Selasa, 05 Agustus 2025

vz




Menjauh Tanpa Pergi

Aku semakin menjauh
saat banyak mata mulai tahu
bahwa hatiku diam-diam tumbuh
untukmu, yang tak pernah menolehku.

Bukan karena rasa ini pudar,
bukan karena lelah berharap,
tapi karena aku tahu
kamu tak punya ruang untukku
di sela harimu yang terang.

Aku menjauh bukan untuk pergi,
tapi agar aku bisa tetap mencintaimu
dalam diam yang tak mengganggu,
dalam jarak yang tak menyakitimu.

Karena mencintaimu,
adalah tentang menjaga,
meski hanya dari kejauhan
tanpa perlu kau merasa terbebani.

Aku menjauh,
saat mereka mulai tahu
aku menyukaimu.

Bukan takut,
tapi sadar —
kau tak menyimpan rasa yang sama.

Aku tak ingin jadi luka,
cukup jadi bayang
yang diam-diam menjagamu
dari jarak
yang tak pernah menyakitimu.



diam




Untukmu, Dalam Diam"

Kau tak perlu tahu siapa yang menulis ini.
Dan aku takkan memaksamu menebak.
Tapi izinkan aku bercerita,
tentang rasa yang tumbuh tanpa pernah bersuara.

Aku mengagumimu.
Bukan dalam teriakan,
bukan dalam tatapan tajam yang menuntut balas,
tapi dalam diam,
dalam sunyi yang hanya bisa kutuliskan.

Ada bahagia saat melihatmu dari jauh,
sederhana, tapi nyata.
Seperti pagi yang selalu kembali,
meski tak pernah kumiliki malamnya.

Tapi, jujur, aku juga merindukanmu.
Meski tak pernah benar-benar bersamamu.
Aneh, ya? Merindukan seseorang
yang mungkin tak pernah menyadari keberadaanku.

Sedih? Tentu.
Kadang aku bertanya,
kenapa rasa ini datang tanpa permisi,
lalu tinggal, tanpa pernah bisa kuusir.

Namun, aku tak menyesal.
Karena lewat rasa ini,
aku belajar mencintai tanpa harus memiliki.
Dan lewat puisi ini,
aku bisa jujur — meski tak pernah kau dengar.

Jadi, jika suatu hari
kau membaca bait yang terasa dekat di hatimu,
dan bertanya dalam hati,
"Apakah ini tentangku?"

Tersenyumlah.
Karena jawabannya:
ya.

+++++++++++++++++++++


Sebuah Surat yang Tak Pernah Kukirim"

(Ditulis dalam diam, untukmu yang tak tahu)


Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh 
Kepada kamu yang di seberang Bengawan.
yang mungkin tak pernah tahu namaku,
tapi selalu berhasil membuat dadaku hangat
hanya dengan satu senyuman kecilmu.

Aku menulis ini, bukan untuk dibaca.
Aku menulis ini, karena lisanku terlalu gugup,
terlalu takut merusak apa yang indah
meski hanya dari kejauhan.

Tahukah kamu?
Ada bahagia setiap kali aku melihatmu,
bahagia yang datang tanpa alasan,
seperti matahari yang terbit tanpa diminta.

Tapi juga ada rindu,
rindu yang tumbuh bahkan tanpa pernah dekat.
Aneh, ya?
Bagaimana aku bisa merindukan
tatapan yang tak pernah ditujukan padaku.

Dan tentu saja,
ada sedih.
Sedih karena aku hanya berani menulismu,
tak pernah benar-benar memilikimu
atau sekadar menyapamu.

Tapi jangan salah.
Aku tidak menyesal.
Karena mencintaimu dalam diam
adalah caraku mencintai dengan tulus.

Lewat surat ini, lewat bait-bait ini,
aku hadir — meski tak terlihat,
aku bicara — meski tak terdengar.

Jadi, jika suatu hari kau menemukan surat tanpa nama,
dengan kata-kata yang terasa terlalu dekat,
anggap saja itu hadiah kecil
dari seseorang
yang diam-diam
selalu menjagamu dalam doanya.

Salam hangat,
dari aku,
yang mengagumimu
lewat puisi dan diam


zzb





Tanpa Suara,

Tak perlu aku ungkapkan dengan lisanku,
kalau aku mengagumimu —
cukup lewat bait-bait sunyi ini,
yang lahir dari hati, tanpa perlu diminta.

Aku pandangmu dari kejauhan,
seperti langit menatap laut,
tak bersentuhan, namun saling tahu,
bahwa ada rasa yang tak butuh pengakuan.

Kau takkan pernah mendengar bisikku,
tapi semoga kau membaca rasa ini
di setiap jeda kata,
di setiap diam yang menyimpan makna.

Aku menulismu dalam diamku,
dengan tinta kekaguman yang tak lekang,
sebab kadang perasaan paling tulus,
hanya ingin hadir — bukan dimiliki.
Karena terlalu liar fantasi untuk memiliki,
Kunikmati pertemuan dan perjalan ini.

Kau terlukis Tanpa Suara"
Tak perlu aku ungkapkan dengan lisanku,
kalau aku mengagumimu,
cukup lewat bait  ini
yang ku rajut dari helai-helai rasa.

Kau adalah hujan pertama setelah kemarau,
mendinginkan, menyentuh, tapi tak membasahi terlalu dalam.
Aku menatapmu seperti senja —
tak pernah lama, tapi selalu ditunggu.

Rasaku tak ingin gaduh,
hanya ingin menjadi lagu latar
yang menemani langkahmu
meski kau tak sadar aku ada

"Tak Terucap,
Tak perlu aku ungkapkan dengan lisanku,
kalau aku mengagumimu.
Bukan karena aku takut,
tapi karena aku tahu — ini bukan untuk dimiliki.
Karena aku takut kehilangan bila di ucapkan

Aku menyimpanmu seperti syair lama,
yang dibaca diam-diam saat rindu datang.
Kau tak perlu tahu siapa aku
seperti angin tak perlu tahu siapa yang dihembus.

Aku mengagumimu bukan karena ingin,
tapi karena kau layak untuk dikagumi,
meski bukan olehku —
meski hanya dari jauh,
meski hanya sebatas diam

Tanpa Suara
Tak perlu aku bilang,
aku mengagumimu.

Cukup baris kata ini,
cukup satu pandang
yang selalu aku curi
saat kau tak sadar.

Tak usah tanya kenapa,
karena kadang rasa
cukup ada —
tanpa harus punya.





"Kulukiskan dalam Bait"

Meski ku bukan pujangga
Bukan seorang sastra
Aku coba lukiskan dirimu 
dalam bait-bait tulisanku,
Dengan tinta rindu dan kertas waktu.
Setiap kata adalah garis wajahmu,
Setiap jeda adalah tatap matamu.

Dalam larik sunyi kutemukan senyummu,
Mengalir lembut seperti senandung senja.
Tak perlu kanvas, tak perlu warna,
Sebab puisiku cukup menampung pesonamu yang nyata.

Kau hadir sebagai metafora paling indah,
Dalam tiap bait yang enggan aku akhiri.
Bahkan diam pun kutulis tentangmu,
Agar kau abadi, meski hanya dalam tulisan tak bermakna ini.

Aku lukiskan dirimu dalam bait-bait tulisanku
Sebab matamu terlalu indah untuk hanya dikenang.
Setiap senyum yang pernah kautitip di pagi,
Menjadi sajak yang tak pernah habis kuhafal.

Kau adalah alasan huruf-hurufku menari,
Adalah nada dari sunyi yang jadi harmoni.
Dalam tiap tulisan ini, aku mengabadikanmu diam-diam,
Agar cinta ini tak lenyap ditelan malam.


Aku lukiskan dirimu dalam bait-bait tulisanku
Karena hanya pena yang tak pernah meninggalkanku.
Ku tak bisa terlalu dekat denganmu, namun namamu tetap tinggal di dekatku.
Dalam tiap sajak yang kutulis tanpa suara.

Kau tak tahu, setiap huruf ini adalah air mata,dari gejolak rindu dan mengagumi
Yang mengering menjadi rima dan jeda.
Meski kau tak akan pernah membaca,
Aku terus menulis, agar rasa ini tak sia-sia

Aku lukiskan dirimu dalam bait-bait tulisanku
Karena manusia tak bisa benar-benar mengerti sesamanya,
Tapi dalam huruf hurufku, aku bisa mendekap bayangmu
Lebih dekat dari tubuh, lebih jujur dari kata-kata.

Kau bukan hanya inspirasi,
Kau adalah pertanyaan yang tak pernah selesai kutulis.
Di antara metafora dan irama,
Dirimu hidup sebagai makna yang tak mudah diurai.
Terimakasih tuhan
Terimakasih yang di sana








Cahaya Fajar”

Di bawah mentari yang mulai menyapa,
Ia berjalan dengan langkah bersahaja.
Hijabnya melambai pelan tertiup angin,
Menutup anggun, menjaga yang paling berharga.

Bukan sekadar kain di atas kepala,
Tapi janji pada Tuhan yang ia jaga.
Dalam diam, ia serupa doa yang hidup,
Lembut tutur, namun teguh sikap.

Tatap matanya bening, penuh makna,
Seolah membawa damai bagi siapa yang memandang.
Ia bukan sekadar rupa,
Namun akhlak yang memancar terang.

Bukan dunia yang ia kejar semata,
Tapi ridha Ilahi yang jadi tujuannya.
Gadis berhijab, bagaikan cahaya fajar,
Sederhana… namun menyejukkan saba

,-------------++++(---------+--+---------


“Pesona di Balik Hijab”

Ada yang indah tak perlu disingkap,
Cukup dilihat dengan mata hati yang menangkap.
Bukan wajah yang ia pamerkan,
Tapi ketulusan yang ia tanamkan.

Hijabnya bukan batas, tapi jembatan,
Antara cinta dan kehormatan.
Kau takkan temukan pesona semacam ini,
Pada kecantikan yang hanya sebatas kulit dan diri.

Ia lembut tapi tak mudah digoda,
Kuat namun tetap setia menjaga.
Dan aku jatuh… bukan pada rupa,
Tapi pada cara ia mencinta Tuhan lebih dulu daripada siapa-siapa.
Ia bukan hanya perempuan biasa,
Tapi penjaga kehormatan dalam balutan surga.
Hijab di kepalanya bukan beban,
Melainkan bukti iman yang tak bisa dibantah zaman.

Langkahnya ringan namun berarti,
Menapaki dunia tanpa henti mencari ridha Ilahi.
Bicaranya sopan, wajahnya teduh,
Seperti ayat-ayat yang diturunkan penuh berkah dan sejuk.

Ia tahu dunia fana dan singkat,
Maka ia pilih jalan yang lebih selamat.
Hijabnya adalah mahkota taat,
Yang membuatnya terhormat… dan selamat.
Jangan kira hijab itu lemah,
Ia adalah tanda keberanian yang tak mudah patah.
Saat dunia bicara soal bebas,
Ia memilih tunduk, dan itu lebih tegas.

Dikatakan kolot, ia tetap berdiri,
Diolok, diremehkan—ia tak lari.
Sebab ia tahu, hijab bukan hanya kain,
Tapi perlawanan terhadap arus dunia yang makin memprihatinkan.

Ia bukan tunduk karena takut,
Tapi karena cinta, ia kuat dan sanggup.
Gadis berhijab—pejuang sunyi dalam damai,
Yang menang… tanpa harus melawan dengan amarah yang ramai.


---



Senin, 04 Agustus 2025

Apakah Salah Aku Mengagumimu

Apakah salah aku mengagumimu,
Saat langkahmu saja bisa membuatku diam membeku?
Tatapanmu tenang, sederhana seperti senja,
Namun cukup membuat jantungku tak tahu cara bersikap biasa.

Apakah salah aku menyebut namamu dalam doa,
Meski kau tak pernah tahu, tak pernah menduga?
Aku bukan pujangga yang berani bicara terang-terangan,
Hanya bayangmu yang kutulis dalam diam, di tiap harapan.

Aku tak ingin merepotkan, tak ingin kau tahu,
Hanya mengagumi — itu pun sudah membuat hatiku penuh.
Menatapmu dari kejauhan seperti bintang di langit kelam,
Terangmu cukup, walau tak pernah bisa kugenggam.

Bukan cinta yang kupinta, bukan balasan rasa,
Hanya izinkan aku tetap begini — meski tanpa kata.
Karena meski tak punya hak atas hatimu,
Aku tetap bertanya...
Apakah salah aku mengagumimu?


----------------------------63------------------

"Menjelang Kembali"

Hari-hari sunyi hampir selesai,
lonceng waktu sebentar lagi berdentang,
liburan yang dulu terasa panjang,
kini mendadak terasa terlalu singkat.

Ada rindu yang ingin segera disapa,
ada senyum yang diam-diam kutunggu di kelas,
entah kamu masih sama seperti dulu,
atau telah berubah seperti musim yang tak bisa diprediksi.

Di pengujung liburan, aku menulis ini—
bukan sekadar syair pengisi waktu,
tapi semacam doa yang kusematkan diam-diam:
semoga kau duduk tak terlalu jauh dariku nanti.
Semoga mata kita bertemu,
dan aku punya cukup nyali untuk bilang:
aku pernah merindukanmu… saat kita jauh.

Ah, sekolah sebentar lagi dimulai,
buku dan seragam siap menari,
tapi hatiku?
Masih sibuk memutar ulang kenangan,
tentang seseorang…
yang kutunggu, dan mungkin tak tahu.


---





"Libur Panjang, Rindu yang Panjang"

Libur tiba
kelas sunyi tinggal kenangan,
bangku-bangku saksi tatapku yang tak pernah kau tanggapi.
Papan tulis pun kini tak menulis harapanku lagi,
hanya dinding kamar yang mendengar
namamu kusebut dalam diam saban malam.

Kemarin aku melihatmu tertawa,
di ujung lorong sekolah, dekat halaman sekolah
Tapi aku tak berani menyapa,
karena aku cuma bayangan
yang kau lewati tanpa sengaja.

Kini waktu berjalan lambat,
seperti detik-detik yang enggan mengucap selamat tinggal.
Pagi tanpa senyummu terasa hampa,
siang tak lagi punya semangat,
dan malam hanya berisi tanya—
sedang apa kau sekarang?
Apakah kau merindukan seseorang… selain aku?

Aku mencintaimu
dengan cara yang tak kau tahu,
dengan rindu yang tak pernah bertanya pulang.
Dan di libur panjang ini,
aku menunggumu…
bukan untuk datang,
tapi untuk sekadar muncul dalam mimpiku.

######_______######-----++++



Untuk kamu, yang diam-diam selalu aku tunggu,

Liburan panjang ini seharusnya menyenangkan,
tapi entah kenapa, hari-hariku terasa kosong.
Bukan karena tak ada tempat untuk dikunjungi,
bukan karena hujan yang terlalu sering turun,
tapi karena tidak ada kamu di antaranya.

Aku rindu…
rindu suasana kelas saat kamu tertawa pelan,
rindu cara kamu menjawab pertanyaan guru dengan tenang,
dan rindu ketika mataku tanpa sengaja menemukanmu di tengah keramaian.

Lucu, ya?
Aku bahkan tidak yakin kamu tahu aku ada.
Aku cuma seorang teman sekelas yang terlalu pandai menyembunyikan perasaan,
dan terlalu takut merusak apa pun yang sudah baik-baik saja.

Tiap malam aku sering bertanya sendiri,
apa kabarmu hari ini?
Apakah kamu bahagia?
Apakah kamu pernah merindukan seseorang yang tak pernah kamu sadari hadirnya?

Jujur, aku tak berharap lebih.
Aku tahu cinta dalam diam itu tidak selalu butuh jawaban.
Tapi di liburan yang panjang ini,
aku hanya ingin kau tahu—
ada seseorang yang selalu mengingatmu,
meski hanya dalam sepi dan doa-doa lirihnya.

Jaga dirimu, ya.
Kalau suatu hari kamu membaca tulisan ini—entah kapan, entah bagaimana—
aku harap kamu tidak menjauh.
Aku hanya ingin kamu tahu,
bahwa pernah ada yang mencintaimu…
dalam diam, dengan tulus.

Dari aku,
yang tak pernah punya cukup keberanian untuk menyapamu duluan.


___________(((())))___________{{{{}}}



Untuk W, yang selalu diam-diam kurindukan,

Liburan ini sunyi,…
lebih sunyi dari biasanya,
karena tak ada lagi alasan bagiku untuk melihatmu meski hanya sekilas,
tak ada senyummu yang secara tak sengaja tertangkap di sela-sela lelah sekolah.

Aku pikir, aku akan menikmati waktu luang,
tidur lebih lama, main lebih bebas,
tapi ternyata—aku justru terjebak dalam ruang kosong bernama rindu.
Dan rindu itu… hanya tentang kamu.

aku nggak pernah berani bicara langsung,
nggak pernah cukup percaya diri untuk bilang,
bahwa sejak pertama kita sekelas,
aku sudah menyimpan rasa—yang makin hari makin dalam.
Aku ingat semua detil kecil tentangmu,
padahal kamu bahkan mungkin lupa namaku.

Lucu ya,
cinta bisa sesunyi ini.

Aku cuma ingin kamu tahu,
di balik diamku yang kelihatan biasa-biasa saja,
ada rasa yang tumbuh setiap kali kamu lewat di depanku,
dan ada doa yang aku bisikkan,
semoga kamu selalu bahagia… meski bukan denganku.

Liburan ini terasa panjang sekali,
karena aku nggak bisa lihat kamu,
nggak bisa duduk diam di kelas sambil pura-pura belajar padahal hanya mencuri pandang.

Kalau suatu saat kamu baca tulisan ini, entah kapan atau entah bagaimana caranya,
aku cuma mau kamu tahu satu hal:
kamu pernah sangat berarti, bahkan tanpa kamu sadari.

Jaga dirimu .
Kalau nanti kita kembali ke sekolah…
aku mungkin masih tetap diam,
tapi rasaku masih tetap sama—tulus, dan tak berharap lebih.

Dari seseorang yang diam-diam menyebut namamu dalam setiap rindu.