Senin, 15 Juni 2026

kabut

Di antara kabut rindu dan kewarasan
aku berjalan tanpa tujuan.
Membawa namamu dalam diam,
seperti hujan yang jatuh tanpa pernah meminta dikenang.

Tak ada yang tahu,
betapa setiap malam menjadi medan perang,
antara ingin memeluk bayangmu
atau memaksa hati tetap berpijak pada kenyataan.

Aku mencintaimu tanpa suara,
menyimpan rasa di balik senyum yang pura-pura biasa.

Sedang di dadaku,
rindu tumbuh liar seperti ilalang
yang tak pernah sempat dipangkas waktu.
Andai saja mata mampu berkata,
mungkin kau telah mengerti
bahwa setiap tatap yang singkat
adalah doa yang diam-diam kupanjatkan.

Namun aku memilih bungkam.
Bukan karena rasa ini tak besar,
melainkan karena keberanian
sering kalah oleh ketakutan kehilangan.
Maka kubiarkan rindu menjadi kabut,
menyelimuti pagi dan menyesakkan senja.

Sementara kewarasan terus menarik tanganku,
memintaku pulang dari harapan yang tak bernama.
Barangkali begini takdirnya—
mencintai tanpa memiliki,
merindu tanpa pernah dipeluk kembali,
dan tetap tersenyum
meski hati perlahan retak oleh sepi.

Di antara kabut rindu dan kewarasan,
aku akhirnya belajar satu hal:
ada cinta yang tak ditakdirkan untuk diucapkan,
namun selamanya hidup
di ruang paling sunyi dalam jiwa.