan.
Suatu senja, langit berwarna abu-abu pucat. Kami berjalan beriringan tanpa tujuan yang jelas. Langkah kami pelan, seolah sama-sama menunggu sesuatu terjadi.
“Mas,” Wida memecah keheningan,
“kalau suatu hari seseorang memilih pergi… apakah itu berarti dia menyerah?”
Aku berhenti berjalan.
“Tidak selalu,” jawabku setelah menarik napas panjang.
“Kadang pergi adalah satu-satunya cara agar hati tidak hancur.”
Ia mengangguk pelan. Matanya tidak menatapku, tapi aku tahu ada gemetar yang sedang ia tahan.
Saat itulah aku sadar—jika aku terus diam, aku bukan sedang melindungi perasaan siapa pun. Aku hanya sedang menyelamatkan diriku sendiri dari risiko terluka.
Dan itu egois.
“Wida,” kataku akhirnya, suara ini nyaris bergetar,
“aku tidak tahu bagaimana masa depanmu. Aku juga tidak tahu apakah aku pantas ada di dalamnya.”
Ia menoleh. Untuk pertama kalinya, tidak ada senyum.
“Tapi aku tahu satu hal,” lanjutku,
“aku menyimpan perasaan yang terlalu jujur untuk terus disembunyikan.”
Angin berhenti. Dunia seolah memberi kami ruang.
“Aku tidak ingin memaksamu,” kataku pelan,
“aku hanya ingin kau tahu… ada seseorang yang memilihmu, bahkan ketika ia tahu pilihannya mungkin tidak akan dibalas.”
Wida menunduk lama. Aku melihat pundaknya naik turun, menahan sesuatu yang hampir jatuh.
“Aku takut,” katanya lirih.
“Aku takut berharap, lalu kehilangan lagi.”
Kalimat itu menghantamku lebih keras daripada penolakan.
Aku mengangguk.
“Aku juga takut. Tapi mungkin… rasa takut itu tanda bahwa hati kita masih hidup.”
Ia mengangkat wajahnya. Matanya basah, tapi jujur.
“Aku tidak bisa menjanjikan apa pun,” katanya.
“Namun aku berterima kasih… karena akhirnya kau memilih jujur.”
Senja itu tidak melahirkan jawaban.
Tidak ada kepastian.
Tidak ada janji.
Namun ada satu hal yang berubah selamanya:
kami tidak lagi berjalan dalam kebohongan yang bernama diam.
Dan aku tahu, apa pun akhirnya nanti—
aku telah memilih untuk berani.
Bab 5 – Doa yang Menentukan Takdir
Setelah senja itu, kami tidak lagi sering berbincang.
Bukan karena menjauh, tapi karena masing-masing sedang belajar berdamai dengan isi hati sendiri.
Aku membawa nama Wida ke dalam sujud-sujud yang lebih panjang dari biasanya. Untuk pertama kalinya, aku tidak meminta untuk memiliki—aku hanya meminta kejelasan. Jika ia baik untuk imanku, dekatkan. Jika tidak, kuatkan hatiku untuk mengikhlaskan.
Ternyata berdoa untuk seseorang yang kita cintai tanpa menyebut kata memiliki adalah bentuk cinta yang paling sunyi… dan paling tulus.
Wida pun berubah. Senyumnya masih ada, tapi kini disertai ketenangan baru. Seolah ia telah menyerahkan kegelisahannya kepada Yang Maha Mengetahui, lalu memilih berjalan tanpa beban berlebih.
Suatu pagi, ia mengirim pesan singkat.
“Mas, boleh kita bicara?”
Kami bertemu di tempat yang sederhana. Tidak ada hujan, tidak ada senja. Hanya siang yang jujur, seperti niat yang tak ingin lagi disamarkan.
“Aku banyak berdoa,” kata Wida pelan.
“Bukan tentang rasa… tapi tentang arah.”
Aku mengangguk. Aku tahu, percakapan ini bukan tentang cepat atau lambat, melainkan tentang kesiapan.
“Aku belajar,” lanjutnya,
“bahwa cinta yang benar tidak membuat kita lupa pada Tuhan. Justru mendekatkan.”
Dadaku terasa hangat.
“Aku tidak ingin hubungan yang hanya kuat di awal,” katanya lagi.
“Aku ingin yang tenang, yang tumbuh perlahan, yang tidak menjauhkan kita dari nilai-nilai yang kita jaga.”
Aku menatapnya dengan mata yang tak lagi ingin menyimpan apa pun.
“Kalau begitu,” kataku,
“izinkan aku mengenalmu dengan cara yang lebih benar. Tanpa tergesa. Tanpa sembunyi. Dengan niat yang jelas.”
Wida tersenyum. Senyum yang berbeda dari sebelumnya. Tidak lagi ragu, tidak lagi rapuh.
“Kita serahkan sisanya pada Tuhan,” ucapnya.
Dan saat itu aku tahu—
takdir tidak selalu datang dengan kepastian instan,
kadang ia datang lewat doa-doa yang saling menguatkan.
Kami tidak berjanji tentang selamanya.
Kami hanya sepakat tentang satu hal:
berjalan dengan niat baik, dan membiarkan Tuhan menentukan akhir terbaik.
Karena cinta yang dewasa bukan tentang saling menggenggam terlalu erat,
melainkan saling menjaga… agar tidak tersesat.
Bab 6 – Pulang pada Tenang
Waktu tidak pernah tergesa, tapi selalu tepat.
Hari-hari setelah pertemuan itu berjalan perlahan, tanpa tuntutan, tanpa kata-kata besar. Kami belajar mengenal bukan hanya kebiasaan, tapi juga nilai. Bukan hanya tawa, tapi juga cara masing-masing menghadapi lelah dan kecewa.
Wida tidak pernah meminta lebih.
Aku tidak pernah menjanjikan yang berlebihan.
Namun justru di situlah rasa aman tumbuh.
Kami berjalan berdampingan—kadang dekat, kadang memberi ruang. Tidak ada kepemilikan yang membelenggu, tidak ada rasa takut kehilangan yang berlebihan. Yang ada hanya kesadaran: jika Tuhan menakdirkan, tak satu pun bisa menghalangi.
Suatu sore, di antara langit yang cerah dan angin yang ramah, Wida berkata dengan suara yang paling jujur yang pernah kudengar darinya,
“Tenang itu bukan tanpa masalah…
tapi tahu kepada siapa kita menyerahkan segalanya.”
Aku menatapnya lama. Bukan karena ragu, tapi karena yakin.
“Aku tidak ingin mencintaimu dengan cara yang ramai,” kataku.
“Aku ingin mencintaimu dengan cara yang benar.”
Ia tersenyum—senyum yang tidak lagi bertanya, tidak lagi takut.
Kami tidak berjanji tentang dunia yang sempurna.
Kami hanya sepakat untuk pulang pada nilai yang sama,
menjaga rasa dengan doa,
dan berjalan tanpa saling melukai.
Dan aku akhirnya mengerti:
Wida bukan hadir untuk membuat hidupku berwarna,
melainkan untuk membuatnya lebih bermakna.
Jika suatu hari kisah ini berlanjut ke tahap yang lebih serius,
aku ingin memulainya bukan dengan kata cinta,
melainkan dengan niat yang lurus.
Karena cinta yang sampai tujuan
bukan yang paling keras diperjuangkan,
melainkan yang paling sabar dipantaskan.
Tamat.