Aku mencintaimu
dengan cara yang tak pernah kutemukan namanya—
bukan sekadar rindu yang datang lalu pergi,
bukan sekadar mimpi yang singgah di malam hari.
Ini lebih sunyi, lebih dalam,
lebih diam dari kata “selamanya”.
Aku mencintaimu
dengan napas yang tetap mencari namamu
meski jarak sering kali menjadi dinding
dan waktu seperti menguji segalanya.
Namun hatiku tak gentar,
karena di setiap detaknya,
ada kamu… dan cerita yang tak pernah selesai.
Cinta ini tak berujung,
seperti garis panjang yang tak bisa kutemukan akhirnya.
Aku berjalan di sepanjang rindunya,
dengan langkah yang kadang goyah
namun tak pernah berhenti berharap.
Aku mencintaimu
dengan seluruh ketidakpastian dunia—
dengan luka yang pernah kubawa,
dengan harapan yang kupelihara,
dengan doa yang terus kusematkan
pada langit yang sama di atas kita.
Jika suatu hari takdir mempertemukan kita
pada jalan yang lebih lapang,
aku ingin kau tahu
betapa lama aku memeluk rasa ini
tanpa pernah meminta apa pun darimu,
kecuali kesempatan untuk terus mengenangmu.
Dan bila dunia memisahkan kita
di arah yang tak pernah kubayangkan,
cinta ini tetap tinggal,
tetap bernyala,
tetap menjadi rumah
yang tak pernah bisa roboh oleh waktu.
Karena cinta yang kurasakan padamu…
tak pernah kutujukan untuk berakhir.
Ia lahir untuk berjalan,
panjang, dalam,
dan tak berujung.
Cinta tak berujung
Aku mencintaimu
dengan cara paling sederhana,
namun rasa ini tumbuh
seperti bunga yang tak pernah lelah mekar.
Setiap detik yang berlalu,
ada namamu,
lembut… tapi tak pernah hilang.
Aku jatuh cinta kepadamu
bukan hanya karena siapa dirimu,
tapi karena bagaimana hatiku bergetar
setiap kali mengingatmu.
Ada tenang yang tak dapat dijelaskan,
ada bahagia yang diam-diam menetap
tanpa kuundang,
tanpa kupaksa.
Cinta ini tak berujung,
karena setiap kali kusangka aku sudah jatuh terlalu dalam,
aku jatuh lagi… lebih jauh… lebih dalam…
di tempat yang hanya berisi senyummu.
Aku mencintaimu
dengan keyakinan bahwa hatimu
adalah rumah yang tak pernah kutemukan sebelumnya.
Rumah yang hangat,
yang tak pernah memintaku menjadi sempurna,
tapi membuatku ingin menjadi lebih baik.
Jika suatu hari kita berjalan berdampingan,
aku ingin kau tahu
bahwa sejak lama aku menjagamu dalam doa,
menggenggam namamu dalam harap,
dan mencintaimu dalam diam
yang tak pernah kehilangan arah.
Dan bila kau bertanya
kenapa cintaku terasa begitu dalam,
mungkin jawabannya sederhana:
Karena dari semua yang pernah singgah,
hatiku hanya memilih bertahan padamu.
Kau adalah cinta
yang tak ingin kutamatkan,
kisah yang ingin kutulis panjang,
dan rasa yang ingin tetap kurawat
hingga akhir yang tak pernah kutemukan.
Cintaku padamu…
bukan untuk berhenti,
tapi untuk terus hidup
di setiap hari yang datang.
Aku mencintaimu
seperti senja mencintai langit—
tenang, dalam, dan tak pernah usai.
Namamu adalah bisik yang menetap,
rindu yang tumbuh tanpa diminta,
dan alasan hatiku pulang
setiap kali ia lelah pada dunia.
Cintaku padamu…
singkat dalam kata,
tapi tak berujung dalam rasa.