Minggu, 03 Agustus 2025

jj

Saat Aku Mulai Mengenalmu

(Puisi tentang jatuh cinta di awal perkenalan, kelas 2 SMA)

Hari itu biasa saja…
matahari bersinar seadanya,
angin malas menyapa dedaunan,
tapi ada yang berbeda
saat kau duduk tak jauh dariku
di ruang kelas dua yang tak pernah kurindukan—
sebelum kehadiranmu.

Namamu baru sekali kudengar,
tapi entah kenapa
seolah telah lama kurindu.
Seperti lagu lama
yang tiba-tiba kembali,
dan membuat dada berdetak tanpa irama pasti.

Kau menunduk saat bicara,
tapi mata itu…
membawa tenang yang tak bisa dijelaskan
oleh rumus atau paragraf di papan tulis.

Hijabmu tak hanya menutup rambutmu,
tapi seolah menjaga cahaya
yang pelan-pelan menyilaukan hatiku
yang selama ini gelap dan sunyi.

Kita belum banyak bicara,
hanya senyum sapa
tapi dalam hati,
aku sudah mencatat setiap gerakmu
sebagai sesuatu yang tak boleh kulupa.

Dan sejak hari itu,
aku mulai menunggu pagi
dengan alasan yang tak masuk akal:
ingin melihatmu datang lebih dulu
mengisi bangku
yang tiba-tiba jadi tempat paling indah di dunia.

Aku mulai peduli pada kemeja yang kupakai,
dan mencoba menulis puisi tanpa nama,
yang diam-diam kutujukan
untukmu
yang hadir seperti pertanyaan—
yang tak ingin segera kutemukan jawabannya.


÷÷÷÷÷÷π××××××××√×××××××××

Saat Aku Pertama Kali Mengenalmu

(Romansa yang tumbuh di kelas dua SMA)

Hari itu kau datang,
seperti embun yang menetap di pagi yang malu-malu.
Langkahmu pelan,
tapi cukup untuk membuat waktu berhenti
di antara jantungku yang tiba-tiba berdetak tak beraturan.

Aku tak tahu siapa namamu,
tapi senyummu…
membuatku ingin tahu segalanya—
dari mana kamu,
hingga doa-doa yang kau bisikkan
saat langit mulai gelap.

Hijabmu jatuh indah di bahu,
menyelimuti ketenangan
yang tak pernah kudapat dari buku pelajaran.
Kau bukan hanya cantik—
tapi sejuk,
seperti hujan pertama setelah kemarau panjang.

Sejak hari itu,
aku mulai suka duduk lebih awal,
berpura-pura membaca
padahal hanya menanti hadirmu.
Kudengar suaramu saat menjawab guru,
dan entah kenapa,
rasanya seperti mendengar lagu
yang ingin kudengarkan selamanya.

Kau tidak tahu,
tapi aku mencuri pandang setiap ada kesempatan,
menyimpan senyummu
sebagai alasan aku bertahan di hari-hari sekolah
yang biasanya terasa hambar.

Rasanya aneh…
bagaimana seseorang yang baru kutahu namanya
bisa membuat segalanya berubah.
Bahkan senin pagi yang biasanya kusumpahi,
mendadak jadi hari yang paling kutunggu.

Dan sejak saat itu,
aku tak lagi percaya cinta harus rumit,
karena padamu,
aku jatuh—
dalam cara yang paling tenang,
dan paling indah.



j

Judul: Adakah Harapan untukku
(Bait kata ini bercerita tentang mencintai dalam diam, kepada gadis berhijab di SMA)

Di ujung bangku ruang dua B,
aku duduk menata kata dalam sunyi.
Tatapku tersimpan rapi di balik buku,
sementara hadirmu—
selalu menjelma doa yang tak pernah lelah kutuju.

Langkahmu tenang,
jilbabmu sederhana tapi meneduhkan,
seolah kau bawa teduhnya langit sore
yang diam-diam kurindukan
di antara tugas, absen, dan mata pelajaran.

Kau tak pernah tahu,
namamu kerap kusematkan
di bait puisi yang tak pernah kubacakan.
Sebab ku tahu,
tak semua rasa harus kau tahu.

Aku hanya remaja biasa,
yang sepatu lusuh dan kemejanya kadang tak rapi.
Yang hanya bisa menulis
bukan untuk dikagumi, tapi untuk menjaga hati
yang mulai gentar menanggung sendiri.

Aku takut—
bukan pada penolakan,
tapi pada kenyataan bahwa mungkin
kau tak pernah menoleh ke arahku,
meski aku selalu ada di barisan paling diam
saat kau tersenyum pada dunia.

Maka kupilih diam,
meski hati selalu ingin bicara.
Kupilih jarak,
karena dekat pun tak selalu membawa rasa tenang.

Tapi…
di sela sujud yang lama,
kadang aku bertanya:

Adakah harapan untukku…
yang mencintaimu tanpa pernah kau tahu?
Ataukah aku memang hanya ditakdirkan
menjadi pelengkap kisahmu
yang tak tertulis…
tapi tak pernah terlupa?


÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷√÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷

Adakah Harapan untukku

(Cinta yang kusembunyikan, di balik sunyi yang tak pernah usai)

Masih seperti biasa
kutemukan diriku tak pernah berpindah,
menatapmu dari kejauhan
dengan hati yang tak pernah tahu
bagaimana caranya berbicara.

Jilbabmu jatuh tenang di bahu,
seolah kau adalah rahasia surga
yang terlalu suci untuk disentuh
oleh jemariku yang terbiasa menulis luka
dan merangkai kata dari kehampaan.

Kau berjalan di antara ramai,
tapi dunia seketika hening bagiku.
Senyummu bukan hanya indah,
tapi juga menyakitkan—
karena tak pernah ditujukan padaku.

Aku bukan siapa-siapa…
Tak pandai bersilat lidah,
tak punya paras yang membuatmu menoleh,
hanya lelaki sunyi
yang merawat cinta di celah-celah kertas ujian
dan debu-debu papan tulis yang usang.

Berulang kali kudoakan namamu
tanpa berharap banyak bisa dekat denganmu
Kugenggam rindu
yang bahkan tak bisa kupinjamkan padamu
karena aku tahu,
di hatimu mungkin tak ada ruang
untuk orang sepertiku.

Sahabatmu bilang:
kau menginginkan yang baik,
yang taat, yang lurus jalannya.
Sementara aku masih belajar
menyatukan patah dan iman dalam satu tarikan napas,
masih tersesat
antara mencintaimu dan merelakanmu.

Terkadang aku menulis namamu
lalu menghapusnya dengan air mata.
Sebab mencintaimu dalam diam
adalah satu-satunya cara
agar aku tetap bisa melihatmu
tanpa kehilangan diriku sendiri.

Dan kini,
di malam yang panjang dan dingin,
saat dunia sudah memunggungi mimpi-mimpi,
aku bertanya lirih pada Tuhan yang Maha Tahu:

Adakah harapan untukku…?
Yang mencintaimu sepenuh hati,
namun memilih diam,
karena takut kehadiranku justru melukai sujudmu?

Jika tak ada,
biarlah namaku tak pernah kau kenang.
Asal senyummu tetap ada,
dan langkahmu tetap terjaga.
Karena cinta sejati,
kadang cukup hidup…
dalam kesendirian yang tak pernah selesai.





Sabtu, 02 Agustus 2025


"Dalam Diam, Aku Mencintaimu"

Dalam sunyi malam yang temaram,
Namamu hadir seperti nyanyian dalam hujan,
Lembut, tenang, namun menggetarkan dada,
Seolah semesta tahu, aku sedang jatuh cinta.

Matamu bukan sekadar cahaya,
Tapi pelita yang menuntunku dari gelap dunia,
Senyummu, seperti fajar pertama setelah malam panjang,
Membuat segala luka menjadi kenangan yang tenang.

Tak perlu kata, cukup tatapmu yang bicara,
Bahwa cinta tak harus lantang untuk bermakna,
Aku mencintaimu seperti angin mencintai dedaunan,
Tak terlihat, tapi selalu ada dalam setiap hembusan.

Bila esok kita tak sejalan langkah,
Biarlah puisi ini jadi saksi yang tak patah,
Bahwa pernah, dengan hati yang tak terbagi,
Aku mencintaimu—tulus, tanpa tapi.


------###$$$$(()))))(



"Semakin Kucinta, Semakin Kau Jauh"

Semakin kucinta, semakin kau menghilang,
Langkahmu menjauh, tak bisa kuhalang,
Aku diam di antara harap dan luka,
Menunggumu, meski kau tak pernah peka.

Kata-kata telah habis dalam dada,
Yang tersisa hanya tanya dan air mata,
Mengapa cinta yang kuberi sepenuh jiwa,
Tak pernah cukup untuk membuatmu percaya?

Aku tak ingin memaksamu tinggal,
Tapi hatiku terlalu dalam untuk bisa berpaling,
Mungkin aku hanya bayang yang kau singgah,
Bukan rumah yang ingin kau datangi dan tinggal lama.

Terkadang cinta itu menyakitkan,
Bukan karena tak terbalas,
Tapi karena kita terlalu berharap pada yang tak ingin tinggal.



Jumat, 01 Agustus 2025

"Joe Kecil dan Langit yang Tak Pernah Marah"

Namanya Joe. Tubuhnya kecil mungil, tak lebih tinggi dari ujung papan tulis kelas 3 SD tempat ia belajar mengeja dan menghitung. Tapi dunia tidak pernah sekecil tubuhnya. Dunia begitu luas... dan kejam.

Waktu itu, usia Joe belum genap sepuluh tahun saat rumah tangga orang tuanya runtuh seperti bangunan reyot yang roboh ditiup angin. Ayah dan ibunya berpisah. Dan sejak itu, Joe seolah ikut terbelah. Separuh dirinya hilang. Tak ada lagi tawa di meja makan, tak ada lagi kehangatan dalam peluk ibu, bahkan suara ayah pun tinggal gema samar yang tak pernah benar-benar pulang.

Hari-hari Joe berubah menjadi abu-abu. Di sekolah, ia bukan siapa-siapa—atau malah lebih buruk: ia jadi sasaran.

“Eh, itu anak yang nggak punya bapak!”
“Pasti anak nakal makanya ditinggal!”
“Jangan main sama dia, nanti jadi kayak dia!”

Ejekan itu datang silih berganti, seperti angin malam yang dingin tak henti-henti. Joe hanya bisa menunduk. Ia tak cukup besar untuk melawan. Bahkan untuk menangis pun ia sembunyikan di balik lengan seragam putihnya yang mulai lusuh.

Setiap hari ia duduk paling belakang. Teman sebangkunya berganti-ganti, tapi kebanyakan memilih pindah dengan alasan “nggak nyaman”. Guru pun sering tak peduli. Kalau nilai Joe jelek, ia dibentak. Kalau Joe tak bawa PR, langsung dihukum berdiri. 
Yah semua menganggapnya bodoh, Tak ada yang bertanya kenapa.
Sejatinya pertanyaan pertanyaan lisan guru Joe bisa jawab, tapi enggan menjawab, karena kepercayaan oranglain kepada nya udah g ada.

 
Hari demi hari sering di lalui sendirian, bermain di sawah sendirian, 

Di rumah, ibunya sibuk bekerja. Kadang pulang malam. membatu buat masak aneka jajanan ditetangga. Joe makan seadanya, kadang cuma nasi dingin dengan garam bersama kakak dan adik nya. Ia tidur sendirian, menatap atap yang retak, berharap langit malam sudi mendengar isi hatinya.

Tapi langit tak pernah marah.

Itulah satu-satunya hal yang membuat Joe betah memandang malam. Di saat semua orang mencibir dan mencaci, langit tetap membentangkan bintang. Tak pernah menyindir. Tak pernah menghakimi. Bahkan saat ia menangis diam-diam, langit seolah berkata: "Tak apa, Joe... semua akan berlalu."

Namun luka yang tertanam sejak kecil, tak mudah sembuh.
Bahkan dalam benak nya ingin membalas dengan cara yg extreme 

Dalam diam, Joe menyimpan dendam. Ia membenci dunia. Ia mencoret semua rasa sakitnya dalam buku tulis bergambar kartun. Bukan puisi, bukan cerita—tapi potongan-potongan doa dan amarah. Kadang ia terbesit motivasi diri:
"Aku akan buktikan aku bisa. Tapi aku tidak akan memaafkan mereka."

Tahun demi tahun berlalu. Tapi kisah ini belum sampai akhir. Sebab Joe masih kecil, dan masa depannya masih jauh. Tapi satu hal pasti: di dalam dirinya tumbuh sebuah tekad. Tekad untuk menjadi lebih dari sekadar korban. Untuk tak lagi jadi lelucon di mata teman-teman.

Joe tahu, hidup tak adil. Tapi dia juga tahu, orang-orang kuat lahir dari luka yang dalam.

Dan langit malam masih tetap tak marah.



Joe Kecil dan Langit yang Mulai Cerah (Bagian 2 – Masa SMP)

Hidup kadang seperti alur sungai, mengalir ke arah yang tak bisa ditebak. Setelah lulus SD, Joe tak langsung bisa masuk SMP. Ibunya yang bekerja siang malam, akhirnya menyerah.

“Maaf, Nak… Ibu belum mampu,” katanya sambil menggenggam tangan Joe yang mulai kasar karena sering bantu angkat galon dan menyapu di rumah tetangga.

Hari-hari berlalu dalam penantian. Namun takdir memberi jalan lain. Suatu malam, ayah Joe datang. Membawa tawaran yang terdengar seperti pilihan yang tak bisa ditolak: tinggal bersamanya dan istri barunya.

Joe tak langsung menjawab. Hatinya penuh luka dan keraguan. Tapi ia tahu satu hal—ia ingin sekolah. Ia ingin membuktikan bahwa dirinya tak bodoh, tak hina seperti kata guru dan teman-temannya dulu. Maka ia mengangguk, meski dengan perasaan yang getir.


---

Masa baru, rasa lama

Rumah ayahnya tak besar, tapi cukup layak. Ibu tiri Joe tidak kasar, tapi dingin. Semua serba canggung. Ia diperlakukan seperti “anak tamu”. Makan terakhir, cuci piring sendiri, dan kalau bisa jangan banyak bicara.

Meski begitu, Joe tidak melawan. Ia tahu betul: hidup bukan tempat minta dimanja. Ia telan semua rasa tidak nyaman itu dengan kepala tertunduk, tapi hati tegak. Dalam diamnya, tumbuh sebatang keyakinan: “Aku akan berubah. Aku akan tumbuh.”

Saat masuk SMP, dunia Joe sedikit berbeda. Tak ada lagi ejekan "anak dari keluarga berantakan", sebab tak banyak yang tahu masa lalunya. Ia mulai dari nol. Kali ini, ia berjanji: jangan biarkan masa lalu merusak masa depan.

Teman-temannya di SMP lebih ramah. Tak semua baik, tapi setidaknya tak ada yang melempar kertas ke kepalanya atau mencoret-coret bukunya. Ia mulai bisa tersenyum, meski tipis. Ia duduk di bangku tengah, bukan di pojok sendirian lagi.

Di kelas, Joe bukan anak terpintar. Tapi ia bukan anak paling bodoh juga. Ia belajar diam-diam, lebih keras dari yang lain. Ia rela bangun lebih pagi, tidur lebih larut. Ia ulang materi pelajaran sendiri, kadang sambil mencatat pakai buku sisa SD.

Dan hasilnya mulai terlihat.

Namanya sering muncul di lima besar. Bahkan guru-guru mulai melirik, "Eh, kamu pintar juga ya, Joe."

Tapi Joe hanya tersenyum kecil. Ia tidak haus pujian. Ia hanya ingin satu hal: harga diri. Ia ingin membuktikan pada semua yang pernah mencibir, bahwa ia bukan sampah seperti yang dulu sering mereka tuduhkan.

Di perpustakaan, ia mulai mengenal buku. Di buku, ia temukan dunia yang tidak pernah menyalahkan siapa orang tuamu. Dunia yang tak peduli siapa ibumu, siapa ayahmu. Dunia yang hanya peduli: maukah kamu belajar?



antara reruntuhan dan rahasia

Antara Reruntuhan dan Rahasia

Aku lahir dari retaknya dinding rumah,
Cibiran, hinaan jadi memori lagu nina bobo yang membekas,
Meja makan jadi arena diam dan dingin,
Ayah dan Ibu, dua kutub yang tak saling sapa lagi.

Ada yang bilang: “Kamu anak rusak, buah dari luka,”
Dan masyarakat pun percaya, tanpa tanya,
Tatapan mereka tajam seperti pisau dapur,
Mengiris harga diriku tiap kali aku melangkah keluar.

Ragaku yang mungil seakan selalu di sambar petir
Di sekolah dasar tiap hari jadi ejekan dan bulian
aku yang selalu merasa lelah dengan hidup ini
Karena canda teman kadang menyimpan hina,
“Ayahmu ke mana? Kenapa ibumu menangis lagi?”
Pertanyaan kecil yang menghantam seperti badai.

Aku tumbuh dengan suara-suara miring di telinga,
Dibilang tak layak bermimpi, apalagi mencinta.
Hatiku penuh puing harapan yang nyaris jadi abu,

Tapi entah mengapa, namamu hadir seperti cahaya di celah ragu.
Di kelas 2 SMA ku melihatmu,
Seakan runtuh semua kisah piluku

Kau wanita berhijab, senyummu tenang seperti subuh,
Kau tidak tahu, setiap langkahmu adalah puisi bagiku,
Namun aku diam… karena siapa aku?
Anak pecahan rumah, yang dianggap aib oleh dunia.

Aku takut mendekat, bukan karena tak cinta,
Tapi karena aku tahu, masyarakat punya taring yang bisa melukaimu.
Jika kau bersamaku, mereka akan menatapmu seperti mereka menatapku,
Dan aku tak ingin lukaku jadi alasan lukamu.

Pernah kutulis surat, panjang, jujur, dan hancur,
Kutulis semua tentang aku, tentang luka yang tak bisa sembuh,
Tentang malam-malam yang kulewati tanpa cahaya,
Tentang perasaan yang kusembunyikan dalam doa.

Tapi surat itu tak pernah terkirim.
Aku lipat, aku simpan, aku kubur dalam buku puisi,
Karena cinta tak cukup hanya dengan rasa,
Kadang dunia menuntut nama baik, keluarga, dan silsilah.

Hari-hari berlalu, dan kau kian jauh,
Mungkin kau tak pernah tahu,
Bahwa di antara mereka yang diam di pojok kelas,
Ada seorang lelaki rapuh yang mencintaimu tanpa suara.

Kini aku dewasa, luka-luka itu jadi bagian dari dagingku,
Masyarakat tetap sama, hanya bajunya yang berbeda,
Namun aku belajar,
Bahwa diam pun bisa jadi bentuk cinta yang paling jujur.

Dan jika kelak Tuhan memberiku kesempatan,
Aku ingin mencintaimu tanpa rasa takut,
Bukan lagi sebagai anak dari rumah yang runtuh,
Tapi sebagai lelaki yang berani berdiri—
meski dunia tetap ingin menjatuhkannya.

semakin ku menjauh

Semakin Mencintai, Semakin Menjauh

Semakin aku mencintai,
semakin kutarik langkahku menjauh.
Bukan karena ragu,
tapi karena takut,
takut kenyataan mengubur harapan,
takut kau tak pernah mau menerima.

Kupendam rindu dalam diam,
bagai hujan yang enggan jatuh
karena tahu tanah tak lagi menyambutnya.
Kupilih sepi,
agar tak perlu melihatmu pergi
karena cinta yang tak kau pinta.

Aku hanya ingin mencintai,
tanpa harus menggenggam.
Aku hanya ingin menyayang,
tanpa perlu menuntut pulang.
Sebab bila kuungkap semua rasa,
aku takut yang kudapat
hanyalah luka.

Biarlah aku menjadi bayangan
yang setia menatapmu dari jauh,
daripada menjadi seseorang
yang kau usir dari hidupmu karena jujur.
Karena mencintaimu…
adalah kebahagiaan yang kupeluk,
meski tak pernah bisa kugenggam.

rangkaian


"Lidah yang Tak Juga Berani"

Aku menulis namamu di benakku,
setiap malam, dalam hening yang tanpa suara,
bukan sekadar untuk mengenang—
tapi karena aku tak tahu
harus ke mana lagi menyimpan rindu.

Kau tahu,
aku sering menyapamu dalam doa yang paling diam,
bukan karena tak ingin kau tahu,
melainkan karena aku takut…
jika kata-kata justru menjauhkan kita.

Cintaku ini seperti hujan bulan Juni,
datang pelan, tak ingin mengganggu,
tapi selalu menetap lebih lama dari yang seharusnya.
Ia meresap perlahan,
hingga aku sendiri tak sadar
seberapa dalam aku telah tenggelam.

Sering kali aku ingin bicara,
ingin menyusun kalimat yang tepat
agar kau tahu:
aku menyayangimu bukan karena apa pun yang kau miliki,
tapi karena kehadiranmu,
yang selalu membuat dunia terasa kurang
jika tanpamu.

Namun lidahku kelu,
tak sanggup menghadapi kemungkinan kehilangan.
Karena kadang,
mengungkapkan cinta berarti siap
untuk tidak dicintai kembali.

Dan aku belum siap.
Belum siap melihat matamu menjauh,
senyummu mengeras,
dan langkahmu menjadi lebih cepat
saat aku lewat.

Jadi biarlah,
biar aku tetap diam,
biar aku mencintaimu dalam doa yang rahasia,
biar aku menuliskan puisi ini berkali-kali
tanpa pernah mengirimkannya padamu.

Karena mencintaimu dari jauh,
membiarkanmu tetap bahagia dengan caramu,
itu adalah bentuk cintaku yang paling dalam,
dan barangkali…
yang paling tulus.

_____&&&&________&&&&_______________&_
================{{{{==============={

Dalam Diam yang Tak Sempat Tiba"


kau mungkin tak pernah tahu,
betapa namamu adalah doa yang paling sering kusebut,
meski tak pernah terucap dalam percakapan nyata.
Aku menjaganya—seperti rahasia
yang terlalu indah untuk disampaikan,
dan terlalu rapuh untuk diuji kenyataan.

Aku pernah duduk di bangku itu,
beberapa langkah darimu,
mendengar tawamu,
melihat matamu menari saat membaca sesuatu yang kau suka.
Dan entah sejak kapan,
segala hal yang biasa
jadi luar biasa hanya karena kau di sana.


aku ingin mengatakan betapa aku menyayangimu
bukan karena sekadar kagum,
tapi karena ada sesuatu dalam dirimu
yang membuat dunia seolah berhenti,
setiap kali aku melihatmu diam-diam.

Tapi aku ragu.
Karena semakin aku mencintaimu,
semakin aku takut kehilanganmu.
Semakin aku ingin bicara,
semakin bibirku terkunci oleh kemungkinan:
bagaimana jika perasaanku justru merusak segalanya?

Maka kutulis saja puisi demi puisi,
kutitipkan rinduku pada salam radio yang tak pernah kusebutkan namamu,
kubiarkan waktu berjalan—dengan harapan dan khawatir yang saling mendekap.
Karena jika aku menyatakan cinta ini
dan kau berpaling...
apa yang tersisa dariku, selain penyesalan?


kau mungkin hanya melihatku
sebagai teman sekelas yang suka melucu,
yang bajunya sesuka hati,
yang duduk di pojok dan sibuk menulis entah apa.
Tapi diam-diam,
puisi-puisi itu semua tentangmu.

Perasaan ini, 
bukan cinta yang berani tampil di depan kelas,
bukan cinta yang mengirim bunga atau pesan terang-terangan.
Ia adalah cinta yang memeluk dari jauh,
yang berani setia meski tak pernah digenggam,
yang tetap menunggu…
meski tak pernah dijemput harapan.

Dan andai suatu hari kau membaca ini,
mungkin setelah bertahun-tahun,
aku hanya ingin kau tahu:
bahwa pernah ada seorang laki-laki
yang mencintaimu begitu dalam…
hingga ia memilih diam,
karena takut kehilangan
meski tak pernah benar-benar memiliki.